Orang-Orang Oetimu: Sebuah Sudut di Timor yang Tidak Sedang Baik-Baik Saja

Januari 09, 2025


Kisah-kisah jenaka dari saudara kita di Oetimu, NTT

•••


Identitas buku:

Judul: Orang-Orang Oetimu

Penulis: Felix K. Nesi

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun: Cetakan kelima: 2022

Jumlah: viii + 220 halaman

ISBN: 9789791260893

Kategori: fiksi, etnografis Timor, satire, slice of life


•••


Blurbnya:

Oetimu: suatu wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur. Masa itu adalah paruh kedua 1990an, dan kejadian-kejadian di wilayah Indonesia selebihnya mau tak mau berdampak kepada kehidupan sosial orang-orang di kampung yang terpencil itu. Kolonialisme Indonesia di Timor Timur kian disorot dunia internasional, sementara warisan kekerasan antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin ikut menyebar ke wilayah sekitarnya, demonstrasi menentang Soeharto kian marak di kalangan mahasiswa, dan Brazil berhadap-hadapan dengan  Prancis di final Piala Dunia.


Novel mengasyikkan yang menggambarkan masyarakat Timor Barat dengan segala kepelikannya, di mana gereja, negara, dan tentara berperan besar dalam kehidupan sosial. O ya, juga sopi dan seks.


•••


Garis besarnya:

Kisah dibuka dengan Sersan Ipi yang menjemput Martin Kabiti dan mengundang para laki-laki di kampungnya untuk menonton final Piala Dunia: Brazil vs Perancis. Di tempat itu, Sersan Ipi menjamu dengan banyak makanan dan minuman sekaligus mengumumkan dirinya akan segera menikah dengan Silvy, kembang desa yang jadi incaran serta pujaan hati laki-laki tua maupun muda. Di lain tempat, rumah Martin Kabiti kedatangan tamu, Atino, yang bermaksud menghabisi nyawa sang pemilik rumah.


Pada bab kedua cerita bergulir pada pengenalan tokoh Laura (16) dan kehidupannya bersama orang tuanya yang mati terbunuh sebab disangka komunis. Dia harus menjalani hari demi hari dengan kekerasan seksual sampai akhirnya berhasil kabur dan bertemu dengan Am Siki dalam kondisi mengerikan dan hamil.


Membalik halaman ada kisah kehidupan Am Siki yang berhasil membunuh empat prajurit Jepang dan membakar satu kamp sehingga ketika dia pulang warga menyambutnya sebagai sosok pahlawan, pejuang bangsa … kemudian ada kisah asmara–cukup dalam hati saja–antara Romo Yosef dan Maria … lanjut ada seorang calon sarjana yang melakukan persetubuhan dengan lebih dari seratus mahasiswi yang kesemua perempuan itu tidak satu pun yang hamil … tidak ketinggalan pula masa lalu dan alasan Atino … lalu ke Silvy, siswa cerdas yang kelewat cerdas sampai para guru gerah … dst. dst. dst. … balik lagi ke Sersan Ipi di malam final Piala Dunia.


•••


Resensinya:

Orang-Orang Oetimu, dari judulnya saja sudah bisa menggambarkan novel ini berkisah tentang apa. Benar! Buku ini banyak bertutur tentang keseharian para penduduk Oetimu, satu tempat di pelosok Nusa Tenggara Timur–meski tidak seratus persen kisahnya di sana, sih, ada juga yang di Timor Timur–dengan ragam dinamika sosialnya yang diceritakan secara mendetail (baik karakter tokoh, suasana, dan tempat).


Karakternya banyak … banget. Saya membaginya menjadi dua kisah besar–yang saling berkelindan–yakni berpusat kepada Sersan Ipi dan Silvy; Romo Yosef dan Maria. Di antara keempat tokoh itu masih ada sejumlah tokoh sentral lainnya, sebut saja: Am Siki, Laura, Linus, Martin Kabiti, Atino. Ngomong-ngomong semua tokoh itu berperan semua, jadi … kalau Anda tanya siapa tokoh utamanya, saya bakal jawab semua nama yang ada dalam buku itu tokoh utama sebab mereka penting, saling terkait satu dengan yang lain meski dengan kisahnya masing-masing.


Buku ini mengambil sejumlah kepingan sejarah: kolonialisme Belanda-Portugis-Jepang, usai kemerdekaan, ketika Presiden Soeharto lengser, dan final Piala Dunia 1998. Sejak penjajahan sampai kemerdekaan hingga histeria antikomunis ke semangat reformasi. Latar waktu tersebut berlangsung dengan alur yang acak alias maju-mundur serta sebab-akibat keterkaitan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain tersebar dengan perpindahan plot yang mulus dan halus.


Selain menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis memakai diksi yang sederhana cenderung jenaka, ada sejumlah bahasa lokal dan istilah-istilah tersebut dijabarkan pada awal buku sebelum memasuki bab cerita, tidak terlalu berat untuk dipahami meski berlatar waktu tahun-tahun penuh gejolak saat itu, komposisi komedi dan satirenya pas untuk menyeimbangkan kisah-kisah malang lagi tragis nan pedih dengan kematian yang beruntun, dan adegan erotis pun tertulis dengan gamblang.


Nah, itu resensi singkat unsur intrinsiknya. Selanjutnya mari mulai meresensi isi ceritanya.


“Makanya, kalau tidak percaya kepada cerita bangsa sendiri, jangan dengarkan juga omong kosong bangsa lain.” (halaman 216)


Orang-Orang Oetimu, merupakan novel pemenang pertama Lomba Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018. Buku ini memuat lintasan waktu sejarah Indonesia dalam sudut pandang Oetimu dan Timor. 


Dalam pandangan saya, penulis mampu mengelaborasi dengan apik muatan sejarah dengan unsur fiksi bahkan memparodikan–serta menyindir dalam balutan ironi–sejumlah fakta kejadian untuk menyampaikan gagasan kritisnya: lihainya Belanda mengadu domba para suku asli, Belanda yang bersekongkol dengan tetua suku agar menjual sumber alamnya kepada mereka, pemberantasan PKI salah satunya dengan menyusup dan berbaur dengan mahasiswa, ketegangan partai politik jelang dekolonisasi Timor Timur, sejumlah orang etnis Tionghoa yang terpaksa mengungsi akibat kerusuhan Mei 1998, hingga meledaknya reformasi.


Jika kita terbiasa dengan Jawa-sentris: mulai pembangunan; pendidikan; perekonomian, maka dalam buku ini pembaca akan mendapati gambaran tidak sekadar bagaimana mereka menjalani kehidupan yang jauh dari sentuhan negara, termarjinalkan oleh bangsa sendiri–tetapi negara malah merangsek masuk dengan peradabannya melalui institusi gereja dan militer–melainkan juga perspektif mereka terhadap orang-orang Jawa.


Dinamika sosial yang bergulir dalam buku ini tidak lepas dari dominasi negara, tentara, dan gereja dalam keseharian masyarakatnya. Selain jauh dari pendidikan dan peradaban–masih ada hutan, sabana, minim transportasi modern; penduduk Oetimu masih kukuh percaya hal mistis, menghormati leluhur dengan segala simbol-simbolnya, pengkultusan berlebihan terhadap sosok yang dianggap pahlawan (kisah heroiknya bisa bertambah-berkurang tergantung situasi dan kondisi), serta menghibur diri dengan menenggak sopi (minuman keras khas setempat) dan aktivitas ranjang.


Maka jangan heran dalam buku ini mereka cenderung terhegemoni. Misalkan saja para warga bangga makan nasi karena lebih bergizi ketimbang jagung/singkong yang disebut membikin bodoh dan mengalami gizi buruk, terkagum-kagum dengan orang terpelajar yang menggunakan istilah asing sampai-sampai demi bisa hura-hura dan foya-foya seorang anak berbohong kepada orang tua dengan dalih kebutuhan kuliah yang disebut pakai bahasa asing (padahal banyak ngaconya), para perempuan berbondong-bondong ingin menjadi cantik sebab iklan-iklan yang berseliweran di televisi dan majalah kerap menampilkan model-model Jawa yang putih; langsing; rambut lurus; dan gigi tonggos putih kinclong (orang Oetimu menyebut orang Jawa bergigi tonggos). 


Termasuk tatkala komunis mulai dinyatakan sebagai musuh negara, banyak aktivis mahasiswa yang membentuk kelompok doa agar tidak kena ciduk. Pada masa itu, dominasi gereja sangat kental. Agama menjadi penuntun kehidupan dan yang tidak beragama maka dinyatakan sebagai komunis dan siap-siap diberangus oleh tentara. Sayang, para pastor–pelayan suci Tuhan–malah kerap bermain mesum dengan para perempuan.


Belum cukup, penulis lebih jauh menyinggung dominasi kekuasaan yang sepihak. Aparat negara yang berbuat sewenang-wenang, konflik kepentingan para politikus, korupsi, ruwetnya birokrasi, pencitraan dengan memanfaatkan kesenjangan sosial dan kemiskinan untuk meraup suara dalam pemerintahan. Kapitalisme turut serta memeriahkan di tataran gereja (menjadikanya sebagai lahan basah) serta dalam dunia pendidikan pun tidak luput dari radar penulis: mengubah sekolah yang sebelumnya untuk anak miskin berganti bertaraf internasional sehingga banyak yang putus sekolah.


Semua tetek bengek sindiran-kritikan tersebut tersampaikan secara lugu–dan bodoh (?)–melalui kejadian-kejadian yang menimpa para tokoh-tokohnya.


Perihal cukup banyak adegan seksual, saya tidak terganggu dengan hal tersebut. Erotisme dalam buku ini memang menjadi plot cerita, menjadi sebab pada lembar-lembar lainnya, tentunya jika dihapus bakal kurang greget. Saya menyukai tokoh Silvy. Dia cerdas, pencinta buku, dan memiliki kesadaran penuh untuk memilih laki-laki yang pantas baginya. Hanya sayang, saya kurang menyukai adegan perempuan yang sedang sibuk masturbasi tahu-tahu menikmati ketika diperkosa saat itu juga.


Secara keseluruhan novel ini menarik. Penulis mampu meracik kisah sepanjang 220 halaman yang menghadirkan dua perasaan sekaligus kepada pembacanya: getir karena kisahnya yang tragis, dan tertawa karena ironinya maupun keluguan penduduknya.


•••


Kutipannya:

Kita semua mempunyai ayah untuk kita kenang. (Halaman 17)


Betapa susahnya hidup ini: tanpa melakukan apa-apa kita tetap mengeluarkan uang untuk membayar negara. (Halaman 74)


Apakah yang berharga di mata Tuhan? Ialah hati yang terbuka. Hati yang menerima dan mau mengampuni. Hati yang penuh dengan cinta. Tuhan akan menjaga kita dan memberikan yang terbaik untuk kita. Hanya kadar keimanan dan rasa syukur kita yang selalu berkurang. (Halaman 128)


Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan, kalau kau tahu cara menggunakannya. (Halaman 137)


Mengapa untuk disebut terpelajar, mereka harus membayar sangat mahal untuk istilah-istilah asing. (Halaman 139)


Apakah doa hanya cara kecil melipur hati yang perih. (Halaman 146)


Dunia terlalu brengsek. Ia akan selalu menemukan cara untuk menyakiti. (Halaman 159-160)





You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts