Seakan Bisa Dipisahkan
Agustus 13, 2025Apakah rumahmu menjadi tempat ternyamanmu?
•••
Identitas buku:
Judul: Seakan Bisa Dipisahkan
Penulis: Ruhaeni Intan
Penerbit: KPG
Tahun: 2025
Jumlah: 117 halaman
ISBN: 9786231343796
Kategori: Novel, fiksi, penggalan hidup
•••
Blurbnya:
Karena aku telah membenci Ibu, aku berhenti belajar darinya. Aku berhenti mendengarkan nasihat Ibu, aku berhenti menuruti permintaannya, dan aku berhenti menghiraukannya. Aku seharusnya menyayangi ibu seperti ibuku juga menyayangi ibunya. Seperti ayahku menyayangi ibunya. Seperti teman-temanku menyayangi ibunya masing-masing. Tetapi siapa yang bisa menghentikan pikiran seorang anak yang diam-diam ingin meninggalkan ibunya? Tidak peduli, sekalipun pikiran itu amatlah berdosa.
Sofia protes terhadap ibunya yang selalu mengalah, dan membiarkan ayahnya perlahan-lahan merusak kenyamanan di rumah. Sofia kabur untuk hidup sendiri di kota lain. Selama hidup jauh dari rumah, Sofia diingatkan akan banyak hal. Perihal makna keluarga dan ikatan keluarga yang tampak tipis dan mudah koyak, tetapi sejatinya susah untuk dipisahkan.
•••
Garis besarnya:
Sejak SD, Sofia tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis dan tidak bahagia. Ayahnya semenjak ketahuan selingkuh memilih tidak terlalu memedulikan keluarga dan sibuk dengan urusannya sendiri, sementara sang ibu melakukan apa pun demi mempertahankan rumah tangga termasuk menjadi tulang punggung dengan berjualan hingga mengubah dirinya menjadi ibu yang keras hati, dingin, dan pemarah.
Sikap kedua orangtuanya ditambah perilaku-perilaku keras ibunya (mencekoki wortel terus-terusan, mengata-ngatai, bahkan menghukum sang adik di kamar mandi) membuat Sofia membenci sang ibu dan memutuskan menjaga jarak sejauh mungkin dengan rumah (terutama ibunya).
Namun, suatu ketika, adiknya kabur dari rumah. Hal itu membuat Sofia mau tidak mau terhubung lagi dengan ibunya.
•••
Resensinya:
Barangkali ungkapan “rumah bukan tempat ternyaman, rumah tidak lagi ramah, dan rumah justru menjadi tempat pertama bertumbuhnya luka” benar adanya.
Membicarakan keluarga memang tidak ada habisnya. Di mana-mana kisahnya begitu rumit. Cerita manis pastinya ada, tetapi yang pahit pun tidak kalah sedikit. Termasuk buku tipis yang satu ini. Seakan Bisa Dipisahkan (SBD), sebuah novel yang menyusuri rumitnya hubungan sebuah keluarga, tidak sekadar mengulik ikatan antarmanusia di dalamnya, melainkan juga bagaimana seseorang yang memiliki luka masa lalu memengaruhi pilihan-pilihannya di masa depan.
Saya tidak akan membahas cerita pahit keluarga Sofia dan alasan-alasan yang menjadi penyebab kemarahan, kekecewaan, dan luka yang ditanggung oleh para penghuni rumah, termasuk toxic parenting di dalamnya, melainkan mari kita ambil pembelajaran mengenai tema-tema yang diangkat dalam novel karya Ruhaeni Intan ini.
Seseorang bisa memiliki perasaan benci dan cinta, muak dan kangen kepada keluarganya dalam waktu bersamaan. Namun, diakui atau tidak, disadari atau tidak, kerap kali kita sulit melepaskan diri dari keluarga, dari tempat tinggal kita. Ikatan yang terjalin atas nama sedarah ini begitu samar dan tidak bisa hilang sampai kapan pun, tidak peduli seberapa besar rasanya ingin lari atau menjauh dari keluarga, sekalipun berada di rumah bisa sangatlah melelahkan, rumah mampu menimbulkan rasa tidak nyaman bagi dirinya—saat harus terus-terusan menelan kecewa, membungkus amarah, dan tidak mendapatkan sepaket kehangatan dan kebahagiaan cinta dari ayah-ibunya layaknya keluarga cemara.
Melalui novel ini, pembaca bisa belajar perihal relasi orangtua dan anak. Hubungan antarmanusia dalam sebuah keluarga tidak hanya sebatas masing-masing menjalani peran sebagai orang tua maupun sebaliknya sebatas menjalani peran sebagai anak. Tidak salah orang tua memegang kendali penuh atas anaknya, tetapi membangun kedekatan dengan anak jauh lebih penting. Mendengarkan bukan mendengar. Bukankah anak mampu dan mau bercerita dan menghabiskan waktunya bersama orangtua tanpa terpaksa lebih menyenangkan dan menumbuhkan kehangatan keluarga?
Toh memiliki hubungan emosional antara orangtua dan anak memberikan banyak manfaat, bukan?
Dalam buku ini, perselisihan orangtua menjadi sebab-musabab amarah dan luka, meninggalkan pengalaman buruk pada anak. Konflik suami–istri itu wajar terjadi, tetapi perlu dikelola dengan baik dan bijak sebab jika berkepanjangan berpengaruh terhadap anak sebab mereka (anak-anak) memerlukan rumah yang aman secara emosional untuk tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan sehat mental.
Saya cukup menyayangkan pilihan ibu Sofia yang memilih bertahan melihat polah sang suami. Pinginnya saya, ya, ceraikan saja, demi kesehatan mental dan kebahagiaan diri sendiri. Namun, karena ceritanya tidak demikian, ya, sudahlah, saya ambil hikmahnya saja, hahaha.
Sebagai orang dewasa yang memutuskan berumah tangga, sudah pasti yang diperlukan adalah komitmen bersama, komunikasi yang efektif, pemecahan masalah yang konstruktif, dan pembagian tanggung jawab yang adil. Bagi anak, orangtua menjadi contoh dalam berkomunikasi dan mengelola emosi, maka selesaikanlah konflik dengan baik-baik, cari solusi yang bijak, bukan malah silent treatment atau melarikan diri. Sungguh, itu mengesalkan dan anak merekam itu semua, meninggalkan lubang menganga di hati.
Terakhir, perihal luka batin yang kadung menempel erat dalam diri anak. Memaafkan butuh waktu, jelas, terlebih luka itu dari orangtua sendiri. Namun, yang terpenting bagaimana menerima rasa sakit itu. Mengakui dan memahami emosional diri sendiri. Memang tidak bisa sat-set, ada prosesnya. Kan, kita putus dengan pacar saja juga perlu waktu untuk pulih, apalagi dengan orangtua kandung, lebih-lebih, kan.
Dalam pandangan saya, novel ini hadir agar pembaca merenungkan makna penting keluarga, mengapresiasi kehadiran keluarga, mengukuhkan ikatan keluarga, dan meningkatkan kualitas interaksi antaranggota keluarga. Membangun suasana keluarga yang harmonis memanglah perjalanan yang tidak mudah apalagi sebentar. Sebisa mungkin, kita bisa menciptakan rumah sebagai tempat kembali, tempat yang membuat orang ingin pulang karena rindu dan beristirahat, bukan medan pertempuran yang penuh tekanan dan ketakutan.
Secara keseluruhan, SBD buku tipis yang tidak bertele-tele, menghentak dengan konfik yang terang benderang dan langsung to the point. Saya menyukai akhir ceritanya yang menegaskan judulnya ikatan yang seakan bisa dipisahkan, padahal tidak semudah itu.
Buku ini bisa dibaca dalam sekali duduk, menggunakan POV 1 (Aku) dengan pilihan kata yang sangat mudah dipahami. Saya suka kovernya yang cakep dan sangat mewakili isi cerita.
Novel ini saya rekomendasikan untuk pembaca remaja dan para orangtua–anak yang ingin membangun kisah manis dalam kehidupan keluarganya.
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Aku kira, sampai tua, sampai mati, sampai kapan pun, anak-anak akan selalu mengenang ayah dan ibunya. (Hal. 2)
Kata orang, nostalgia adalah jebakan. (Hal. 8)
Uang memudahkan apa saja. (Hal. 11)
Bukankah hari baik tidak terjadi setiap hari. (Hal. 15)
Hakikat menjadi tua memang untuk dilupakan. (Hal. 23)
Rutinitas membantu menavigasi hidup yang tidak menentu, yang apabila dibiarkan begitu saja sanggup membuat diri kita tenggelam. (Hal. 24)
Menahan diri untuk tidak berkata kasar kepada orang yang memperlakukan kita dengan semena-mena adalah pekerjaan melelahkan. (Hal. 27)
Jika dia tidak bekerja, jika tidak ada ambisi yang dikejar, tidak ada cita-cita mulia yang menuntunnya lalu apa yang sebenarnya dia inginkan dalam hidup. (Hal. 27)
Betul roda berputar. Tetapi, hanya ketika seseorang benar-benar menaruh tekadnya untuk mengubah keadaan. (Hal. 35)
Terminal memang tempat perjumpaan dan perpisahan. Beberapa orang hanya dapat memilih salah satu, meninggalkan atau ditinggalkan, beberapa lain tidak punya pilihan sama sekali dan hanya bisa menerima. (Hal. 39)
Bagaimanapun pada akhirnya setiap anak perlu belajar menghadapi penolakan. (Hal. 42)
Kalau semangatmu tiba-tiba mengendur, ingat-ingat lagi kenapa kamu sangat ingin keluar rumah. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, hanya jika kamu benar-benar menginginkannya. (Hal. 49)
Adakah orang lain yang merasa hidupnya seperti selalu berada di dalam bus yang terus melaju? Tanpa tujuan, bukan bagian dari sejengkal tanah mana pun, sepanjang hidupnya hanya tahu berjalan. (Hal. 53)
Tidak semua memiliki jawaban dan diam kadang-kadang adalah sebuah jawaban. (Hal. 60)
Perjalanan hidup harus tetap berjalan dan ditempuh oleh setiap orang, baik sendiri atau bersama kawan. (Hal. 66)
Aku tidak ingin ringan tangan mengambil kesimpulan tentang hidup seseorang. Di setiap pemakaman yang aku hadiri, orang-orang terdekat akan selalu mengenang yang pergi sebagai orang baik. Sementara bagi orang lain, seseorang yang mungkin baru mendengar kematiannya dua atau tiga bulan setelah orang itu mati, sepotong ingatan mungkin akan menyembul di sela-sela makan siangnya yang membuatnya berseru, “Tuhan Maha Mendengar! Dia telah cabut nyawa orang yang telah menyakitiku dengan cara yang sudah sepantasnya!” (Hal. 73)
Mungkin benar kata orang, melayatlah ke pemakaman orang miskin dan kamu akan berduka dua kali: pertama atas kematiannya dan yang kedua atas kepapannya. (Hal 74)
Di dunia yang konon serba bebas dan merdeka ini, kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orangtua kita. (Hal. 91)
Apakah harta bisa menebus ketidakhadiran seorang ayah dalam hidup seorang anak? (Hal. 92)
Mungkin pada satu titik, Tuhan tidak lagi menyelamatkan sebuah keluarga dengan cara menyatukannya, tetapi dengan membiarkan mereka tenggelam Sebab, hanya dengan cara itu, mereka akan terapung lagi ke permukaan, kemudian diangkat menuju langit tanpa bintang. (Hal. 95)
Kabar baik memang kerap datang bertubi-tubi, sebagaimana kabar buruk. (Hal. 97)
Menyadari tidak semua orang memiliki hidup yang layak, padahal setiap orang menjalani hidup yang sulit. (Hal. 105)
.webp)
0 Comments