Balada Supri
Januari 21, 2025Keseruan perjalanan keluarga Supri dari masa kompeni hingga reformasi.
Identitas buku:
Judul: Balada Supri
Penulis: Mochamad Nasrullah
Penerbit: Penerbit Anagram
Tahun: 2019
Jumlah: 224 halaman
ISBN: 9786239161705
Kategori: fiksi, novel, Juara Ketiga Sayembara DKJ 2018
•••
Blurbnya:
Maaf jika aku menemuimu begitu lama.
Berikan aku alasan yang masuk akal!
Salah seorang angkatan memopor kepalaku hingga aku hilang ingatan.
Aku percaya.
Dan beruntung aku disembuhkan oleh Si Nenek yang hutannya telah dibabat untuk jalan tol dan perkebunan sehingga ia harus menyadarkan orang-orang kota yang bertindak seenak dengkul mereka.
Pasti kau dimarah-marahi habis-habisan karena tidak membuatkannya kopi pahit?
Hampir setiap hari.
Bagaimana kau tahu aku di sini?
Aku diantar oleh Kuntilanak, bagaimana bapakku?
Ia mati bahagia.
-------------------------------
"Naskah ini ditulis dengan jenaka dan mengisahkan jatuh-bangunnya sebuah keluarga empat generasi dalam gaya realisme magis. Melalui lintas generasi kita dibawa pada gambar lebih besar berbagai peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia, menyeret para tokoh ke dalam pusaran dan dampaknya pada kehidupan anak-cucu generasi selanjutnya. Metafora-metaforanya menggelitik dengan dialog yang cair dan alami. Tokoh-tokohnya tidak terjebak ke dalam stereotip atau karikatur, memaparkan dengan jelas pergulatan batin dan adaptasi mereka di tengah berbagai perubahan."
- Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2018
•••
Garis besarnya:
Balada Supri memotret saga sebuah keluarga lintas generasi: Perompak Djaka, Djoko Telu, Djoko Tole, Supri Kumbang, dan Supri Burung. Para tokoh menjalani tragedi pada tiap-tiap zamannya. Perompak Djaka dan Djoko Telu mewakili masa penjajahan sekaligus musuh kompeni. Djoko Tole terlilit peristiwa tahun 1965. Supri Kumbang berada pada pusaran Orde Baru sewaktu pembunuhan terhadap preman dengan sniper marak terjadi. Terakhir, Supri Burung menjalani hari-hari dalam masa politik identitas warga Tionghoa pada reformasi 1998.
•••
Resensinya:
Akhirnya saya selesai juga membaca para juara Sayembara Novel DKJ 2018 (untuk Orang-Orang Oetimu sebagai juara pertama bisa baca di sini, dan Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman menyabet juara kedua dibaca di sini). Tinggal nanti mencari para pemenang yang menarik perhatian.
Sejauh ini, persamaan dari ketiga pemenang ini ada pada gaya bercerita dan memainkan plot serta alur cerita. Sama-sama berserakan, tetapi berkelindan jika dicari ujung pangkal dan akhirnya. Kalau terkait tema, ada latar sejarah yang mengiringinya juga.
Membaca Balada Supri serupa menjejaki kisah kehidupan turun-temurun sebuah keluarga sekaligus memotret perjalanan konflik demi konflik Indonesia dari masa ke masa. Masing-masing generasi dikisahkan secara ringkas nasibnya mengikuti perkembangan kekuasaan pemerintah dari zaman kolonial hingga Orde Baru yang dibuka dengan prosesi bunuh diri Supri Kumbang kemudian menyeruak ke ayahnya sebelum bergeser ke kakek dan kakek buyutnya dan kembali kepada dirinya lantas ditutup dengan kisah anaknya.
Para karakter dalam buku ini mengalami kesamaan yakni ancaman pembunuhan akibat dominasi penguasa pada zamannya masing-masing. Perompak Djaka yang diburu kompeni, Djoko Telu yang sudah menyingkir dan tidak mau ikut terlibat dengan sang ayah tetap kena getah sebab darah perompak mengalir dalam tubuhnya, Djoko Telo yang terseret dalam kejadian 1965, Supri Kumbang yang menjadi sasaran penembak runduk karena memiliki tato pada masa Orde Baru, sampai Supri Burung yang terdampak peristiwa 1998 yang menimpa etnis China di Indonesia.
Selain keluarga besar Supri Kumbang yang mewakili rentang waktu zaman pemerintahan di Indonesia, novel ini turut menyajikan kepercayaan warga pesisir (karena Perompak Djaka hingga Djoko Telo banyak dikisahkan tinggal di pesisir sebelum pindah ke pinggiran dan dekat dengan hutan) serta kepercayaan terhadap makhluk gaib yang dikemas secara realisme magis.
Kepercayaan warga pesisir terbentuk melalui cara Djoko Telo memperoleh tangkapan ikan karena pengaruh roh Djoko Telu yang meninggal di lautan. Hal tersebut mirip dengan kegiatan sedekah laut yang masih dilakukan di sejumlah tempat di Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta berinteraksi dengan binatang laut. Sementara kepercayaan terhadap makhluk gaib dalam buku ini yakni munculnya sejumlah makhluk tak kasatmata dan manusia hidup berdampingan dengannya: kuntilanak, genderuwo.
Hal yang saya sayangkan dalam Balada Supri adalah nuansa patriarki yang kentara serta seksisme terhadap perempuan. Terus terang saya kesal penulis berulang kali menyebut “istri cerewet” untuk pasangan Djoko Telo. Saya tidak mendapati di bagian apa sang perempuan menjadi begitu banyak bicara sehingga layak menyandang label istri cerewet. Bahkan kalau memang tidak bisa menghadirkan titik cerewetnya, cukuplah sekali-dua kali disebutkan frasa “istri cerewet”, tidak setiap kali tokoh tersebut hadir. Penegasannya terlalu berlebihan dan cenderung membosankan.
Selain itu, masih ada penilaian terhadap keperawanan perempuan. Muncul darah pada malam pertama itu wajib ada. Duh ….
Kisah ini ditulis menggunakan alur campuran dan penulis mengacaknya sedemikian rupa sehingga pembaca harus menyusun dan mengurutkannya sendiri berdasarkan kronologi cerita. Dialognya tidak kaku, cenderung jenaka meski sebenarnya perlu dipertanyakan kembali kemampuan menulis sang penulis maupun kemampuan menyunting sang editor.
Banyak sekali kesalahan ketik, penempatan tidak tepat antara di- sebagai kata depan dan sebagai awalan, cukup banyak kalimat tidak efektif dan berbelit-belit, sampai ejaan yang kurang pas. Sebenarnya masih ada satu lagi: dihilangkannya tanda petik sebagai penanda dialog atau kalimat langsung di sepanjang novel dari awal hingga lembar terakhir. Bagi beberapa pembaca hal ini akan sangat tidak nyaman sebab antara narasi dan dialog tidak jelas. Namun, saya tidak terlalu memusingkan hal tersebut sebab ada juga penulis lain yang karya-karyanya tidak memakai tanda petik (meski tidak sampai semua dialog seperti novel ini) dan menggantinya menjadi narasi dan ditambahkan kata: katanya, batinnya, ucapnya, dll.
Saya tidak tahu merekomendasikan ini kepada siapa karena teknik penulisan dan penyuntingannya yang buruk. Dan jelas mengurangi kenikmatan membaca. Akan tetapi, buat mereka yang mau bersabar dengan segala macam kekurangan dalam buku ini, secara teknis, silakan baca Balada Supri.
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Menjaga rahasia ataupun berkata bohong lebih berat dibandingkan memberi tahu kenyataannya. (Hal. 16)
… hidup ini hanya sebentar, tak perlu lari-lari seperti itu. (Hal. 17)
Alam mencintai mereka yang tidak memusingkan perut di hari esok. (Hal 20)
Tuhan menawarkan perkenalan di buminya di bagian mana pun. (Hal. 104)
Ada keyakinan dalam dirinya bahwa sebuah tempat mencari nafkah pasti akan ada hitam putihnya—hingga dunia ini memang sungguh kelabu. (Hal. 120)
Berbohonglah, maka kau akan membayarnya. Sementara kau sibuk menebus itu, pahamilah: kenyataan belum tentu benar dan kebohongan belum berarti salah. (Hal. 157)
Namun begitulah kenangan. Meski pahit dan hanya sebatas dalam pikiran, terkadang masih dibutuhkan. (Hal. 178)
Kematian belum tentu lebih baik daripada sekadar hidup sulit. (Hal. 187)
Anggaplah kita keluarga, tetapi bukan berarti harus selalu bergerombol seperti serigala. (Hal. 196)
Terkadang cinta bekerja dengan cara-cara yang tak terduga. (Hal. 208)
Jangan pernah memaksa orang menjadi sama. (Hal. 211)
Kau harus tahu betapa tidak menyenangkan mengetahui kebenaran ketika sebelumnya ada kebohongan yang kau yakini. (Hal. 222)
Betapa pun kesedihan yang sedang kaualami, matahari tidak akan meledak dan hidupmu akan terus berjalan. (Hal. 222)
.webp)
0 Comments