Jagat Rajawali

November 15, 2025


Masa remaja, memang masa-masa yang menyenangkan


•••


Identitas buku:

Judul: Jagat Rajawali

Penulis: Eko Darmoko

Penerbit: KPG

Tahun: 2025

Jumlah: 247 halaman

ISBN: 9786231343710

Kategori: Novel, fiksi, coming of age


•••


Blurbnya:

Taufan Samudera seorang remaja yang tumbuh di Surabaya selepas Orde Baru tumbang. Setelah berkenalan dengan sastra—terutama karya Marquez dan Murakami, ia seolah menemukan suatu kubangan yang mengasyikkan. Dan di dalam kepalanya mulai tumbuh penangkaran aneka hewan: rajawali, harimau, dan lumba-lumba.


Pertemuannya dengan pelaut poliglot, gadis eksentrik di toko buku, dan siswi manis kawan sekelasnya membawa Taufan pada petualangan janggal sekaligus menggetarkan. Kenangan masa silam, detik yang baru saja terlewat, dan masa depan yang misterius menjadi gelanggang sabung bagi hewan-hewan dalam penangkaran di kepalanya.


Jagat Rajawali menghadirkan kisah akil balig yang penuh tanda tanya dan petualangan.


•••


Garis besarnya:

Mengambil latar di Surabaya, setelah Orde Baru, Taufan Samudra, alias Toples, siswa SMP memiliki ketertarikan terhadap dunia fiksi. Dia mengenal bacaan-bacaan sastra dari Paman Bajul–seorang pelaut poliglot–dan berkeinginan menjadi penulis. Dari novel-novel itulah Toples bertemu dengan siswi SMA bernama Renata yang memiliki segudang bacaan yang tidak kalah kerennya.


Keseharian Toples pun dipenuhi dengan getaran asmara kepada Tiwi–teman sekelasnya, menyusuri padang pasir, memastikan kebenaran sumur ajaib, napak tilas ke lokasi-lokasi novel Bumi Manusia, berjumpa dengan nenek misterius, dan disemarakkan pula dengan keriuhan binatang-binatang dalam kepalanya: rajawali, harimau, dan lumba-lumba.


•••


Resensinya:

Perkenalan pertama saya dengan Mas Eko Darmoko alias Mas Rudi–nama asli dan panggilan jauh banget, ya, tetapi saat saya mengobrol dengan beliau, sudah terjawab alasannya mengapa. Saya tertarik membaca buku ini karena judul, kover, dan warna sampulnya yang cakep.


Jagat Rajawali, novel yang bakal menyedot pembaca–khususnya gen milenial–untuk bernostalgia, kembali pada pengalaman masa-masa remajanya dulu. 


Buku ini menangkap dengan baik esensi dunia remaja–yang berbeda jauh dengan dunianya orang dewasa–yang tidak melulu perihal nilai-nilai akademis atau bersemangat mengejar impian atau berkutat pada fase peralihan, perubahan anatomis-biologis dan psikologis yang–jelas–pasti dialaminya, melainkan juga masa-masa eksploratif.


Sepanjang membalik halaman demi halaman, tulisan Mas Rudi cukup mampu membangkitkan perasaan nano-nano akan kepolosan, cinta-cintaan, persahabatan, petualangan, rasa penasaran, hingga percakapan-percakapan ala remaja sambil menampilkan sejumlah referensi bacaan sastra dan budaya pop–musik–saat itu.


Tokoh-tokoh pada novel ini apik memberikan gambaran mentah tentang gejolak, pencarian identitas atau konsep diri seorang remaja di tengah dunia yang terus bergerak: pemilihan teman atau pergaulan yang berdasarkan pada kesamaan selera serta kualitas pribadi seseorang–kreativitas, kebaikan, humor; mengembangkan penilaian terhadap orang lain; interaksi dengan guru, orang dewasa, dan teman sebaya yang membantunya memperoleh pengetahuan atau pemahaman baru, meskipun mereka tidak selalu tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


Lebih jauh, ketika remaja ini mulai memahami dan merespon dunia sekitar sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari untuk membentuk kedewasaannya, proses tersebut dihadirkan melalui imaji dalam pikirannya. Benar, seperti judulnya, keberadaan hewan-hewan–lumba-lumba, rajawali, dan harimau–menjadi teman imajiner sang tokoh utama. Alih-alih untuk mengompensasi kesepian atau mekanisme perlindungan diri, para binatang sebagai teman khayalan tersebut tercipta untuk menemani remaja memahami situasi serta mendorong ide yang memantik kreativitas lebih tinggi.


Narasi-narasi dalam novel ini memadukan realis, surealis, dan magisme sejak halaman pertama hingga akhir. Lapisan-lapisan yang berbenturan tersebut tetap mulus transisinya sehingga menambah keasyikan dan rasa penasaran.


Meskipun ada banyak dialog yang tidak mungkin dikatakan oleh bocah semuda itu, keganjilan tersebut mengingatkan kita bahwa remaja pun memiliki kematangan berpikir melalui banyak hal, bisa dari lingkungan, pengaruh bacaan, perjalanan hidup. Saya teringat dengan buku Kokokan Mencari Arumbawangi, yang tokohnya bahkan lebih muda dari Toples pun bisa bersikap dan berucap dewasa. Bukankah memang, kerap kali orang dewasa meremehkan anak-anak dan remaja karena menilai usianya yang masih muda itu?


Menggunakan POV 1, pilihan kata yang mudah dipahami, novel ini saya rekomendasikan untuk remaja dan mereka yang ingin mengharukan lagi masa mudanya.


Tertarik baca? 

Apa buku coming of age rekomendasimu?


•••


Kutipannya:

Sebagus apa pun kisah, kalau ditulis dengan gaya bahasa kaku, akan terbaca jelek. Maka, tulislah kisah dalam karangmu dengan bahasa yang renyah, yang enak dibaca, agar si pembaca betah. (Hal. 5)


Pasang niat sedalam-dalamnya untuk mempelajari bahasa asing. (Hal. 12-13)


Kamu harus bisa menuliskan kisah sendiri. Mengarang! (Hal. 13)


Semesta cerpen berbeda dengan semesta yang kasat mata ini. Dalam semesta cerpen, imajinasilah yang berkuasa. Ya, semacam masinis. (Hal. 14)


Kalau lelah ‘kan pikiran kita sering terbang ke mana-mana. (Hal. 16)


“Kamu punya banyak teman?”

“Banyak itu berapa ukurannya?”

“Hmm, nggak tahu ….” (Hal. 33)


Kan tidak ada yang pasti dengan semua kisah yang ada di dunia ini. Apalagi kisah tentang kelahiranku yang tidak didokumentasikan dalam arsip negara atau pemberitaan. Hanya berdasarkan sumber lisan. (Hal. 50)


Hidup harus dijalani dengan serius dan banyak pertimbangan. (Hal. 52)


Pengarang tidak mungkin lepas dari pengalamannya sebagai manusia yang hidup di dunia. Cakrawala pandangannya ketika menulis karangan pasti berbenturan dengan pengalaman tadi. Dari sinilah, kadang kita menemukan benang merah antara karangan dan sosiologi pengarangnya. (Hal. 60)


Perempuan tidak selamanya lemah seperti yang dibayangkan laki-laki, dan perempuan tidak selalu minta didahulukan. (Hal. 111)


Tanpa pernyataan cinta, mana tahu satu sama lainnya saling suka. (Hal. 115)


Bukankah menyatakan cinta adalah perkara paling sukar di dunia ini? (Hal. 116)


Di dunia ini kita tinggal berdampingan, antara yang hidup dan yang mati, antara yang terlihat dan yang tak terlihat. (Hal. 128)


Pengarang ‘kan tidak bisa lepas dari dunia atau kenyataan yang pernah dialaminya. (Hal. 158)


“Mengapa kita sering menilai seseorang dari penampilannya?”

“Oh, soal itu …. Manusia memang pandai dalam memberi penilaian. Sedangkan ia enggan untuk menilai dirinya sendiri. Kalau pun menilai diri sendiri, tentunya akan memberikan nilai terbaik. (Hal. 175)”


Tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan dengan menggunakan diksi yang sama. (Hal. 178)


Membaca koran berarti harus siap menerima dua macam berita: buruk dan baik. (Hal. 233)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts