Rahasia Hati: Tentang Manusia dan Perasaannya
Agustus 13, 2025Sebuah novel yang membuktikan bahwa rahasia terbesar bukanlah apa yang kita sembunyikan dari orang lain, melainkan apa yang tidak sanggup kita maafkan dari diri sendiri.
•••
Identitas buku:
Judul: Rahasia Hati
Penulis: Natsume Soseki
Penerbit: Kakatua
Tahun: 2021
Jumlah: 256 halaman
ISBN: 9786237543282
Kategori: Novel, fiksi, klasik, kesehatan mental
•••
Blurbnya:
Rahasia Hati adalah kisah persahabatan antara dua lelaki yang tidak disebutkan namanya, seorang mahasiswa dan lelaki tua misterius yang dipanggilnya ‘Sensei’. Dihantui oleh rahasia tragis yang membayangi kehidupannya, Sensei perlahan membuka diri kepada muridnya. Novel ini juga menggambarkan pergeseran budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya yang menjadi ciri Jepang pada awal abad kedua puluh.
•••
Garis besarnya:
Terdiri atas tiga bab:
Bagian pertama mengisahkan perjumpaan tidak disengaja di pantai Kamakura, Aku (seorang mahasiswa) menaruh perhatian terhadap seorang laki-laki yang dia panggil Sensei dan pertemuan demi pertemuan membawanya tidak hanya pada kekaguman, melainkan juga memengaruhi pola pikirnya. Hari-hari dilalui keduanya, bahkan Aku pun kerap mengunjungi rumah Sensei. Mereka terlihat layaknya sahabat, tetapi Sensei selalu menjaga jarak dan meminta Aku untuk tidak terlalu percaya terhadapnya meski tidak menolak kehadiran Aku di dekatnya.
Dari hal-hal yang tidak dipahami–Sensei yang tidak memiliki pekerjaan, selalu terlihat santai, pemikirannya yang tidak berlebihan, dan rutin pergi sendiri ke pemakaman Zoshigaya–membuat Aku penasaran dengan masa lalu Sensei, mengapa laki-laki itu selalu menampilkan rasa kesepian, bersalah, hingga beranggapan dunia tidak mengerti dirinya. Namun, Sensei tidak pernah menjelaskan apa-apa, bahkan sang istri pun tidak memahami jalan pikirannya.
Bagian kedua menceritakan tatkala Aku harus pulang ke kampung halaman, setelah menyelesaikan pendidikan, karena penyakit sang ayah makin parah. Orangtua Aku merasa bangga anaknya telah lulus dari universitas. Tidak berselang lama berita meninggalnya Kaisar Meiji serta bun*h dirinya Jenderal Nogi membuat sang ayah yang hanya bisa terbaring di ranjang kian mendekati ajalnya. Beberapa kali Aku menyurati Sensei, tetapi dia hanya membalasnya dua kali, salah satunya berbunyi: “... aku barangkali sudah pergi dari dunia ini ….”
Bagian terakhir berisi surat panjang Sensei yang menumpahkan isi hatinya: cerita masa lalu, alasan memiliki rasa ketidakpercayaan terhadap orang-orang, mempunyai perasaan menyesal, selalu merasa berdosa, dan diakhiri dengan salam perpisahan.
•••
Resensinya:
Saya sedih membaca novel ini. Mengingatkan saya pada No Longer Human. Saya bertanya-tanya, memang ciri khas tulisan-tulisan Asia Timur itu tidak jauh-jauh dari persoalan diri, ya.
Rahasia Hati, atau Kokoro dalam bahasa Jepang, merupakan novel yang lebih banyak mengisahkan perihal isi hati, pergulatan batin, dan sisi emosional para tokohnya.
Soseki mengajak pembaca untuk berusaha menyelami dan memahami relung gelap hati manusia, menyoroti rumitnya jiwa manusia, serta menyibak alasan mengapa–ada–seseorang yang memilih kesunyian, memilih penderitaan, dan mengadopsi perspektif sinis dan pesimis atas segala hal yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia maupun kepercayaan pada manusia itu sendiri, termasuk dirinya sendiri, sekalipun dia menyukai hal-hal subtil dan indah. Sebuah paradoks, bukan?
Melalui karakter Sensei, pembaca mendapati tokoh ini mengalami kerentanan psikologis–melankolis, kecemasan-kecemasan, kehilangan, kegelisahan, kesedihan, kehampaan masa depan, dan kejemuan hidup–yang besar akibat ditipu paman terkait harta warisan dan rasa bersalah karena kematian sahabatnya–bisa saya katakan bahwa Sensei juga mendorong K untuk mengakhiri hidup saat dia curhat perihal keyakinan spiritual K berbenturan dengan kasih sayangnya terhadap Ojosan dan alih-alih memberikan pandangan, Sensei, karena cemburu, malah menekankan ketidakmampuan K untuk berpegang teguh pada keyakinannya. Selain itu juga perasaan aman saat K tidak menyinggung persoalan di antara mereka dalam surat terakhirnya–sehingga membuatnya membentuk identitasnya, membentuk pandangannya, dan memengaruhi perilakunya sepanjang hidupn: pandangan negatif terhadap diri dan dunia, memandang kemanusiaan secara negatif, merasa tidak akan pernah menjadi orang baik lagi–karena ternyata dia juga tidak berbeda jauh dengan manusia lain yang dibencinya; memutuskan menarik diri dari lingkungan sosial, dan terus-terusan bersikap waspada agar orang lain tidak menipunya lagi.
Gagasan bun*h d*ri sebagai tindakan terhormat, bagi Sensei, merupakan satu-satunya cara membebaskannya dari trauma dan tragedi masa lalu yang menghantui.
Dalam pandangan saya, sebenarnya persoalan Sensei dan sahabatnya, K, bisa diselesaikan dengan baik tanpa perlu membuat benang kusut bahkan berujung kematian. Saling terbuka, jujur, mengakui, dan meminta maaf. Namun, karena ceritanya tidak demikian dan Soseki tidak menawarkan alternatif jalan keluar lainnya, yaa, kita tarik nilai positifnya saja. Persoalan kesehatan mental dulu belum terbuka seperti sekarang, maka, setidaknya, jangan teruskan kekeliruan dalam memandang hidup, memandang diri sendiri, memandang manusia, dan dunia. Hidup tidak selalunya hitam dan putih, serta manusia itu rumit, maka kerumitan itu yang menjadikan manusia itu kuat. Perlu penerimaan dan berdamai dengan diri serta temukanlah setidaknya satu orang yang membuat kita–sedikit–lebih terbuka yang mengantarkan kita sebagai manusia.
Selain menyentuh psikologi manusia, Rahasia Hati juga menempatkan latar cerita sekitar era Meiji, era ketika Jepang mulai merangkul westernisasi dan modernisasi. Benar bahwa masa itu membawa angin perubahan pada politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakatnya. Buku ini tidak sekadar memberikan spektrum keterasingan sosial maupun upaya adaptasi dengan dunia baru yang modern, melainkan cukup mampu menciptakan atmosfir karakter-karakter yang berbeda antara yang pro modernisasi (memaksa seseorang untuk tidak lagi melihat sisi kemanusiaan dan cenderung melihat kebutuhan dan keinginan individu) dan yang kontra modernisasi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional Jepang (menjunjung kekeluargaan, menghormati kebaikan bersama).
Rahasia Hati memiliki nuansa cerita yang suram, sentimentil, lagi tragis. Alurnya terbilang lambat dan membosankan pada bagian pertama dan kedua, lantas mengalir cepat saat bagian ketiga bergulir. Narasi novel ini termasuk berbelit-belit dan kalimatnya pun banyak yang tidak efektif, tetapi harus dipahami bahwa Kokoro terbit sudah sangat lama sekali sehingga penerjemahannya pun menyesuaikan saat itu.
Buat yang mengalami perasaan depresi atau persoalan kesehatan mental, alangkah baiknya untuk tidak membaca buku ini. Memang tema-tema semacam ini sudah jamak beredar saat ini, tetapi tidak ada salahnya mengenal bacaan klasik tentang masa-masa modernisasi Jepang yang berimbas pada masyarakatnya.
Novel ini saya rekomendasikan untuk pembaca dewasa, pencinta sastra klasik Jepang–khususnya, dan penggemar cerita-cerita bertema kesehatan mental.
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Kau pernah berpikir sungguh-sungguh tentang hakikat kematian, kan? (Hal. 10)
Masa muda adalah masa yang paling sunyi dari semuanya. (Hal. 15)Orang yang pernah bercinta tentu akan lebih bertenggang rasa dan akan lebih berkenan melihat pasangan itu. (Hal. 26)
Adakah sesungguhnya kesalahan dalam mencintai? (Hal. 27)
Engkau gelisah karena cintamu tak punya sasaran. Kalau kau dapat jatuh cinta terhadap seseorang, kau tentu tak akan begitu gelisah. (Hal. 27)
Aku pun tak percaya pada diriku sendiri. Karena tak percaya pada diriku sendiri aku hampir tak dapat percaya pada orang lain. (Hal. 30)
Bagaimanapun jangan menaruh kepercayaan terlalu banyak kepadaku. Engkau akan merasa menyesal karenanya kalau kau berbuat demikian. Dan jika kau sampai pula membiarkan dirimu merasa tertipu, maka kau dengan kejam akan merasa ingin membalas dendam. (Hal. 30-31)
Aku tak ingin kau mengagumi aku kini, karena aku pun tak ingin kau menghinaku pada kemudian hari. Aku bertahan dengan kesunyianku kini demi menghindarkan kesunyian yang lebih besar pada tahun-tahun mendatang. Engkau tahu kesunyian ialah harga yang kita bayar karena kita dilahirkan pada abad modern, yang begitu penuh kebebasan, kemerdekaan, dan watak kita sendiri yang hanya mementingkan diri sendiri. (Hal. 31)
Pikiran-pikiran memang timbul karena terdorong oleh sifat pengalaman. (Hal. 32)
Perubahan itu tidak tiba-tiba saja, tetapi perlahan-lahan. (Hal. 39)
Dapatkah seseorang berubah demikian karena kematian seorang kawan? (Hal. 42)
Manusia memang makhluk lemah, apakah ia sehat atau tidak, siapa yang dapat mengatakan bagaimana dan bila mereka mati? (Hal. 53)
Aku mungkin sehat, tetapi itu tak mencegah aku dari pemikiran tentang mati. (Hal. 53)
Ada banyak orang yang mati dengan tiba-tiba, namun tenang karena sebab-sebab yang wajar. (Hal. 53)
Engkau tentu tak akan sedemikian tak acuh jika kau hidup dalam keadaan yang kurang beruntung (Hal. 73)
Ajal tiba tak pandang usia. (Hal. 76)
Badanku ialah milikku sendiri dan aku tahu apa yang baik baginya dan apa yang tidak. (Hal. 86)
Sungguh tidak pada tempatnya kalau seseorang mesti menggantungkan hidupnya pada orang lain. (Hal. 100)
Masa lampauku itu adalah pengalamanku sendiri, maka boleh kiranya kalau kupandang itu sebagai milikku dan hanya milikku seorang. (Hal. 130)
Perkembangan–atau kerusakan–yang terjadi pada tubuh dan jiwa manusia tergantung pada rangsangan dari luar. Jika orang tak begitu cermat, dan jika orang tak mengusahakan agar bertambahnya rangsangan itu meningkat sedikit demi sedikit, maka ia akan terlambat mengetahui bahwa tubuh dan jiwa itu telah menjadi lemah. (Hal. 180)
Kecemburuan adalah sesuatu yang perlu menyertai cinta. (Hal. 205)
Masa lampauku, yang telah menjadikan diriku sebagaimana keadaanku sekarang ini, ialah sebagian dari pengalaman manusia. (Hal. 255-256)
Siapa berhak menilai kebutuhan hati orang lain? (Hal. 256)

0 Comments