We Do Not Part: Kisah Tragedi Jeju 4.3 di Korea
Januari 31, 2026••• Identitas buku: Judul: We Do Not Part Judul asli: I Do Not Bid Farewell Penulis: Han Kang Penerbit: Baca Tahun: 2025 Jumlah: 356 halaman ISBN: 9786238371501 Kategori: Novel, fiksi, trauma ••• Blurbnya: Novel Han Kang yang paling menggugah, We Do Not Part bercerita tentang persahabatan antara dua wanita sekaligus menguak babak tersembunyi dalam sejarah Korea. Suatu pagi pada musim dingin, Kyeongha menerima pesan mendesak dari temannya—Inseon, untuk mengunjunginya di sebuah rumah sakit di Seoul. Inseon terluka dalam sebuah kecelakaan, dan memohon kepada Kyeongha untuk kembali ke Pulau Jeju, tempat tinggalnya, untuk menyelamatkan hewan kesayangannya—seekor burung putih bernama Ahma. Badai salju menghantam pulau tersebut saat Kyeongha tiba. Dia harus mencapai rumah Inseon dengan cara apa pun, tetapi angin dingin dan badai salju memperlambatnya begitu malam tiba. Dia bertanya-tanya apakah dia akan tiba tepat waktu untuk menyelamatkan hewan tersebut atau bahkan mampu bertahan dari hawa dingin yang menyelimuti tiap langkahnya. Tersesat dalam badai salju, jalan berliku-liku penuh kegelapan telah menunggunya tanpa terduga. Mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan, We Do Not Part dengan kuat menerangi babak yang terlupakan dalam sejarah Korea. Novel ini merupakan kisah cinta mendalam dalam menghadapi kekerasan yang tak mampu dikatakan dan sebuah perayaan kehidupan, betapa pun rapuhnya. ••• Resensinya: Ini adalah buku kedua Han Kang yang saya tamatkan setelah The Vegetarian. Tentu ada ketertarikan membaca lebih banyak karyanya usai memenangkan Nobel Sastra. Jika dalam The Vegetarian saya dipaksa mencerna metafora ganjilnya, lantas bagaimana dengan We Do Not Part? We Do Not Part novel yang tidak hanya menarasikan persahabatan dua perempuan, melainkan juga mengurai penindasan kekerasan historis pada tragedi Jeju 4.3 melalui pengalaman dan trauma yang dialami para tokohnya. Dalam bukunya, Han Kang bukan hanya menggunakan alam sebagai saksi bisu trauma, melainkan juga menjalin memori ingatan menjadi dua lapisan yang saling berkelindan: Generasi penyintas (Ibu Inseon): saksi hidup yang menyaksikan pembantaian oleh negara atas nama anti-komunisme di desanya. Dia menghabiskan sisa hidupnya mencari tulang belulang keluarganya di antara ribuan mayat, dan mengarsip setiap kliping koran, foto, dan peta, sebagai bukti bahwa mereka pernah ada. Generasi berikutnya (Inseon) yang mewarisi luka tragedi, generasi pasca-ingatan yang ditularkan langsung melalui cerita-cerita ibunya. Dia menyerap trauma itu sebagai kisahnya sendiri hingga batas antara realitas dan mimpi menjadi kabur. Han Kang mendedah bagaimana ideologi anti-komunisme digunakan sebagai lampu hijau untuk melakukan kekerasan. Di Pulau Jeju, tahun 1948, 30.000 warga sipil dibunuh hanya untuk memburu 100 gerilyawan di perbukitan. Kekejian berlanjut pada 1949 dengan pembunuhan 200.000 orang di daratan, sesaat menjelang Perang Korea. Pembaca bakal menemukan gambaran menyedihkan: eksekusi penduduk (orang tua, laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga bayi) tanpa pengadilan di gua-gua tempat para petani dan keluarga berlindung, lubang-lubang tambang, hingga tepi pantai. Mayat-mayat yang terbunuh disembunyikan di tambang kobalt, tetap meringkuk di lubang-lubang, dan dibiarkan hanyut ke laut. Negara bahkan mengkriminalisasi upaya keluarga yang mencari tulang belulang orang mati. Meski tragedi ini hampir berusia delapan dekade, Han Kang menolak amnesia sejarah. Dia memaksa kita, para pembacanya, untuk tidak melupakan sejarah kelam suatu bangsa (dalam novel ini: tragedi Jeju), tidak diam terhadap kekerasan negara, terus mendengarkan, terus belajar dari penderitaan masa lalu, untuk menghormati para korban dan keluarga penyintas, dan yang lebih penting agar sejarah tidak berulang dalam bentuk yang berbeda. Selain itu, penggambaran kekerasan dan penderitaan yang jelas dalam narasi menekankan pentingnya memahami peristiwa-peristiwa ini untuk menumbuhkan kesadaran dan keterkaitan dengan trauma kolektif. Novel ini menjadi narasi penting yang berkontribusi pada wacana tentang trauma, ingatan, dan hak asasi manusia, menyoroti perlunya mengakui kekejaman masa lalu dan berjuang untuk keadilan. Secara teknis, Han Kang bermain sangat kuat dalam mengeksplorasi batin karakter-karakternya serta memberikan kejutan sensoris manusia sehingga pembaca turut merasakan migrain Kyungha, sensasi dinginnya salju di kulit, rasa teh panas yang menyebar ke seluruh tubuh, suasana lilin berkedip di meja dapur, luka-luka, kegelapan, kegelisahan, hingga rasa mual saat berhadapan dengan tumpukan mayat. We Do Not Part adalah bacaan yang cukup suram dengan alur yang sangat lambat, terfragmentasi, dan surealis. Transisi waktu antara masa kini dengan masa lalu yang mengabur berpotensi membuat cerita terasa datar, membingungkan, dan menjenuhkan bagi sebagian pembaca. Buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca yang menyukai fiksi sejarah maupun mereka yang ingin melihat bagaimana sastra bertindak sebagai suara hati nurani sebuah bangsa. Pilih mana: hidup tenang dengan cara lupa, atau terus terluka karena menolak diam? ••• Kutipannya: Aku tersadar betapa rapuhnya kehidupan. Betapa mudahnya daging, organ, tulang, dan nyawa-nyawa itu untuk hancur dan terputus. Hanya dengan satu pilihan. (Hal. 16) Aku harus hidup lagi meskipun tidak berdamai dengan kehidupan. (Hal. 17) Bagi seseorang yang sedang melewati masa ketika tidak bisa membedakan kenyataan dengan mimpi buruk yang sudah lama tidak bisa membuatnya tidur, pemandangan sulit dipercaya itu pasti membuatnya meragukan diri sendiri. (Hal. 21-22) Ada tipe orang yang ingin mengubah hidup mereka. Mereka yang berusaha maksimal untuk selalu mengambil keputusan-keputusan sulit dan bertanggung jawab atas hasilnya. Mereka yang tidak akan mengejutkan orang-orang di sekitar apa pun jalur yang mereka jajaki ke depannya. (Hal. 35)

0 Comments