Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang: Tentang Janji

Januari 08, 2025


Bukan buku tentang “Itu urusanmu, jadi selesaikan sendiri masalahmu. Jangan libatkan aku.”

•••

Identitas buku:

Judul: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang

Penulis: Luis SepĂșlveda

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun: Edisi Kedua, Januari 2023

Jumlah: vi + 90 halaman

ISBN: 9786020788067

Kategori: fiksi, fabel


•••


Blurbnya:

Saat sedang asyik berjemur di balkon rumahnya, seekor kucing bernama Zorbas mendapati seekor burung camar terjatuh kepayahan di dekatnya. Tumpahan minyak dari kapal tanker di laut telah melengketkan bulu-bulu burung camar betina yang hampir bertelur itu, membuatnya tak mungkin meneruskan terbangnya. Sebelum meninggal, ia meminta si kucing berjanji untuk merawat telurnya sampai menetas dan lantas mengajari anaknya terbang.


Sebagai kucing pelabuhan, Zorbas pantang melanggar janjinya. Namun mungkinkah ia dan kawan-kawannya sesama kucing pelabuhan benar-benar bisa menepati janji mengajari bayi camar itu terbang?


Sebuah cerita indah tentang persahabatan, kesetiaan untuk menepati janji, dan renungan tentang perbuatan manusia terhadap lingkungan.


•••


Resensinya:

Saya mendadak menjadi sentimental usai membaca buku ini. Novela yang terbilang tipis ini mampu memukau saya dari banyak hal: ceritanya, tokohnya, temanya, sampai terjemahannya yang ciamik.


Buku ini sukses ‘menempeleng’ saya sebab pesan-pesan yang begitu mendalam. Sungguh, saya merasakannya demikian. Saya terkesiap untuk beberapa saat sebelum terpekur untuk melihat diri saya sendiri, melihat bagaimana saya berperilaku, melihat sekitar, hingga merasa tersindir dengan para binatang dalam buku ini. Entah … rasanya seperti saya manusia, tetapi kalah bijak dan dewasa dibandingkan dengan para kucing dalam buku tersebut. 


Mari saya uraikan alasannya.


Sangat menyenangkan membaca Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang karya penulis asal Cile bernama Luis SepĂșlveda ini. Dari satu bab ke bab berikutnya, dengan bahasa yang sangat ringan dan sederhana, penulis begitu apik menuliskan kisah-kisah jenaka para kucing di pelabuhan dalam mencari cara merawat dan mengajari camar terbang. 


Novela dengan sasaran–sesungguhnya–pembaca anak hingga remaja–tetapi bisa dinikmati di segala rentang usia–ini memiliki sejumlah pesan. Adapun lima pesan–lima saja, jangan banyak-banyak, tidak muat karakternya–dari hasil pembacaan saya usai menamatkan buku ini, yakni:


  1. Ayo, lebih perhatian dengan alam. Persoalan lingkungan menjadi penggerak cerita, menjadi sebab awal mula hubungan sang kucing dan burung camar. Pembaca akan menyelami bencana ekologis lautan sebagai konsekuensi manusia membuang limbah pabrik, sampah, sampai minyak ke lautan. Ada korban dari perbuatan mengotori lautan tersebut yang dalam buku ini adalah para binatang, khususnya camar. Jika pembaca menelisik lebih dalam, mencari berita-berita perihal laut tercemar, laut menjadi kotor, tempat sampah limbah pastinya ada, dan jika pengrusakan semacam ini terus-terusan berlanjut, bukan tidak mungkin berimbas pada ketidakseimbangan ekosistem. Eh, nyata-nyatanya sampai sekarang, kita sudah merasakannya, bukan? Yang menjadi korban tidak lagi hewan, manusia juga mengalaminya.


  1. Kepedulian dan toleransi. Bayangkan saja Anda sedang asyik-asyiknya menikmati hidup, merasakan udara kebebasan, rebahan, bahagia dan nyaman tentram, tiba-tiba seseorang yang tidak Anda kenal datang, mengusik rentetan surga dunia dengan memberikan masalah dan harus menunaikan tanggung jawab yang sebenarnya bukan urusan Anda. Bagaimana Anda merespon? Sebagian besar pasti enggan, kalaupun mau juga belum tentu hati mengatakan hal yang sama. Uring-uringan bisa jadi, menuntut ini-itu barangkali. Bukankah manusia kerap kali enggan terlibat dalam permasalahan orang lain? Apalagi ini tidak ada hubungannya sama sekali. Namun dalam buku ini, ada nilai kepedulian tanpa melihat jenis/spesies yang digambarkan oleh Zorbas ketika dia menerima permintaan induk camar. Dengan enteng, tanpa beban, bahkan masih bisa memikirkan kesehatan si camar. Sang kucing meski ketiban tugas yang bukan ranahnya, ia juga seharusnya tidak berkewajiban membantu Fortuna, tetapi sangat totalitas memastikan bahwa dirinya telah melakukan semua hal yang bisa ia lakukan untuk Fortuna. Kalau manusia kemungkinan kebanyakan akan menyatakan: “Urusi sendiri masalahmu.”


  1. Menepati janji. Wah, apa perlu saya menjabarkan perihal ini? Nanti malah jadi esai. Saya rasa kita bisa dengan sadar memaknai ‘menepati janji’ tersebut. Apa saja bentuk/model janji itu atau siapa pun yang menyatakan janji sepatutnya ditepati. Bahkan jika Anda seorang pemimpin sekalipun. Nyatanya, seekor kucing dalam buku ini benar-benar memenuhi janji yang dia buat sendiri saat bersama induk camar: tidak memakan telur, menjaga sampai si telur menetas, dan mengajari terbang–hal yang tidak masuk akal, kucing mengajari terbang burung; lha, masa manusia kalah sama kucing?


  1. Persahabatan dan kesetiakawanan. “Kita semua pergi. Masalah satu kucing di pelabuhan ini adalah masalah semua kucing di pelabuhan ini.” (Halaman 24). Penulis, dalam pandangan saya, hendak menyampaikan perlunya mengandalkan kesetiakawanan dari para sahabat. Persoalan yang dirasa terlampau berat untuk dipecahkan sendiri, dapat melibatkan teman/sahabat untuk diselesaikan bersama. Lebih jauh, penulis juga menggambarkan bagaimana karakter teman-teman Zorbas yang unik, tetapi mereka bisa saling percaya satu dengan yang lain, saling mendukung dan bekerja sama. Lantas, bagaimana dengan manusia? Begitu juga, kah? Kecenderungan manusia memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk yakin bahwa bisa menyelesaikan masalahnya. Padahal, ada kalanya dengan melibatkan orang lain terjadi diskusi, ada tukar pikiran yang berimbas pada terselesaikannya permasalahan.


  1. Kasih sayang dan pola asuh. Ini yang menurut saya paling menarik. Buku ini dengan tegas menjabarkan ada hubungan luar biasa antara Kucing dan Anak Camar. Tanpa memandang spesiesnya, sang Kucing memberikan pengasuhan-pengasuhan kepada Anak Camar dengan penuh kelapangan hati, berkompromi, memberikan perhatian dan kasih sayang sebanyak-banyaknya kepadanya. Sebuah proses belajar yang bisa dilakukan oleh siapa pun makhluknya. Selalu ada kecemasan, tetapi pengasuhan itu perlu waktu, perlu penyesuaian untuk menjadi biasa dan terbiasa. Mengasuh juga bukan melulu soal siapa yang telah melahirkan, tugas ibu/induknya. Zorbas menunjukkannya. Meski berbeda, tetapi dalam mengasuh Fortuna ia tidak ambil pusing dengan jenis kelamin; ia tidak memaksakan cara membesarkan menurut pandangannya, melainkan bertanya; meski tidak mudah, tetapi terus membersamai hingga sang anak dewasa dan cukup siap untuk kehidupan mandirinya. Realitanya, sebagian besar masyarakat kita memiliki pembebanan tugas dan tanggung jawab yang mutlak dalam pengasuhan anak akibat dari struktur sosial yang mengakar sejak dulu. Sebagian lainnya merasakan ketimpangan dalam menjalankan peran tersebut, tidak bersama-sama, dan masih banyak hal lainnya.



Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang, sebuah novel tipis menggemaskan yang mengejawantahkan nilai-nilai kemanusiaan yang–perlahan–memudar tertelan usia manusia itu sendiri. Buku ini terlalu pendek untuk hal-hal besar di dalamnya.


•••


Kutipannya:

Hal-hal mengerikan terjadi di laut. Kadang aku berpikir apa manusia memang benar-benar sudah gila, sebab mereka seperti ingin mengubah lautan menjadi tempat pembuangan sampah raksasa. Aku baru pulang mengeduk di mulut Sungai Elbe, dan kalian tak bisa bayangkan berapa banyak sampah yang terseret arus ke sana. Demi batok penyu! Kami mengangkut keluar tong-tong insektisida, ban bekas, dan berton-ton botol plastik sialan yang ditinggalkan manusia di pantai. (Halaman 61-62)


Kami tidak sanggup menolong indukmu, tetapi kami bisa menolongmu. Kami melindungimu dari sejak saat kau menetas. Kami mencurahkan semua kasih sayang kami tanpa pernah berpikir untuk menjadikanmu kucing. Kami mencintaimu sebagai camar. Kami merasa kau juga mencintai kami, bahwa kami temanmu, keluargamu, dan kami ingin kau tahu bahwa bersamamu kami belajar sesuatu yang membuat kami sangat bangga: kami belajar menghargai, menghormati, dan mencintai makhluk yang berbeda dari kami. Mudah sekali menerima dan mencintai mereka yang sama seperti kita, tetapi mencintai yang berbeda itu sangat berat, dan kau membantu kami melakukan itu. (Halaman 66-67)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts