Heaven: Bukan Sekadar Cerita Perundungan Biasa

Januari 01, 2026

Sebuah novel yang mempertanyakan posisi korban perundungan di hadapan dunia

•••


Identitas buku:

Judul: Heaven

Penulis: Mieko Kawakami

Penerbit: KPG

Tahun: Cetakan ke-3: 2025

Jumlah: 232 halaman

ISBN: 9786231341181

Kategori: fiksi, novel

TW: perundungan, keinginan bunuh diri, kekerasan


•••


Blurbnya:

Seorang anak laki-laki empat belas tahun dirundung karena bermata juling. Satu-satunya orang yang mengerti apa yang dialaminya adalah teman sekelasnya, Kojima, siswi yang juga mengalami perundungan serupa. Bagaimana persahabatan yang dibayangi sekaligus direkatkan oleh penderitaan dan ketakutan ini akhirnya berkembang?


•••


Garis besarnya:

Julukannya Lonpari (satu mata melihat London, mata yang satu lagi melihat Paris). Karena matanya yang juling, Aku–yang tidak diketahui namanya sampai akhir cerita–mengalami perundungan dari geng Ninomiya. 


Suatu hari, Aku menerima surat bertulis “Kita sekutu” dari Kojima, teman perempuan satu kelas yang juga korban perundungan karena penampilannya yang dekil dan kotor. Dari situ, persahabatan keduanya terjalin, saling menguatkan dan menghibur. Mereka membentuk koneksi dari persamaan nasib. 


Sekalipun keduanya berusaha tidak mencolok dengan saling berinteraksi secara langsung di sekolah, Aku dan Kojima kerap bertemu bahkan bepergian bersama.


Selama ini, Aku menerima perundungan tanpa mengerti mengapa Ninomiya cs melakukan hal tersebut. Sampai satu peristiwa–akibat perisakan–mengantarkannya ke rumah sakit dan bertemu dengan teman akrab Ninomiya: Momose. Keduanya terlibat percakapan dan Aku menggugat alasan mengapa mereka merundungnya.


•••


Resensinya:

Lama sekali saya tidak mendapati buku yang ketika membacanya membuat perasaan tidak nyaman, geregetan, dan terus-terusan berhenti untuk mengambil jeda, dan begitu kelar menamatkannya, pikiran saya masih bergelayut dengan apa yang terjadi dalam buku tersebut, terutama dengan dialog-dialog tokoh-tokohnya.


Heaven, novel yang mengulik trauma dan perundungan kehidupan remaja Jepang. Kisahnya mengajak pembaca menelusuri batas antara empati–moralitas–hierarki sosial sekolah menengah pertama–eksistensi masa pubertas yang tidak saja menghadirkan rasa frustrasi, melainkan juga cerita manis lagi rumit, percakapan-percakapan filosofis, keputusasaan, hingga perilaku mekanisme koping melalui autoerotisme.


Buku ini sangat apik menjadi media atau referensi untuk berkontemplasi: mengapa ada perundungan, mengapa ada perundung, dan mengapa yang dirundung memilih diam. Alasan-alasan tersebut sangat gamblang tertuang dalam Heaven. Lebih jauh, alih-alih menjadikan Heaven sebagai kisah yang menghangatkan hati atau menawarkan kemenangan bagi kaum tertindas, Kawakami justru menunjukkan bahwa hidup tidaklah adil bahkan kerap kali didasarkan pada ketimpangan kekuatan di antara manusia.


Bahkan, novel ini menyajikan garis tebal perbedaan sudut pandang perundungan antara penyiksa dan yang disiksa, antara Momose dan Kojima. Pertentangan ideologi tersebut memberikan ruang bagi pembaca untuk menafsirkannya sendiri–selain membikin tokoh utamanya juga bingung.


Kojima percaya bahwa segala sesuatu memiliki makna, pun dengan penderitaan merupakan sesuatu yang berharga. Dia menerima perundungan itu tidak hanya sebagai bentuk solidaritas terhadap ayahnya, melainkan juga meyakini bahwa semua pihak akan menyadari dan mengerti–dengan sendirinya–pada akhirnya. Baginya, surga (atau heaven sebagaimana judul buku) merupakan bentuk lain dari penderitaan yang transformatif: kebahagiaan dan kebaikan yang bisa dicapai ketika telah melalui semua penderitaan, ketika semua telah berakhir.


Di sisi lain, ide tersebut dibantah oleh Momose. Dia menyatakan jika semua hal di dunia itu tidak memiliki makna dan tidak perlu harus diresapi agar bermakna. Baginya, setiap orang bebas melakukan apa pun yang ingin dilakukan, tanpa ada alasan tertentu, tetapi karena ingin, dan karena ada perbedaan posisi dalam struktur kekuasaan sosial. Momose bahkan menekankan perlawanan jika tidak ingin ditindas, tidak sekadar menghadapi dalam pikiran semata. Menurutnya, surga atau neraka adalah tempat yang sama saja, setiap orang bisa berada di keduanya atau salah satunya, tergantung bagaimana menjalani hari-hari.


Tidak hanya berlainan ideologi, novel ini turut menghadirkan benturan lainnya: meski sama-sama anak korban perceraian, yang satu memiliki support system di keluarganya, yang lainnya tidak; meski sama-sama mengalami perundungan, yang satu memiliki optimisme, yang lainnya pasrah. 


Tentu saja, saya tetap ingin mengatakan bahwa korban perundungan memerlukan dukungan kuat dari orang terdekatnya agar mereka tetap merasa aman, terlindungi, dan didengarkan; serta mereka juga perlu keberanian untuk mengatakan apa yang telah mereka alami.


Heaven menggunakan sudut pandang orang pertama yang menggambarkan emosi, sensasi, dan krisis korban perundungan dengan bagus. Transisi tokoh utama dari pesimis ke optimis bergulir dengan mulus dan apik. Bahkan, setiap momennya (perundungan, putus asa, kegalauan Aku, kebersamaan dengan Kojima, dan perdebatan dengan Momose) terbangun dengan baik. Selain itu, terjemahannya oke dan gampang dipahami, serta deskripsi latar dan perisakannya pun detail sehingga membuat perasaan tidak nyaman.


Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca sejak berusia dewasa muda. Bagi penyintas perundungan, perlu kebijaksanaan untuk membaca buku ini sebab bagi sebagian orang mampu memantik semangat untuk berani bersuara dan melawan, dan bagi sebagian lainnya  berpotensi memicu trauma bahkan yang memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup. 


Tertarik baca? 


•••


Kutipannya:

Apa maksudnya jadi teman, lebih-lebih, apa yang membuat seseorang jadi teman bagi yang lain? (Hal. 8)


Merasa sakit dan menangis itu hal yang agak berlainan menurutku. (Hal. 42)


Hidup bersama binatang yang tak bisa bicara itu pasti terasa berbeda dari hidup bersama manusia. (Hal. 46)


Manusia kan juga bermimpi selama tidur, setelah bangun pun kadang memikirkan ini itu tentang isi mimpinya, memang bising, ya. Apa manusia bisa tidak berpikir apa-apa? (Hal. 47)


Seperti apa dunia ini andai tak ada bahasa, aku kadang-kadang kepikiran. (Hal. 47)


Kalau manusia, meski tidak terluka fisik, bisa terluka sangat parah, barangkali. (Hal. 48)


Memanfaatkan penderitaan orang yang bunuh diri sebagai bahan untuk melegakan diri sendiri itu tampak sebagai pikiran manusia yang amat keji. (Hal. 67)


Nah, apa Tuhan itu ada, menurutmu? (Hal. 83)


Mungkin … ada hal-hal yang maknanya bisa dipahami selama hidup … dan mungkin ada hal-hal yang baru bisa dipahami setelah mati dan orang lantas berkata seperti, ‘Oh, ternyata begitu ….’ Lagi pula kapan sesuatu bisa dipahami itu tidak begitu penting, yang penting adalah bahwa penderitaan dan kesedihan begini pasti ada maknanya. (Hal. 84)


Soalnya, perasaan orang kan beraneka ragam, masing-masing berbeda. (Hal. 93)


Kita ini bahan latihan apa sasaran yang sesungguhnya? (Hal. 122)


Selagi hidup, cepat atau lambat semua orang akan mati. Kalau begitu, bukankah hidup dapat dikatakan setara dengan hanya menunggu mati? Kalau begitu, buat apa orang hidup? Kenapa aku hidup? (Hal. 143)


Jika orang tak bisa mati dalam arti sesungguhnya meski sudah mati, apa orang benar-benar lenyap? Bukankah tidak tertutup kemungkinan orang bergentayangan selama-lamanya dalam mimpi? Dan bukankah tak ada yang tahu apa bedanya dunia yang menyerupai mimpi dan dunia tempat aku sekarang hidup? (Hal. 143)


Tak seorang pun berhak melakukan kekerasan kepada orang lain. Tidak di mana-mana. (Hal. 153)


Kau tidak bisa mengeluh terhadap dunia, meski dunia tidak memperlakukanmu dengan sikap yang kau harapkan. (Hal. 155)


Manusia lemah tidak tahan menghadapi kenyataan. Menghadapi penderitaan ataupun kesedihan, bahkan hidup yang sebenarnya tak bermakna ini. Manusia lemah bahkan tak tahan berhadapan dengan fakta wajar itu. (Hal. 165)


Dunia ini penuh dengan orang-orang yang bisa melakukan berbagai hal dan yang tidak bisa melakukan berbagai hal. (Hal. 167)


Memang orang punya hal yang bisa dilakukannya dan hal yang tidak bisa dilakukannya, ada pula hal yang ingin dilakukannya dan hal yang tidak ingin dilakukannya. Dan iya, bisa dikatakan orang punya selera masing-masing. Pokoknya, orang melakukan hal yang bisa dilakukannya. Begitulah kenyataannya. Sederhana. (Hal. 167)


Andai sekarang terjadi sesuatu lalu kau dan aku mati di sini, kita tidak akan disiksa lag. Tapi, di suatu tempat hal serupa pasti terjadi. Orang lemah selalu disiksa, tapi kita tak bisa apa-apa. Orang seperti itu tak kan habis. Tapi, apa cukup kalau orang lemah menjadi tidak lemah dengan meniru orang-orang kuat, dengan bersusah-payah masuk ke pihak orang kuat? Apa jadi beres dengan begitu? (Hal. 184)


Baik aku maupun kau hanya menafsirkan dunia sesuai kesemana-menaan masing-masing. (Hal. 218)


Mata kan sekadar mata. Hal-hal berharga tak kan rusak. Apa yang akan tinggal akan tinggal, apa pun yang trejadi. Sebaliknya, apa yang tak akan tinggal tak akan tinggal, apa pun yang kita lakukan. (Hal. 226)


Manusia bisa berubah meski tidak melakukan apa pun yang istimewa. (Hal. 229)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts