Korpus Uterus: Menggugat Otoritas Tubuh Perempuan
Januari 11, 2026•••
Identitas buku:
Judul: Korpus Uterus
Penulis: Sasti Gotama
Penerbit: GPU
Tahun: Cetakan ke-2: 2025
Jumlah: 292 halaman
ISBN: 9786020683782
Kategori: Novel, fiksi, naskah yang menarik perhatian juri Sayembara Novel DKJ 2023
TW: Kuretase, penelantaran anak, kekerasan
•••
Blurbnya:
Tak ada yang lebih diinginkan Luh selain kembali ke rahim. Sebagai anak hasil pemerkosaan yang berulang kali berusaha digugurkan, Luh merasa dunia fana ini begitu kejam. Tak ada kasih sayang dari ibunya. Dia dipelihara bagai hewan ternak yang cukup diberi makan tiga kali sehari.
Pengabaian sang ibu membuat Luh lari dari rumah. Dalam bentang hidupnya, dia bertemu perempuan-perempuan dengan kehamilan tak diinginkan. Hal itu mendorong Luh kelak menjadi ahli aborsi yang lihai. Baginya, aborsi adalah jalan agar janin yang tak diharapkan tidak menemui kenestapaan, dan agar para perempuan memiliki otonomi atas pilihan.
Luh pikir, hidup demikian akan memberinya kedamaian. Bukankah dia akhirnya dapat menolong janin-janin agar tak menderita seperti dirinya? Namun, niat baik itu kini membuatnya diburu bahaya. Bersama sebentuk rahim dalam stoples yang dia bawa, Luh berkelana sembari mempertanyakan kembali makna rahim sesungguhnya.
•••
Garis besarnya:
Panuluh atau Luh, lahir sebagai anak hasil pemerkosaan keji yang dialami ibunya, Kalimah, saat dituduh sebagai istri anggota PKI sesaat setelah suaminya, Hafidin, menghilang.
Hidup dalam pengabaian total–tanpa perhatian, kasih sayang, maupun didikan–dan tanpa kepastian ini mendorong Luh melarikan diri dari rumah hingga ia bertemu dengan Nur, Yati, Siti, dan Farida, serta seorang ginekolog kenamaan bernama dr. Markus.
Pertemuan dengan perempuan-perempuan yang membawa beban kehamilan tak diinginkan inilah yang kemudian membentuk perspektif Luh tentang makna rahim dan pilihan. Berbekal kemampuan pendengaran di atas rata-rata, dia memutuskan untuk menjadi praktisi aborsi ilegal yang lihai. Namun, niat "menolong" ini justru membuatnya diburu bahaya dan berakhir menjadi buronan.
•••
Resensinya:
Buku kedua Sasti Gotama yang saya baca setelah Ingatan Ikan-Ikan. Kali ini tidak hanya lebih tebal jumlah halamannya, melainkan bikin ngilu-ngilu sedap sewaktu membacanya,
Korpus Uterus, novel yang mengajak pembaca untuk berkontemplasi sekaligus berempati terhadap rahim, bagian tubuh perempuan yang hingga kini sering kali dipandang tidak hanya mampu memberikan kehidupan, melainkan juga menjadi sumber kemalangan.
Dalam buku ini, struktur sosial masyarakat menempatkan organ reproduksi perempuan belum sepenuhnya milik perempuan, rahim seolah-olah kepunyaan publik. Rahim menjadi alat kontrol bagaimana seharusnya perempuan bersikap dan berperan ketika menjadi istri maupun ibu, kerap terabaikan saat pemiliknya mengalami pemerkosaan. Pengalaman banyak perempuan dalam Korpus Uterus menunjukkan betapa rahim lebih sering menjadi penjara stigma dan membuat perempuan kehilangan otoritas atas tubuhnya sendiri. Pada akhirnya, beban itu harus dihadapi perempuan itu sendiri.
Tidak hanya menyajikan benturan legalitas aborsi yang masih menjadi realitas pahit di masyarakat sejak dulu hingga kini, novel ini juga mengingatkan kita bahwa aborsi bukan perkara isu moral–agama–hukum semata, melainkan berkelindan erat dengan hak asasi–kesehatan–dan keadilan; serta turut menyentil kendala-kendala baik sistemik maupun sosial yang memaksa perempuan memilih alternatif aborsi nonmedis: lambannya institusi berwenang dalam mengeluarkan izin tindakan aborsi legal, penolakan di instansi kesehatan, rasa malu yang membungkam suara korban, dan banyak lagi.
Penggunaan latar tahun sebenarnya tidak harus 1965 maupun 1998 (karena dalam pandangan saya bisa lepas tahun mana pun. Perihal kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, bukankah negara kita banyak datanya, banyak kisahnya di mana-mana, dan selalu berulang, kan), tetapi Sasti justru memilih dua titik waktu tersebut sebab marak terjadi kekerasan berbasis gender yang diredam dan dilupakan oleh negara. Penolakan negara untuk mengakui atau menindaklanjuti kejahatan massal tersebut justru memperpanjang penderitaan perempuan.
Sebagai seorang dokter, Sasti memberikan sentuhan medis yang intens sehingga pembaca mendapati informasi anatomi tubuh manusia secara akurat.
Namun sayangnya, novel ini tidak menyertakan label peringatan (trigger warning), padahal narasi di dalamnya memuat kekerasan seksual, penelantaran anak, hingga tindakan aborsi tidak aman yang memilukan. Selain itu, banyaknya karakter yang muncul menyebabkan kedalaman masing-masing tokoh terasa kurang, subplotnya tampak tumpang tindih meski payung besarnya perihal perempuan dan rahim, beberapa bagian memunculkan tanda tanya, dan penyelesaian di bab akhir pun sedikit terburu-buru.
Sasti menyusun Korpus Uterus dengan alur campuran, pilihan katanya mudah dipahami, dan terdapat catatan kaki yang memperjelas istilah teknis. Buku ini saya rekomendasikan sejak dewasa muda, baik laki-laki maupun perempuan.
Menurutmu, apakah rahim hanya milik perempuan saja? Atau selamanya akan menjadi "milik publik" yang diatur oleh kepentingan di luar tubuh penggunanya?
•••
Kutipannya:
Aborsi legal dan aman itu perlu, teman sejawat. Berapa banyak lagi kematian akibat aborsi ilegal terjadi supaya kita peduli pada masalah ini? Jadi, menurut hemat saya, jika kita menyudahi alasan moral, aborsi aman dan legal itu memungkinkan. (Hal. 75)
Jika aborsi adalah upaya mengeluarkan hasil konsepsi dari dalam rahim sebelum si janin bisa hidup di luar kandungan, berarti seharusnya itu tak bisa digolongkan sebagai pembunuhan. (Hal. 75)
Biarkan saja apa yang sudah berjalan tetap berjalan. Seperti perang, seperti wabah. Perlu ada yang mati agar yang bernapas bisa hidup dengan baik, seperti kucing mati di bawah pohon, yang dari hasil pembusukan tubuhnya membuat dedaunan semakin rimbun dan ratusan buah bergelantungan. (Hal. 76-77)
Rahim seharusnya dijaga agar tak terluka sedikit pun. Bukankah rahim adalah ibu pertama manusia? (Hal. 77)
Ternyata keguguran itu bisa membuat seseorang kehilangan nyawa. (Hal. 83)
Lelaki alim saja bisa berubah menjadi iblis, apalagi lelaki biasa yang tak percaya kepada Tuhan? Mungkin sesungguhnya semua lelaki adalah jelmaan genderuwo. (Hal. 89)
Tak ada yang lebih ibu daripada rahim. Ibu yang paling ibu. Sudah sepatutnya dipelihara agar tetap cantik tanpa bekas cakaran sendok kuretase. Kalaupun diperlukan, hanya untuk kasus-kasus darurat saja. (Hal. 112-113)
Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani. (Hal. 180)
Membuat anak itu tak sembarangan dan harus dipikirkan matang-matang, karena anak itu bukan mainan. Perasaan anak seperti selembar kertas yang mudah kusut. Ketika orangtuanya menyemburkan kata-kata yang menyakitkan, itu sama saja dengan meremas-remas kertas itu menjadi gumpalan. Bisa saja di masa depan si anak berusaha mengobati luka hatinya sendiri dengan membuka gumpalan kertas itu dan berupaya melicinkan kembali kekusutan yang ada, tetapi itu bukanlah perkara mudah. (Hal. 192)
Perempuan merelakan bagian tubuhnya yang paling istimewa, yang tak dimiliki pria, beruah, membesar, berdarah, demi seseorang yang dia anggap paling penting. Dia harus menanggung kesakitan demi kesakitan dengan tabah. Kalau bukan karena cinta, kekuatan apa lagi yang lebih besar dari itu yang mampu memaksa manusia? (Hal. 212)

0 Comments