Kuda
Agustus 13, 2025Sebuah prahara keluarga
•••
Identitas buku:
Judul: Kuda
Penulis: Panji Sukma
Penerbit: GPU
Tahun: 2022
Jumlah: 92 halaman
ISBN: 9786020664552
Kategori: Novel, fiksi, slice of life
•••
Blurbnya:
Setelah rezim Orde Baru tumbang, seorang empu kehilangan kuasa. Pamor dan tungku-tungku tempat dia memasak besi menjadi dingin. Ketenaran sebilah keris yang dianggap sebagai jimat dan media penjilat atasan mendadak redup. Tak terkecuali Kuda, anak lelaki satu-satunya si empu. Ekonomi keluarganya kacau balau, percintaannya tak kalah runyam. Satu yang tak pernah diketahuinya, rahasia keluarga dan asal-usulnya.
•••
Garis besarnya:
Empu Manyu, seorang pembuat keris biasa-biasa saja yang namanya kemudian meroket dan memiliki klien dari berbagai kalangan, tidak terkecuali dari jenderal-jenderal dan pejabat-pejabat militer. Kemampuannya membuat keris mengantarkannya pada kemasyhuran dan kejayaan.
Namun, usai tumbangnya Orde Baru, Empu Manyu kehilangan pamor dan status sosialnya. Semua pelanggannya perlahan berhenti memesan keris dan meninggalkannya membuat ‘perusahaan’ atau usaha Empu Manyu mengalami kebngkrutan.
Kini, di hari tuanya, nama Empu Manyu tinggalah cerita, kehidupannya pun tidak lagi sama dan serbaada. Dia mengalami keterpurukan ekonomi, terseok-seok memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, Kuda Anjampiani (Kuda) pun harus berhenti sekolah.
Kisah panjang lagi pelik sebuah keluarga yang membawa serta takdir, dendam masa lalu, serta kutukan keris yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun, tanpa pandang bulu, dan pada akhirnya mengarah kepada Kuda.
•••
Resensinya:
Novel kedua Panji Sukma yang usai saya tamatkan setelah tahun 2023 lalu membaca Sang Keris. Kuda, novel yang bakal mengajak pembaca untuk menjejaki ironi kehidupan–kejayaan dan kejatuhan sebuah keluarga–dalam balutan kebersamaan, persahabatan, percintaan, pengkhianatan, dendam, hingga relasi kekuasaan.
Melalui karakter-karakter dan teka-teki takdir yang berkelindan, buku ini tidak sekadar mengisahkan rahasia dan prahara keluarga, melainkan juga mereka ulang esensi keluarga yang tidak terbatas pada perkara hubungan darah.
Panji apik mengemas cerita perihal jalinan kehidupan yang luas, melewati banyak masa, dan setiap individu di dalamnya membentuk benang takdir yang memengaruhi nasib garis keturunannya. Para tokoh mengalami rentetan kejadian-kejadian yang terlihat tidak saling terkait, tetapi perlahan, mereka menentukan takdir tokoh utama di masa sekarang.
Selain itu, novel ini memuat nuansa relasi kekuasaan yang menjadi salah satu sebab musabab jalinan cerita. Pembaca banyak belajar bahwa era Orde Baru penuh dengan praktik-praktik kotor pemerintahan yang kerap diselingi dengan perilaku KKN maupun penyuapan. Mereka yang berkepentingan kerap memberikan hadiah atau mahar tertentu (dalam novel ini keris) untuk memperoleh kedudukan maupun mengamankan posisi–meskipun hingga sekarang saya yakin hal tersebut masih ada dan mengakar. Namun, tidak ada kekuasaan yang abadi, sampai akhirnya periode tersebut runtuh, perubahan sosial politik ekonomi budaya tidak hanya terjadi pada kota-kota besar, melainkan juga di pelosok-pelosok, berpengaruh kepada mereka-mereka yang turut andil dalam melanggengkan kekuasaan–meskipun secara tidak langsung.
Hal menarik tentu saja keris. Panji dikenal memiliki ketertarikan dan kepedulian besar terhadap pusaka yang satu ini. Pun dalam Kuda, mistifikasi keris berperan besar sebagai alat pemberi kutukan, simbol pembalasan dendam, hingga negosiasi kekuasaan yang mengantarkan kematian demi kematian tokoh-tokohnya, menyeret serta persaingan abadi turun-temurun.
Panji memberikan segudang informasi perihal keris, patrem, dalang sebagai bagian kepercayaan dan tradisi budaya kita. Dia bahkan dengan baik merasionalkan absurdisitas mistik di dalam masyarakat dengan sejarah dan budaya tanpa melupakan realitas, termasuk ketimpangan budaya sebelum dan setelah reformasi, seakan-akan mistisisme memudar dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan gempuran teknologi informasi.
Sosok Empu Manyu pun bisa menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi pembaca. Bukan hanya tekadnya yang baja saja dalam menekuni keris dengan segenap jiwa raga, melainkan juga untuk belajar memiliki kemampuan atau soft skill lain agar bisa bertahan dan beradaptasi dengan perubahan dunia. Empu Manyu sebagai pengejawantahan manusia-manusia yang gagal dalam perubahan peradaban, gegar dalam arus transformasi, dan terdesak akan pergeseran nilai-nilai kebudayaan.
Meskipun Kuda sebagai judul novel dan tokoh utama, dalam pandangan saya justru Empu Manyu dan Abdul Aziz-lah tokoh sentralnya (protagonis dan antagonisnya). Sebab keduanya memiliki kronologi cerita yang lengkap. Karakter Kuda kurang tergali dan hanya muncul dalam hitungan bab. Ada kemampuan indrawi miliknya yang kurang dijelaskan lebih dalam.
Kuda ditulis dalam bab-bab pendek, memuat banyak misteri dengan banyak sekali tokoh yang berbeda, tetapi tetap bermuara kepada Kuda. Buku yang dapat dibaca dalam sekali duduk ini menggunakan diksi yang mudah dipahami, beralur maju-mundur, dan menarik untuk diikuti karena lebih bisa dimengerti ketimbang Sang Keris. Hati-hati, akhir ceritanya berpotensi membuat pembaca merasa hampa.
Buku ini saya rekomendasikan untuk mereka yang menyukai cerita-cerita magis, fiksi sejarah, maupun yang ingin berkenalan dengan Panji Sukma.
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Semua yang silau kegemilangan masa silam, tidak akan mendapat masa depan. (Hal. 4)
Tidak ada kekuasaan mutlak. (Hal. 5)
Tidak boleh lagi ada seorang yang terlalu didewakan, sebab pasti ada panu sekalipun itu di tubuh raja. (Hal. 5)
Sekejap, semua beralih ke tangan rakyat, hal yang sebenarnya telah lama diidamkan. Namun, kebebasan berpendapat menjadi dalil yang membuat media kian berisik. Semua mengaku tahu, semua mengaku pakar. Pemangku kuasa berganti, sistem berubah, kecuali watak korup yang sepertinya telanjur mendarah-daging. … Di era ini, semua berkesempatan diciduk kapan saja. Para maling tetap berkeliaran, dan lahir pemburu maling, sekaligus muncul momok baru yakni tebang-pilih, dan itu jauh lebih buruk. (Hal. 6)
Yang pasti, berat sekali menjaga nama besar ketika tak lagi memiliki harta. Sungguh, dianggap kaya padahal miskin adalah beban hidup yang terasa menggerogoti jiwa. Tidak seperti emas yang meski jatuh di comberan tetap emas. Manusia sekali lepas sumur emas, jatuh ke comberan paling dalam penuh lumpur dan endapan tahi. (Hal. 7)
Kerap kali, tahu banyak hal memang memuaskan isi kepala, tapi, sekaligus memukul-mukul hati. … Pantas saja Tuhan bersikeras meminta manusia menjaga rahasia orang lain seperti menjaga rahasianya sendiri. (Hal. 8)
Senjata bukan semata benda tajam untuk mengiris maupun menusuk, tapi memiliki keindahan yang mampu menggetarkan jiwa. (Hal. 17)
Urip iku urup atau hidup haruslah menyala seperti pelita yang menerangi kegelapan, yakni harus sudi menolong sesama yang kesulitan, memberi tanpa mengharap balasan, dan sebisa mungkin terus berperilaku yang mengenakkan hati sesama. (Hal. 18)
Setiap manusia berhak memilih jalan hidupnya sendiri. (Hal. 21)
Untuk membantai, manusia tidak butuh keris maupun tombak maupun senjata tajam, cukup dengan dendam dan kebencian. (Hal. 68)
Melawan arus kerumunan yang gelap mata dan telah hilang moral, jelas bakal hanya menemui celaka bahkan ajal. Hukum kehidupan berlaku, yakni tak ada kekuasaan yang berlaku abadi. (Hal. 69)
Sebab rasa kehilangan yang mendalam dapat membuat putus nalar seseorang sekalipun itu empu waskita. (Hal 77)
Tetap saja pemberontak adalah pemberontak, kecuali ia memenangkannya. (Hal. 80)

0 Comments