Sapuan Angin

November 15, 2025


Kompleksitas manusia yang seiring dengan perubahan cuaca

•••


Identitas buku:

Judul: Sapuan Angin (The Wind That Lays Waste, El viento que arrasa)

Penulis: Selva Almada

Penerjemah: Gita Nanda

Penerbit: Labirin Buku

Tahun: 2022

Jumlah: 146 halaman

ISBN: 9786239298340

Kategori: Novel, fiksi, AmLat, religi, keluarga


•••


Blurbnya:

Pendeta Pearson mencurahkan hidupnya untuk mewartakan firman Tuhan ke pelosok utara Argentina. Bersama Leni, putrinya, dia menyusuri dataran gersang dengan mengendarai sebuah mobil tua. Ketika mobil itu mogok, takdir menuntun mereka untuk berjumpa dengan Brauer, seorang montir paruh baya, serta asistennya, seorang bocah laki-laki yang biasa dipanggil Tapioca. Awan mendung mengintip di kejauhan. Badai akan menjelang. 


Dalam rentang satu hari yang terasa panjang, hubungan keempat tokoh mengalami pasang-surut. Watak mereka serta ketegangan antara satu sama lain pelahan terkuak: Pearson dengan kekakuannya, Brauer dengan kesinisannya, Leni dengan kesangsiannya dan Tapioca dengan kepolosannya. Ketika akhirnya badai menerjang, pergulatan yang tak terhindarkan pun meledak. 


Dikisahkan dalam tempo yang lambat tetapi mengalir, mendetail, dan indah, Sapuan Angin menandai kemunculan Selva Almada sebagai salah satu penulis paling berpengaruh dalam kesusastraan Argentina dan Amerika Latin kontemporer.


•••


Garis besarnya:

Pendeta Pearson, seorang pendeta Protestan yang kerap berkeliling untuk berkhotbah bersama putrinya yang berusia remaja–Leni. Mereka sering berpindah dari satu penginapan ke penginapan lainnya sepanjang pendeta menjalankan misi untuk menyebarluaskan jalan gereja sebagai satu-satunya jalan yang benar. Ketika mobil mereka mogok, keduanya menghabiskan hari di bengkel milik Brauer, seorang montir tua, dan anak asuh sekaligus asistennya, remaja berusia 16 tahun yang bernama Tapioca.


Berbanding terbalik dengan Pearson, Brauer tidak memiliki ketertarikan terhadap agama dan lebih memercayai hubungan manusia dengan alam. Di sisi lain, Leni kerap menyangsingkan keberadaan Yesus dan melontarkan kata-kata sinis sejak sang ayah meninggalkan ibunya dan selalu menempatkan Yesus di antara mereka–meski dirinya tidak menampik dengan khotbah Pearson yang karismatik. Sementara Tapioca, dalam pandangan pendeta, adalah sosok murni yang harus diselamatkan dan diajarkan perihal iman dan jalan Tuhan. Dia pun berniat membawa Tapioca ikut serta dalam perjalanannya yang memantik perdebatan dan konflik dengan Brauer.


Keempatnya mengalami dinamika dalam berinteraksi selaras dengan perubahan cuaca di sekitarnya. Dari panas menyengat kemudian mendung membawa hujan deras sebelum badai menerjang.


•••


Resensinya:

Sebagai penggemar bacaan Amerika Latin, tentu Sapuan Angin tidak lolos dari perhatian saya. Sudah cukup lama buku ini menjadi incaran, bukan karena ceritanya, melainkan karena Amerika Latin-nya, ya. Nah, begitu buku ini di tangan dan selesai dibaca, ternyata cukup berbeda dengan buku-buku lainnya yang pernah saya baca sebelumnya, hahaha. Sebenarnya cukup terkejut, sih, karena tidak mendapatkan kisah yang semegah Gabo, atau se-nyeleneh Fernanda Melchor, atau seunik Juan Rulfo. Buku tipis yang satu ini ringkas, tetapi banyak dakwahnya–salah satu tema yang kurang menarik perhatian saya, sebenarnya (sejauh ini tema religi yang cukup berkesan itu: Lusifer! Lusifer!).


Oke, mengesampingkan hal tersebut, mari saya resensi bukunya ….


Sapuan Angin, novel tipis yang melibatkan empat karakter (dan seekor anjing?) dalam satu hari ini erat dengan nilai-nilai religius serta menekankan pada kompleksitas hubungan antarmanusia dalam sebuah keluarga.


Dalam novel ini, pembaca akan menemukan kontras tajam keyakinan dan keimanan di antara tokoh-tokohnya, terutama dalam memaknai dan menafsirkan konsep ketuhanan: Kristen yang taat, menyangsikan eksistensi Tuhan, menyangkal keberadaan Tuhan dan cenderung meyakini alam sebagai sumber kebijaksanaan dan kekuatan, dan belum mengenal Tuhan.


Perbedaan kedalaman spiritual yang menggema dalam novel ini mengantarkan pada pergulatan batin dan memicu konflik dengan karakter lainnya. Meski berbenturan, Almada cukup apik dengan memberikan ruang kepada mereka untuk tetap berpegang pada pemahaman masing-masing hingga akhir cerita, terus berdampingan tanpa memengaruhi karakter lainnya.


Selain tema religi, novel ini memberikan gambaran perihal kelekatan orang tua–anak dalam sebuah keluarga. Buku ini memiliki dua karakter ayah (satu ayah kandung dan satu ayah sambung) dan dua karakter remaja (satu perempuan dan satu laki-laki), meniadakan sosok ibu (yang satu sengaja ditinggalkan, yang satu lagi menelantarkan). Para ayah ini kurang terlibat dalam kehidupan maupun pola asuh anak–remaja. Sang pendeta baik dalam berkeyakinan dan menampilkan perwujudan ayah yang saleh, tetapi lalai menjadi ayah dalam kehidupan anaknya, Leni. Dia lebih menjadi ayah yang memprioritaskan pekerjaan ketimbang keluarga. Di sisi lain, sang mekanik tidak mengerti bagaimana mengasuh anak, tidak mengabaikan atau menelantarkan, tetapi tidak berkeinginan untuk mengokohkah hubungan tanpa darah tersebut dengan kasih sayang sehingga ikatannya cenderung rapuh. Keduanya pun sama-sama tidak mendengarkan maupun mempertanyakan keinginan dan pendapat sang anak.


Meski demikian, ada alasan mengapa para ayah tersebut bersikap demikian, sebab pengalaman-pengalaman masa lalu keduanya membentuk konsep kebapakan mereka yang berpengaruh pada pengasuhan anak-anaknya di masa sekarang. Selain itu, novel ini pun menunjukkan jika ikatan kekeluargaan tidak selalunya terbentuk melalui hubungan darah, karena yang sedarah saja belum tentu sejalan, hehehe.


Meski tipis, plot dalam novel ini cenderung lambat. Almada memberikan banyak detail pada latar kejadian dan bab-bab singkat yang menyajikan pikiran masing-masing tokoh. Akhir ceritanya pun tidak memberikan kesimpulan apa pun selain penokohan karakter yang masih sama alias statis–ada yang menuju jalan ketuhanan ada yang menuju pada jalan kesunyian.


Ditulis dengan alur campuran (maju-mundur) dan terjemahannya baik, novel ini saya rekomendasikan untuk pembaca yang tertarik dengan kisah spiritual.


Tertarik baca? 


•••


Kutipannya:

Berikan yang terbaik untuk Tuhan: itulah kalimat yang didengarnya, berulang kali seperti mazmur, selagi para pembantu berjalan di antara para jemaat, memegangi kaleng untuk mengumpulkan recehan. Berikan yang terbaik untuk Tuhan, dan uang receh akan turun sederas hujan. Berikan yang terbaik untuk Tuhan, dan uang kertas akan meluncur senpay ke dalam kaleng. (Hal. 62)


Baik dan buruk adalah perkara sehari-hari, perkara dunia yang bisa kau raih dan sentuh. Agama, hanyalah suatu cara untuk kabur dari tanggung jawab. Bersembunyi di balik nama Tuhan, menanti keselamatan, atau menyalahkan Iblis untuk hal-hal buruk yang kau lakukan. (Hal. 69)


Hutan: suatu kesatuan yang penuh dengan kehidupan. Seseorang bisa mempelajari segala  yang perlu dia pelajari hanya dengan mengamati cara alam bekerja. Semuanya telah dituliskan di dalam hutan, terus-menerus, seperti sebuah buku berisi kebijaksanaan yang tiada habis. Segala misteri dan pengungkapannya. Semua hal, jika kau bisa belajar untuk mendengar dan melihat apa yang alam katakan dan tunjukkan. (Hal. 69-70)


Cara Tuhan bekerja amatlah misterius; anda tidak akan tahu apa yang bakal terjadi. (Hal. 72)


Kesabaran adalah guru terbaik. Selalu ada makna di balik hal-hal di luar rencana, bahkan meski kita tidak tahu itu apa. (Hal. 73)


Jangan samakan cinta dengan kepasrahan. Jangan samakan cinta dengan menjadi pengecut. Jangan samakan cinta dengan menjadi budak. (Hal. 78)


Dosa adalah tumor yang pertumbuhannya bisa diperlambat; ia bahkan bisa diangkat. Tapi sekali ia menjangkiti tubuh seseorang, selalu ada kemungkinan ia meninggalkan secuil akarnya di suatu tempat, menanti saat yang tepat untuk kembali tumbuh. (Hal. 96)


Tuhan selalu punya alasan di balik segala sesuatu. (Hal. 115)


Ada banyak hal yang tak bisa kau jelaskan di balik segala kehendak Tuhanmu itu. Jari-jariku tidak akan cukup untuk menghitungnya. (Hal. 115)


Apakah kematian itu, selain kegelapan dan kekosongan, tak peduli darah ada di tangan siapa? (Hal. 123)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts