Di Semesta ini Kita Pernah Gemilang: Surat-Surat Perihal Luka, Ras, dan Maskulinitas
Januari 22, 2026Identitas buku:
Judul: Di Semesta ini Kita Pernah Gemilang (On Earth We're Briefly Gorgeous)
Penulis: Ocean Vuong
Penerbit: GPU
Tahun: 2021
Jumlah: 300 halaman
ISBN: 9786020652665
Kategori: Fiksi, novel, trauma, LGBT (BL), kekerasan, Perang Vietnam, penggunaan narkoba
•••
Blurbnya:
Sekuntum bunga baru terlihat menjelang akhir hidupnya, mekar sekejap dan bergegas menuju kematian.
Didasarkan pada pengalaman Vuong sebagai putra seorang ibu-tunggal dan pengungsi Perang Vietnam, On Earth We’re Briefly Gorgeous adalah surat panjang seorang anak kepada ibunya yang tak bisa membaca. Kilas balik masa kecil kehidupannya sebagai imigran Vietnam bersama ibu dan neneknya. Cerita dan kenangan tentang kabur dari perang yang mencabik-cabik kehidupan suatu bangsa, dan pergulatannya untuk menemukan jati diri di negeri yang telah menampung mereka.
•••
Garis besarnya:
Berdasarkan kisah nyata sang penulis, Ocean Vuong atau akrab dipanggil Little Dog menuliskan surat panjang kepada ibunya, Hong/Rose, yang buta huruf. Dia menelusuri kisah hidupnya bersama ibu dan neneknya, Lan, saat menjadi keluarga imigran Vietnam yang tumbuh di Amerika, berjuang untuk tetap bertahan sementara trauma perang, penyakit mental, narkoba, dan rasisme mengancam fondasi keluarga mereka.
Dalam surat tersebut, Little Dog turut mengurai kakeknya yang seorang veteran Amerika, pekerjaannya sebagai buruh perkebunan, krisis identitas, kisah cintanya dengan laki-laki kulit putih, hingga pertanyaan-pertanyaan kehidupan dalam baris-baris melankolis.
•••
Resensinya:
Novel yang cukup lama menjadi TBR saya. Setidaknya tahun 2022 saya membeli buku ini dan baru menamatkannya pada awal tahun 2026. Sungguh lama sekali, hahahaha.
On Earth We're Briefly Gorgeous (OEWBG), sebuah novel coming of age yang mengajak pembaca untuk menyelami fragmen-fragmen ingatan traumatis dan identitas diaspora Vuong.
Melalui bentuk epistolari, Vuong menumpahkan segala kisah kelam keluarganya: luka psikologis karena Perang Vietnam, menjadi imigran di Amerika, kesulitan bahasa, keterbatasan ekonomi, kerinduan akan kampung halaman, kehilangan, percintaannya dengan sesama jenis, hingga perjuangannya dalam menghadapi semua kenangan yang ada dalam nuansa penuh kesedihan dan pertanyaan-pertanyaan akan kehidupan.
Novel ini banyak mengeksplorasi trauma antargenerasi yang saling terkait satu sama lain dan menyingkap efek domino trauma tersebut mampu memengaruhi kondisi mental, perilaku, tutur bahasa, hingga ketidakstabilan emosi para korban perang.
Sepanjang tulisan, Vuong menuntun pembaca menjelajahi kehidupan tiga generasi–Lan (nenek), Rose (ibu), dan Little Dog–yang berada dalam cengkeraman bayang-bayang Perang Vietnam. Sebagai orang yang mengalami Perang Vietnam hampir sepanjang hidupnya, Lan menderita skizofrenia dan PTSD. Banyak narasi maupun dialog yang berulangkali menunjukkan reaksi Lan dalam memikirkan kematian. Generasi kedua, Rose, yang tumbuh di Vietnam dalam situasi perang, juga menderita PTSD dan ketidakstabilan emosi karena kehidupan mereka yang menyedihkan, baik saat selama perang maupun saat hidup di perantauan. Rose menjadi sosok ibu yang kasar, memiliki masalah kemarahan yang sering dia lampiaskan kepada putranya, kapan pun dan tanpa alasan tertentu. Generasi ketiga, Little Dog, yang sama sekali tidak mengalami Perang Vietnam, ikut terpengaruh melalui transfer ingatan berupa cerita dan perilaku kasar secara verbal dan fisik maupun pola pengasuhan. Hal tersebut membuat hubungan ibu–anak menjadi kompleks sebagaimana Vuong uraikan secara rinci dalam surat-suratnya.
Selain menyuguhkan ingatan perang yang tidak lantas menghilang begitu saja sekalipun penyintas menjalani kehidupan baru di negara lain, OEWBG turut menampilkan upaya keras keluarga tokoh utama untuk memastikan kelangsungan hidup mereka yang terbelit kemiskinan, kesulitan bahasa, mengalami perundungan dan perlakuan diskriminasi dalam dominasi maskulinitas Amerika.
Dalam buku ini, Vuong membagikan pengalamannya tentang generasi muda Amerika yang banyak terlibat kasus overdosis narkoba.
Tidak hanya krisis identitas dan pilihan mekanisme koping, lebih jauh, Vuong membagikan informasi tentang generasi muda Amerika kala itu yang banyak terlibat kasus overdosis narkoba serta mendedah ketimpangan ras Asia–Amerika melalui hubungan homoseksual sang tokoh utama. Perbedaan warna kulit membuat Little Dog menginternalisasi posisinya–yang berbeda dari standar Amerika–sebagai laki-laki feminim dan “merendahkan dirinya” di hadapan pasangannya.
Meski demikian, saya memandang OEWBG hadir sebagai medium pelepasan emosi dan ruang pemulihan atas trauma sekaligus mengetuk nurani kita agar lebih peka terhadap kerentanan mental para penyintas.
Vuong menyusun buku ini dalam bentuk narasi, monolog batin, dan percakapan dengan diksi indah dan penuh perenungan, beralur campuran dengan tempo lambat, melompat-lompat dari satu ingatan ke ingatan lain secara acak, tiba-tiba, sepotong-sepotong, dan tidak secara kronologis. OEWBG minim konflik sehingga bagi sebagian pembaca akan terasa datar dan membosankan. Secara keseluruhan, terjemahannya apik dan terdapat narasi adegan dewasa maupun deskripsi kekerasan secara eksplisit.
Novel ini saya rekomendasikan untuk pembaca dewasa. Bagi para penyintas trauma, perlu kebijaksanaan dalam membacanya sebab berpotensi memicu luka atau justru menjadi ruang tumbuhnya keyakinan bahwa di tengah situasi sulit sekalipun, kita tetap bisa menemukan keindahan.
Jika kamu berkesempatan menulis surat untuk ibumu, rahasia apa yang ingin kamu sampaikan?
•••
Kutipannya:
Karena kebebasan, konon, hanyalah jarak yang terbentang antara si pemburu dan buruannya. (Hal. 12)
Berarti hidup adalah masalah waktu, perhitungan waktu. (Hal. 12)
Setiap sejarah memiliki lebih dari satu jalur, tiap-tiap jalur ada cerita tentang perpisahan. (Hal. 17)
Apalah sebuah negara, kalau bukan penjara tanpa jeruji, sebuah kehidupan? (Hal. 17)
Apakah sebuah negara kalau bukan penjara seumur hidup? (Hal. 18)
Kau pernah bilang padaku bahwa mata manusia adalah ciptaan tuhan yang paling kesepian. Sebab begitu banyak peristiwa di dunia berlalu di hadapannya, namun tak satu pun digenggamnya. (Hal. 22)
Kata orang, trauma bukan hanya berdampak pada otak, tetapi pada fisik juga, otot-ototnya, persendian, dan postur. (Hal. 30)
… kegilaan kadang-kadang membawa kita kepada penemuan, bahwa otak yang “miring” dan korslet tidak sepenuhnya keliru. (Hal. 35)
Ada orang yang mengatakan bahwa sejarah bergerak berpusar, seperti spiral, bukan dalam garis lurus seperti yang kita kira. Kita menjalani waktu dalam lintasan memutar, jarak kita semakin jauh dari episentrum lalu kembali lagi, satu putaran lebih dekat. (Hal. 40)
Masa lalu tak pernah berupa lanskap yang tetap dan dorman, melainkan sesuatu yang ditengok ulang. Entah mau atau tidak, kita bergerak dalam suatu pusaran, kita menciptakan sesuatu yang baru, dan yang sudah berlalu. (Hal. 40-41)
Teori hanya untuk orang-orang yang terlalu banyak menganggur dan kurang teguh pendiriannya. (Hal. 41)
No object is in a constant relationship with pleasure, tulis Barthes. For the writer, however, it is the mother tongue–Tidak ada satu objek pun yang dapat terus-menerus memberikan rasa puas. Tetapi seorang penulis akan selalu merasa puas dengan bahasa ibunya. Tetapi bagaimana kalau bahasa ibu itu terbantut? Bagaimana kalau bahasa itu bukan saja melambangkan suatu kekosongan, melainkan adalah kekosongan itu sendiri, bagaimana kalau bahasa itu, “lidah” itu, terpotong? Dapatkah orang merasa nikmat mengalami suatu kehilangan, tanpa membuat dia kehilangan dirinya sendiri sepenuhnya? (Hal. 45)
Adakalanya kata-kata kita tidak memadai, atau mendadak hilang begitu saja. Dalam situasi demikian, walaupun terkungkung dalam batas-batas kulit dan tulang rawan, tangan dapat menjadi bahasa ketiga yang menggerakkan pada saat lidah terbata-bata. (Hal. 47)
Bagi kita, perasaan sayang dan cinta terucap paling jelas melalui perbuatan. (Hal. 47)
… sebab mana mungkin ada ruang privat kalau tidak ada tempat di mana kau merasa aman dan nyaman, tidak ada tempat di mana kau merasa aman dan nyaman, kalau nama seorang anak dapat melindunginya dan sekaligus menjadikannya seekor binatang? (Hal. 48)
Sebab cinta, pada intinya, adalah suatu pengulangan. Tidakkah demikian? (Hal. 48)
Rupa-rupanya, orang tidak bisa “lolos” di Amerika, kalau tidak bisa berbahasa Inggris. (Hal. 70)
Semua yang bagus-bagus selalu berada di tempat lain. (Hal. 75)
Dulu aku cukup bodoh karena merasa yakin bahwa pengetahuan dapat memberikan kejelasan, tetapi ada hal-hal yang sedemikian tersamar di balik lapisan-lapisan sintaksis dan semantik, di belakang hari-hari dan jam-jam, nama-nama yang terlupakan, diselamatkan, dan dibuang, sehingga sekadar mengetahui bahwa luka itu ada, tidak berpengaruh apa pun untuk mengungkapkannya. (Hal. 83-84)
Kadang-kadang aku tidak tahu apa atau siapa, kita. Adakalanya aku merasa seperti manusia, dan pada hari-hari lain aku lebih merasa seperti bunyi. Aku menyentuh dunia ini bukan sebagai diriku sendiri, tetapi sebagai gema dari aku yang dulu, sudah bisakah kau mendengarku? Sudah bisakah kau membacaku? (Hal. 84)
Kadang-kadang kau langsung dihapuskan sebelum kau diberi pilihan untuk menyatakan siapa dirimu. (Hal, 85)
Ingatan adalah pilihan. (Hal. 97)
Aku mempunyai pilihan, kapabilitas, apakah dia terangkat atau jatuh tergantung pada kesediaanku untuk memberikan ruang baginya, sebab kau tidak bisa terangkat tanpa ada sesuatu untuk berpijak. (Hal. 152-153)
Apakah kau ingat hari yang paling membahagiakan dalam hidupmu? Bagaimana dengan hari yang paling menyedihkan? Pernahkah kau bertanya-tanya, apakah kesedihan dan kebahagiaan bisa digabungkan, menjadi suatu perasaan ungu kelam, tidak senang, tidak sedih, tetapi sangat luar biasa, sebab kau tidak perlu menjalani sisi sebelah sini ataupun sebelah sana? (Hal. 158)
Sebuah lagu bisa menjadi jembatan. (Hal. 161)
Di dalam kehidupan sekali-pakai, tidak ada kesempatan-kesempatan kedua. Itu bohong, tapi kita menjalaninya. Kita menjalaninya. (Hal. 161)
Semua orang ingin duduk lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. (Hal. 165)
Kusadari bahwa kita sedang bertukar kebenaran, yang berarti kita saling melukai. (Hal. 170)
Harga yang mesti dibayar untuk sebuah pengakuan adalah kau mendapatkan jawaban. (Hal. 173)
Kadang-kadang, kalau sedang tidak ambil pusing, aku menganggap bertahan hidup itu gampang: cukuplah kalau kau mengalir saja dengan apa yang kaumiliki, atau dengan apa yang tersisa dari porsi yang diberikan kepadamu, sampai ada perubahan–atau sampai kau menyadari, pada akhirnya, bahwa kau bisa berubah tanpa harus lenyap, bahwa kau hanya perlu menunggu sampai badai itu berlalu dan kau mendapati–ya–kau mendapati namamu masih tersambung dengan badan yang hidup. (Hal. 175)
Mungkin kita memandang cermin bukan semata-mata untuk mencari keindahan, seberapa pun khayalinya, tetapi untuk memastikan, walaupun fakta-faktanya sudah jelas, bahwa kita masih ada di sini. Bahwa tubuh yang dicari-cari itu, tubuh yang mewadahi diri kita, belum musnah, belum dikerok sampai habis. Bahwa melihat dirimu ternyata masih dirimu, dapat memberikan rasa aman tenteram damai yang tidak mungkin bisa dipahami oleh orang-orang yang belum pernah ditolak keberadaannya. (Hal. 177)
Sesungguhnya, tidak satu pun dari kita cukup mencukupi. (Hal. 217)
Mereka bilang tidak ada sesuatu pun yang abadi, padahal mereka hanya takut kalau-kalau sesuatu itu hidup lebih lama daripada kemampuan mereka untuk mencintainya. (Hal. 218)
Seperti apakah kita dulu, sebelum menjadi kita yang sekarang? (Hal. 235)
Apa arti kami bagi satu sama lain, kalau bukan apa yang telah kami lakukan pada satu sama lain? (Hal. 251)
Dan mungkin semua nama hanyalah ilusi. Seberapa sering kita menamakan sesuatu menurut wujudnya yang paling fana? (Hal 264)
Semua kebebasan sifatnya relatif–kau tahu betul itu–dan kadang-kadang kebebasan itu sama sekali bukan kebebasan, melainkan kandang yang dibuka lebih lebar, jauh darimu, jeruji-jerujinya tersamarkan oleh jarak, tetapi tetap ada. (Hal. 265)
Sebab kesedihan selalu terasa tidak nyata, terutama pada saat-saat sedih yang paling dalam. (Hal. 276)
Segala sesuatu terjadi untuk suatu sebab. (Hal. 280)
Kiranya tak seorang pun keliru menganggap kita sebagai buah dari kekerasan–melainkan bahwa kekerasan pernah singgah pada buah itu, namun gagal merusakkannya. (Hal. 282)
Kata orang, kalau kau sangat mendambakan sesuatu, pada akhirnya yang kaudambakan itu akan menguasaimu dan menjadi tuan atas dirimu. (Hal. 289)
Aku sedang berpikir lagi tentang keindahan, bahwa ada makhluk-makhluk yang diburu karena kita menganggap mereka indah. Seandainya–jika dibandingkan dengan sejarah planet kita–kehidupan suatu individu sangatlah singkat, hanya sekejap mata, seperti kata orang, maka menjadi makhluk indah, bahkan sejak baru lahir sampai saat kau mati, berarti hanyalah indah sesaat saja. (Hal 289-290)
Monyet, rusa besar, sapi, anjing, kupu-kupu, banteng liar. Mengapa kita sekali mendengar cerita tentang manusia digambarkan melalui kehidupan para binatang yang hancur–padahal kehidupan kita sendiri sesungguhnya adalah cerita tentang binatang. (Hal. 295)

0 Comments