Althusser Pembunuh (Banalitas Kejantanan): Ketika perempuan hanyalah sebuah nama dan ruang cerita dimiliki laki-laki
Januari 01, 2026•••
Identitas buku:
Judul: Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan
Penulis: Francis Dupuis-Déri
Penerjemah: Rio Johan
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: 2025
Jumlah: 82 halaman
ISBN: 978-602-0788-66-1
Kategori: Novel, nofiksi, esai, kajian perempuan/kajian budaya/filsafat
•••
Blurbnya:
Pertengahan November 1980, filsuf Marxis Prancis Louis Althusser mencekik istrinya, Hélène Rytmann, sampai mati di apartemen mereka dalam kompleks kampus École normale supérieure (ENS), Paris. Anehnya, Althusser tidak pernah sesaat pun dipenjara atas kejahatan ini. Sebelum polisi menggelar penyidikan, dia langsung dimasukkan ke rumah sakit jiwa dengan alasan gangguan mental, dan pengadilan pun lalu menutup kasusnya.
Francis Dupuis-Déri, seorang peneliti anarkis dan profesor kajian feminis di Université du Québec à Montréal, hendak menggugat peristiwa tersebut dan menunjukkan bahwa pelaku kekerasan domestik yang berasal dari lingkaran elite kebudayaan dan politik seperti Althusser selalu dilindungi oleh lingkungan kelas sosialnya yang seksis dan maskulin, yang mendepolitisasi fenomena sosial kekerasan terhadap perempuan menjadi soal kejiwaan semata.
Buku yang sangat relevan untuk meneropong perdebatan dewasa ini tentang seruan memboikot tokoh-tokoh seni dan budaya terkemuka yang terlibat dalam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Dipertanyakan di sini haruskah kita memisahkan penulis dari karyanya? Mungkinkah aksi pembunuhan Althusser dikutuk sementara karya-karya filsafatnya terus dibaca dan dipelajari?
•••
Garis besarnya:
Sudah dijelaskan dalam blurb.
Siapa itu:
Francis Dupuis-Déri, seorang profesor kajian feminis di Université du Québec à Montréal, menggunakan pendekatan multidisipliner untuk mengungkap peristiwa ini. Ia menganalisis tulisan-tulisan Althusser pasca pembunuhan, solidaritas maskulin di sekitarnya, dan respons dari kerabat dekat serta feminis terhadap kasus tersebut. Dupuis-Déri berargumen bahwa patriarki berfungsi sebagai aparatus ideologi negara yang mendepolitisasi kekerasan terhadap perempuan menjadi masalah kejiwaan semata, sementara pelaku tetap mendapat perlindungan sosial.
•••
Resensinya:
Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan (selanjutnya saya tulis APBK), sebuah esai yang tidak sekadar menceritakan kembali peristiwa pembunuhan Hélène Rytmann oleh suaminya, filsuf ternama Louis Althusser; melainkan juga mengupas bagaimana sistem sosial yang kuat, dan budaya maskulin/patriarki mampu bekerja secara sistematis untuk melindungi sekaligus melanggengkan pelaku kekerasan terhadap perempuan.
Studi ini mengajak pembaca untuk memahami bagaimana fenomena femisida bisa menguap begitu saja melalui strategi yang digunakan oleh Althusser–lingkungan sosial–media sehingga membebaskannya dari tuduhan pembunuhan tanpa pernah menimbulkan konsekuensi baginya, bahkan membebankan kesalahan kepada sang korban, istrinya.
Beberapa poin penting dari tujuh bab APBK yang Dupuis-Déri tuliskan:
Menentang upaya psikologisasi atas pembunuhan tersebut: taktik untuk mendepolitisasi kekerasan sebagai “kejahatan karena nafsu” dengan narasi bahwa pelaku menderita gangguan jiwa dan ketika kejadian berlangsung dia sedang mengalami hilang akal. Kondisi psikologisnya dieksploitasi untuk membebaskannya dari tanggung jawab apa pun–narasi yang ironisnya masih berlaku hingga saat ini, bukan. Padahal, dalam tulisannya sendiri, Althusser mengungkapkan kekerasan yang dia lakukan kepada Hélène dan menebar ancaman bunuh diri jika ditinggalkan.
Adanya solidaritas maskulin. Dengan memanfaatkan modal sosial yang kuat di lingkungan akademik, Althusser segera mendapatkan perlindungan, tidak ditahan sedetik pun, tidak ada pengadilan, benar-benar lolos dari jerat hukum, hanya dikirim ke rumah sakit jiwa. Di sini, solidaritas maskulin–sistem yang membela kehormatan pelaku laki-laki di atas nyawa korban perempuan–terbukti bekerja secara efisien.
Memberikan kritik terhadap media massa yang bersikap seksis dan misoginis, menyajikan kasus femisida sebagai kejahatan individu alih-alih kekerasan sistematis, memproduksi narasi yang melanggengkan budaya patriarki dan menghapus konteks adanya relasi kuasa gender. Media–sampai saat ini–masih kerap menyudutkan korban, melabeli korban, dan berpihak kepada pelaku. Bahkan, media acap kali memberikan framing pembalikan yang menjadikan pembunuh sebagai korban/sosok yang patut dikasihani sehingga korban sesungguhnya mengalami “kematian ganda”
Mengajak pembaca merenungkan etika intelektual: apakah kita benar-benar bisa memisahkan sebuah karya dari perilaku tidak terpuji penulisnya, atau dalam lingkup lebih luas, bagaimana kita menanggapi kasus kekerasan terhadap perempuan yang melibatkan tokoh publik. Sejauhmana keberpihakan kita kepada korban?
Secara keseluruhan, terjemahan APBK apik, pilihan katanya membuat pembahasan padat perihal dominasi maskulinitas dan kekerasan dalam rumah tangga mudah dipahami. Buku ini masih relevan hingga sekarang dengan kemiripan pola. APBK saya rekomendasikan untuk akademisi, aktivis perempuan, maupun pembaca yang tertarik dengan tema-tema sosial/perempuan.
Jadi menurutmu, perlukan kita memisahkan karya dari tokoh publik yang memiliki "masalah"?

0 Comments