The Incredible Journey: Perjalanan Pulang

Januari 07, 2025

 


Sebuah narasi klasik tentang ketangguhan insting dan ikatan tanpa syarat para binatang

•••

Identitas buku:

Judul: The Incredible Journey: Perjalanan Pulang

Penulis: Sheila Burnford

Penerbit: GPU

Tahun: Cetakan kedua: 2019

Jumlah: 144 halaman

ISBN: 9789792281712

Kategori: fiksi, petualangan, keluarga, animal


•••

⭐⭐⭐⭐/5


Blurbnya:

Luath, anjing Labrador muda bermata coklat. Tao, si kucing Siam yang cantik dan Bodger, anjing Bull Terrier yang sudah tua dan mata kirinya nyaris buta.


Ketiga sahabat ini melintasi hutan belantara dan berjuang mencari jalan pulang kepada orang-orang yang mereka cintai. Luath yang setia dan pemberani selalu berjalan di sisi kiri Bodger untuk memandunya. Bodger sangat menyukai manusia, terutama anak-anak, dan meski sudah tua, dia masih tetap anjing petarung yang tak kenal takut. Sedangkan Tao, meski bisa bertahan hidup sendiri, dia tak mau meninggalkan kedua anjing itu dan kehadirannya sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.


Kisah klasik tentang kesetiaan dan persahabatan yang telah difilmkan dengan judul Homeward Bound: The Incredible Journey.


•••


Garis besarnya:

Jim Hunter, pemilik sesungguhnya ketiga binatang menitipkan sementara waktu peliharaannya kepada sahabat semasa kuliah, John Longride, karena pekerjaan. Suatu hari, John bermaksud pergi mengunjungi saudaranya selama dua-tiga minggu di Danau Heron, berjarak 320 kilometer dari tempat tinggalnya. Karena tidak memungkinkan membawa serta para binatang, dia pun menitipkan kepada pengurus rumahnya, Mrs. Oakes,


Sesaat sebelum kepergiannya, John meninggalkan pesan dalam memo untuk Mrs. Oakes. Sayangnya, pesan tersebut tersenggol Tao hingga terjatuh dan terbakar di perapian. Tanpa mengetahui catatan secara lengkap membuat Mrs. Oakes berkesimpulan jika John membawa serta ketiganya. Namun yang sesungguhnya, setelah John pergi, para binatang juga ikut keluar melewati pintu dapur yang sengaja tidak dikunci oleh laki-laki tersebut–dirinya mengira ketiga peliharaan tersebut tidak akan pergi terlalu jauh melebih padang-padang di sebelah rumahnya–dan meninggalkan rumah.


Ketiga binatang itu melakukan satu perjalanan bersama-sama, tetapi bukan menyusul ke Danau Heron, melainkan ke arah lainnya, yakni ke rumah Jim Hunter yang berjarak 480 kilometer dari rumah John. 


Dua ekor anjing anjing dan seekor kucing itu berkelana menjelajahi alam bebas bermodalkan insting demi kembali pulang ke rumah.


•••


Resensinya:

Seseorang bertanya saat mengetahui saya menyukai–dan memelihara banyak–kucing: buku tentang binatang yang saya miliki apa saja? Selain komik–saya menyebutkan beberapa judul–saya menjawab Animal Farm (Resensinya bisa dibaca di sini) dan Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang (resensinya di sini). Beliau lantas merekomendasikan buku ini kepada saya, katanya–dengan sangat yakin saat itu–saya pasti terharu dan berkaca-kaca. Karena halamannya tidak terlampau banyak, saya pun merampungkan The Incredible Journey dalam sekejap.


The Incredible Journey merupakan novel klasik karya Sheila Burnford. Buku tersebut juga telah diadaptasi ke layar lebar oleh Walt Disney tahun 1993 dengan judul Homeward Bound: The Incredible Journey. Menggunakan tiga jenis binatang yang berbeda sebagai tokoh utamanya: kucing dan anjing (jenis Labrador dan Bull), penulis akan membawa serta pembaca ikut berkelana bersama mereka ke alam liar; bermodalkan naluri alamiahnya untuk bertahan hidup dari ancaman binatang lain maupun kelaparan serta kembali ke rumah asalnya atau majikannya.


Selain penggambaran suasana–khususnya di hutan dan sungai beserta para binatang yang tinggal di sana–yang detail, buku ini minim dialog dan lebih banyak memakai narasi. Kekuatan novel ini terletak pada tidak adanya komunikasi verbal di antara para karakter utama. Pembaca tidak akan mendapati binatang yang “berbicara/bercakap-cakap” layaknya manusia, semuanya berkomunikasi satu dengan yang lain menggunakan “bahasa” mereka masing-masing: mengeong, menggonggong, mengeram, menjilat, kalau senang ya telinganya bergerak-gerak; ekornya bergoyang, jika habis kena marah kupingnya layu; matanya tertunduk, saat marah atau dalam kondisi siaga bulu-bulu kucing meremang seketika, dst. Satu-satunya dialog hanyalah terjadi antara manusia dengan manusia, selebihnya … tidak.


Penulis menyajikan kisah petualangan anjing-kucing tersebut terasa dramatis, greget, sekaligus realistis. Pembaca tidak sekadar mengikuti perjalanan ketiganya saat merambah alam, melainkan juga ikut mengetahui tabiat asli para binatang sesuai dengan kehidupan nyata, dan ikut serta merasakan bahaya dan penderitaan dan rasa sakit saat berhadapan dengan beruang atau tertusuk duri-duri landak atau tenggelam di sungai, kelaparan hebat, berburu makanan, dan seterusnya. Namun, tidak melulu soal kesengsaraan-kesengsaraan mereka bertiga dalam buku ini, ada juga kisah menggemaskan ketika para tokoh saling berinteraksi fisik: berbagi buruan, tidur bersama. Meskipun berbeda jenis dan pembawaan, tetapi bisa saling mendukung, saling melengkapi dan peduli melalui bahasa tubuh mereka masing-masing, mengandalkan kekuatan satu sama lain untuk mengimbangi kelemahan satu dengan yang lain. Nuansa kasih sayang mereka benar-benar menggema dan mereka berbagi peran masing-masing tanpa perlu terucapkan. 


The Incredible Journey: Perjalanan Pulang merupakan cerita yang kaya secara emosional; menuturkan kisah cinta–baik kepada sesama binatang maupun pemiliknya, kesetiaan, dan kesetiakawanan yang memesona tanpa memandang perbedaan; serta mengisahkan petualangan mendebarkan. Dengan narasi yang sederhana dan memikat, novel ini sangat cocok untuk segala usia serta pencinta binatang.


Ngomong-ngomong, kamu suka binatang apa? Punya pengalaman menyenangkan dengan peliharaanmu?


•••


Kutipannya:

… dan tak lama kemudian si anjing tua tersebut tertidur. Namun, si kucing yang mendengkur sambil menempel ke dadanya serta si anjing muda yang meringkuk rapat dekat punggungnya sama-sama terjaga dan siaga hampir sepanjang sisa malam itu; keduanya tidak beranjak dari sisinya. (Halaman 43)


Saat berbaring terjaga dalam gelap malam itu dan tidak bisa tidur, Longridge berpikir ia rela memberikan apa saja agar bisa kembali merasakan suara gedebuk berat di tempat tidur yang dulu menandakan kedatangan si anjing tua. Selama ini ia merasa kurang penyayang dan tidak toleran karena sering terbangun tengah malam dan mendorong rekan tidur egois yang tidak ia inginkan. (Halaman 127)





You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts