Menunggu Godot: Sebuah Komedi Tentang Ketidakpastian yang Abadi
Januari 01, 2026••• Judul: Menunggu Godot Judul asli: Waiting for Godot, A Tragicomedy in Two Acts Penulis: Samuel Beckett Penerbit: Narasi Tahun: Cetakan ke-2: 2017 Jumlah: 266 halaman ISBN: 9789791684682 Kategori: Fiksi, naskah teater ••• Sesudah GODOT dikenal luas di Indonesia sejak 1989, tatkala pentas di Teater Besar, TIM, oleh Bengkel Teater, baru sekarang naskahnya mewujud dalam bentuk buku. Lakon ini diharapkan bisa merangsang lebih banyak pencinta teater tidak hanya mementaskannya, tetapi juga mempelajari lebih suntuk. Sebab lakon yang tampaknya bernada-dasar pesimistik ini, sebenarnya terkandung keberanian luar biasa untuk mempertahankan kesetiaan menunggu sesuatu yang diharapkan. Hadirnya buku ini diharapkan bisa membantu kita untuk tetap setiap kepada sesuatu atau seseorang atau keadaan yang kita nanti-nantikan. Kita memerlukan dorongan semangat untuk bisa menjaga daya hidup …. ••• Terdiri atas dua babak: Babak pertama Vladimir (Didi) dan Estragon (Gogo) tengah menunggu Godot di satu tempat tandus dekat pohon willow. Keduanya menunggu sambil membicarakan banyak hal–mulai dari Gogo yang berkeinginan mencopot sepatu botnya, Didi yang terobsesi dengan topinya, mengeluhkan hidup, kematian, kebosanan, dan lainnya. Percakapan keduanya teralihkan ketika seorang laki-laki (Pozzo) melintas bahkan menduganya sebagai Godot yang mereka tunggu. Sayangnya bukan. Pozzo justru datang bersama budaknya, Lucky. Dia memperlakukan Lucky dengan kejam: lehernya diikat dengan tali, dicambuk, diminta menjunjung kopor-kopor berat, tidak diperbolehkan bicara kecuali diperintah. Meski demikian, Lucky tetap tidak bisa meninggalkan Pozzo. Tatkala Pozzo dan Lucky berlalu, datang bocah pembawa pesan yang mengabarkan jika Godot tidak jadi datang dan akan datang keesokan harinya. Babak kedua Besoknya, Didi dan Gogo pun melakukan hal sama: menanti kedatangan Godot dengan tetap membicarakan banyak hal seperti sebelumnya. Pembicaraan keduanya terhenti saat Pozzo dan Lucky datang. Namun, kini Pozzo menjadi buta dan tidak mengingat peristiwa kemarin. Dia tetap membawa serta Lucky dan memperlakukannya dengan sama kejamnya. Di penghujung babak, Didi dan Gogo terus menunggu Godot yang tidak kunjung datang. ••• Saya cukup lama tahu tentang buku ini, tetapi baru benar-benar ada keinginan untuk berkenalan dengan Menunggu Godot ketika tengah membaca Jagat Rajawali, si tokoh utama yang masih SMP saja bisa menamatkan naskah drama ini, masa saya enggak, wkwkkw. Bagaimana kesan pertama saya usai membaca Menunggu Godot? Bingung. Iya, bingung. Ada semacam teka-teki yang sengaja dibuat Beckett dan ditinggalkan begitu saja. Saya menangkap ada upaya mengeksplorasi manusia dan waktu melalui latar minimalis, percakapan dan tindakan absurd para tokoh. Akhirnya saya putuskan membaca ulang setelah mengambil jeda beberapa hari. Hasilnya? Menunggu Godot, naskah drama yang menawarkan kompleksitas kehidupan, pencarian makna sebagai manusia, rumitnya pikiran manusia, dan tema-tema ketidakpastian, ketakutan, kesetiaan, hingga keyakinan. Melalui dua babaknya, pembaca akan mendapati sebuah alur cerita dengan pergerakan waktu yang terus melaju, tetapi pengalaman manusia terhadapnya tetap ajeg, monoton, dan menjadi sebuah rutinitas, yang kalau kita pikir-pikir sangat beresonansi dengan kehidupan kita, bukan? Lebih jauh, absurditas menjadi hal yang mencolok dalam naskah ini. Dua tokoh utama–Didi dan Gogo, dengan pakaian lusuh dan ketidakcakapan kemampuan–terlibat dalam percakapan konyol dan aktivitas yang, barangkali, tidak masuk akal. Mereka tidak yakin hampir pada segala hal, tetapi sangat meyakini untuk menunggu Godot dan rela menghabiskan waktu untuk itu. Bahkan meski mengetahui Godot tidak akan datang dan menerima situasi tersebut, alih-alih menganggapnya sebagai janji temu yang sia-sia, keduanya tetap bertekad menanti tanpa henti untuk sesuatu/seseorang/kondisi yang entah sebenarnya nyata ada atau tidak. Menunggu Godot seakan-akan menegaskan bahwa kehidupan itu absurd, tidak ada yang pasti, dan perilaku manusia sendiri menampilkan sisi yang tidak kalah absurdnya. Selain sindiran karakter manusia yang banyak bicara, tetapi no action mewarnai cerita lewat percakapan-percakapan (pada akhir babak, Didi dan Gogo bersepakat untuk pergi atau mengakhiri hidup, tetapi keduanya tidak menjalankannya dan masih setia menanti Godot), tidak satu pun karakter dalam Menunggu Godot memiliki tujuan yang bermakna. Benar bahwa Didi–Gogo–Pezzo–Lucky mengerjakan sesuatu yang spesifik: mengisi waktu dengan menunggu dan melakukan perjalanan, kedua pasang tokoh itu mencoba berjuang dan percaya mendapatkan maknanya, tetapi tampaknya tidak ada yang bisa ditemukan. Yang satu, mereka melakukan perjalanan yang tanpa tujuan, tidak berujung, dan entah ke mana. Yang lainnya, mereka tahu bahwa mereka tidak harus menunggu, tetapi karena mereka tidak punya hal lain untuk dilakukan, maka mereka terus menunggu. Bisa jadi, inilah sisi lain manusia: ketidakberdayaannya dengan kehidupan, hanya menjalankan kehidupan, dan satu-satunya harapan yang tersisa bagi mereka adalah menghilang dan mati untuk memutus siklus tersebut. Meski demikian, penantian dan kesetiaan turut hadir dalam drama ini. Dua kata tersebut saling melengkapi dan mengikat menjadi sebentuk loyalitas yang luar biasa. Menanti Godot (yang masing-masing menginterpretasikan macam-macam: seseorang/benda/perubahan/kejadian/harapan/lainnya) layaknya pekerjaan yang harus dijalankan terus-menerus, senang atau tidak. Menunggu Godot berupa naskah drama dua babak yang merentang selama dua hari dari kehidupan para tokoh yang tidak melakukan apa pun selain mengulangi aktivitas yang sama. Beckett sepertinya sengaja membuat drama yang memiliki makna universal. Naskah ini berisi dialog-dialog tidak keruan juntrungannya. Terjemahannya cukup oke, pilihan katanya mudah dipahami. Buku ini saya rekomendasikan bagi pembaca yang ingin mencoba membaca naskah drama, menggemari cerita minim narasi atau latar, maupun yang menyenangi kisah-kisah bertema absurditas kehidupan. Tertarik baca? ••• Tidak ada yang lebih lucu dari ketidakbahagiaan. (Hal. xi) Pada detik ini kita tidak lain kecuali sekadar seonggok tulang–yah, tak ada keraguan lagi. (Hal 5) Jangan abaikan perkara remeh apa pun dalam hidup ini. (Hal. 8) Harapan yang tertunda membuat segalanya runyam. (Hal. 8) Orang yang bijak sebaiknya tidak tertawa. (Hal. 11) Dengan bergaul dengan makhluk berbudi orang bisa menjadi makin bijak, makin kaya–suatu hal yang biasanya tidak disadarinya. (Hal. 65) Kalau kita semua saling bicara berbarengan, maka kita tidak akan ke mana-mana, kita cuma berputar-putar saja. (Hal. 69) Tiap orang kan menjalani garis nasibnya sendiri. (Hal. 72) Air mata di alam ini jumlahnya tetap sama. Begitu ada seseorang mulai menangis, maka di tempat lain ada yang mulai diam. Demikian pula halnya dengan tertawa. Ah, tak perlulah kita omongkan perkara derita yang ditanggung generasi kita, bukan berarti generasi kita lebih tidak bahagia dibanding leluhur kita. Janganlah kita bicara yang tidak-tidak mengenai keduanya. Jangan lagi bicara tentang soal itu. Mari kita bicara tentang hal lain. (Hal. 75) Saya bertanya-tanya apa kita ini tidak lebih baik kalau saling berpisah, sehingga masing-masing sendirian untuk dirinya sendiri saja? (Hal. 137-138) Ada sesuatu perbuatan yang dinilai, suatu cara bertindak yang diperhitungkan kalau kamu ingin bertahan. (Hal. 148) Kita bahagia. Apa yang kita perbuat sekarang, setelah kita bahagia? (Hal. 150) Tidak pernah ada sungai yang sama pada detik yang satu dengan berikutnya. (Hal. 151) Setiap orang menanggung bebannya sendiri. Sampai dia mati. Atau lupa. (Hal. 156) Sementara itu marilah kita mencoba tenang, lalu berbincang dengan tenang pula. Soalnya kita tidak berbakat untuk membisu. (Hal. 156) Jangan sia-siakan waktu dengan omong kosong lagi! Ayo kita berbuat sesuatu selagi ada kesempatan! Tidak setiap hari kita dibutuhkan orang. Belum tentu kita menjadi orang yang selalu dibutuhkan. Orang lain juga demikian, kalau bukan lebih baik nasibnya …. Ayo kita berbuat yang paling baik, sebelum terlambat! (Hal. 215) Sejauh yang saya tahu waktu akan terasa lambat dan memaksa kita menaklukannya dengan cara kerja tertentu yang kelihatannya masuk akal sampai hal itu berlaku menjadi kebiasaan. (Hal. 217) Kita sedang menunggu. Kita mulai jemu. Jangan, jangan menyanggah. Kita jemu menghadapi mati, tidak ada yang mengingkari ini, kan? …. Dalam sekejap semuanya sirna dan kita sendirian lagi di tengah-tengah ketiadaan. (Hal. 218) Apakah mungkin kita menolongnya kalau kita bukan teman dia? (Hal. 233) Orang buta tidak punya ukuran waktu. Bahkan juga tidak bisa mengenali waktu. (Hal. 238) Rasanya semuanya cuma khayalan! Berani sumpah, kenyataannya adalah kebalikan dari semuanya tadi. (Hal. 239) Apa yang akan kamu kerjakan kalau kamu terjatuh dan tidak ada yang menolong? (Hal. 247) Waktu terjadinya adalah pada suatu hari. Suatu hari dia menjadi dungu, suatu hari saya menjadi buta, suatu hari kita akan menjadi tuli, suatu hari kita dilahirkan, suatu hari kita akan mati, pokoknya pada suatu hari–hari yang sama dengan hari-hari yang lain. Hari-hari itu, sang waktu, membuat kelahiran mengangkang hingga liang lahat, membuat cahaya sekilas berkejap, kemudian membuat malam pun datang menjelang. (Hal. 248)
Penantian panjang tanpa akhir pada sosok yang tidak kunjung datang. Samuel Beckett mengajak kita menertawakan absurdisitas manusia dalam rutinitas sia-siaIdentitas buku:
Blurbnya:
Garis besarnya:
Resensinya:
Kutipannya:

0 Comments