Pedro Páramo
Juli 14, 2025Ketika kehidupan dan kematian berbenturan
•••
Identitas buku:
Judul: Pedro Páramo
Penulis: Juan Rulfo
Penerbit: GPU
Tahun: Cetakan ke-3: 2025
Jumlah: 200 halaman
ISBN: 9786020658704
Kategori: Novel, fiksi, realisme magis
•••
Blurbnya:
Demi memenuhi janji terakhir kepada ibunya, Juan Preciado bertolak ke Comala untuk mencari ayahnya, Pedro Páramo. Alih-alih menemukan kota yang selalu diceritakan dengan penuh nostalgia kebahagiaan, ia tiba di Comala yang gersang dan ditinggalkan.
Namun, Comala tak sepenuhnya mati. Kota itu dipenuhi bayang-bayang dan gumaman, dan Juan Preciado pun mendengar berbagai kisah muram bagaimana Comala menderita dalam cengkeraman kekuasaan Pedro Páramo. Di celah-celah tipis antara yang hidup dan yang mati, Comala masih didiami penghuni-penghuni terakhirnya yang tak mau–dan tak bisa–pergi.
•••
Garis besarnya:
•••
Resensinya:
Pedro Páramo, buku perkenalan pertama saya dengan Juan Rulfo. Sebenarnya sudah lama sekali saya mendengar perihal novel ini dan bagaimana karya ini berpengaruh pada peta sastra Amerika Latin bahkan menginspirasi Gabo membuat 100 Tahun Kesunyian.
Awalnya–saat belum mengetahui gaya bercerita Juan Rulfo–saya membaca buku ini seperti umumnya judul-judul lainya. Dan ternyata saya gagal, ahahaha. Baru lembar ke berapa saya menyerah dan terpaksa membiarkannya terlebih dahulu sebelum memulainya lagi.
Pedro Páramo, novel yang tidak hanya magis, melainkan juga sangat realistis dalam menggambarkan manusia dan kekuasaannya atas sesamanya. Buku ini memuat penderitaan, ketakutan, kebangkitan dan kejatuhan sebuah kekuasaan, dan pupusnya harapan.
Melalui tokoh-tokohnya yang saling bertautan, novel ini tidak saja mengantarkan pada cerita-cerita orang mati yang ketakutan dan mencari-cari pengampunan, melainkan juga sedari awal, sudah tergambarkan betapa pencarian yang dilakukan Juan tidak akan menjadi kenyataan (pun bagaimana Pedro Páramo berkeinginan kekasih hatinya mencintainya, tetapi tetap tidak kesampaian).
Rulfo telak menyindir krisis spiritual dalam novel ini. Gereja menjadi lembaga yang bersekongkol dan tunduk dengan kekuasaan, pendeta menjadi sosok munafik dan pilih kasih, agama tidak lagi menjadi media mencapai kedamaian maupun harapan akan pengampunan dan keselamatan, malah membiarkan pengikutnya kehilangan arah.
Lebih jauh lagi, Rulfo tidak hanya menghadirkan perilaku seorang tiran bernama Pedro Páramo yang mampu menggerakkan dan mengubah tatanan sebuah wilayah, melainkan juga dampak kolonialisme sekalipun latar Comala berada jauh dari konflik, serta konflik kepentingan antara tuan tanah dan pekerjanya.
Yang menarik pada Pedro Páramo yakni cara Rulfo menyatukan masa lalu dan masa kini saat halaman demi halaman bergerak maju, mengaburkan batas kehidupan dan kematian lgi kesadaran dan kegilaan seolah-olah menegaskan bahwa batasan kehidupan masa lalu maupun masa kini itu tipis sekali, tidak terlalu jauh.
Membaca novel ini haruslah perlahan dan cermat agar bisa menangkap keutuhan kisah sekaligus menyibak misterinya sebab Rulfo menyusun kronologi ceritanya secara nonlinier atau melompat-lompat, tanpa menggunakan bab pemisah (hanya berjarak satu enter) untuk menuliskan dua waktu: masa kini ketika Juan mencari sang ayah, dan ketika Pedro Páramo masih hidup dan berkuasa; serta menampilkan banyak nama–yang berpotensi menyebabkan kebingungan.
Novel ini menggunakan alur campuran dengan narasi berbentuk fragmen-fragmen tunggal, POV 1 dan 3 (cenderung polifonik–banyak suara atau narator yang bercerita). Buku ini cocok dibaca mulai dewasa maupun penggemar karya-karya penulis Amerika (Amerika Latin, khususnya).
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Naik atau turun tergantung dari arah mana kau datang atau pergi. Kalau kau pergi meninggalkannya, jalan itu menanjak, tetapi kalau kau mendatanginya, jalan itu menurun. (Hal. 20)
Rasa lelah adalah kasur yang nyaman. (Hal. 29)
Kuncinya adalah mati pada saat yang kauinginkan, jika Tuhan menghendaki, bukan saat Dia menawarkannya kepadamu. Atau malah memaksa Dia menjemputmu sebelum waktunya. (Hal. 30)
Banyak hal yang tidak berjalan seperti yang kauharapkan. (Hal. 34)
Begitu kau hanya menguasai sesuatu, barulah kau boleh menuntut. Saat ini kau hanya magang. Mungkin suatu hari kau akan menjadi bos. Tapi untuk itu kau membutuhkan kesabaran dan, yang paling utama, kepatuhan. (Hal. 43)
Bahkan binatang pun menyadari ketika mereka berbuat salah, bukan begitu? (Hal. 45)
Kita tidak boleh membenci siapapun. (Hal. 52)
Jangan terlalu yakin, anakku. Siapa yang tahu ada berapa banyak orang yang berdoa untuknya! Kau seorang diri. Satu doa melawan ribuan. Dan di antara mereka, ada yang berdoa dengan lebih khusyuk daripada kau–misalkan ayahnya. (Hal. 53)
Begitu mahalkah harga yang harus dibayar untuk mengabulkan pengampunan saat begitu mudah baginya untuk mengucapkan satu atau dua kata–atau status kata dibutuhkan untuk menyelamatkan satu jiwa? Apa yang ia ketahui tentang surga dan neraka? Bahkan seorang pendeta tua dikubur di kota tak bernama tahu siapa yang berhak atas surga. (Hal. 58)
Pernikahan bukan persoalan kedatangan tamu atau tidak. Ini masalah saling mencintai. (Hal. 69)
Itu tidak baik. Setiap helaan napas bagai setitik kehidupan ditelan bulat-bulat. (Hal. 74)
Hidup sudah cukup keras. Satu-satunya hal yang membuatmu bertahan adalah harapan bahwa saat kau mati kau akan diangkat dari belitan kefanaan ini; tetapi ketika mereka menutup satu pintu untukmu dan satu-satunya pintu yang terbuka adalah pintu menuju neraka, lebih baik kau tak pernah dilahirkan. (Hal. 108)
Baik saja tidak cukup. Dosa tidak baik. Dan untuk mengakhiri dosa, kau harus keras dan tanpa ampun. (Hal. 115)
Aku menganggap jemaatmu masih beriman, tetapi bukan kau yang mempertahankan keyakinan mereka. (Hal. 115)
Kau tidak bisa terus menahbiskan orang saat kau sendiri bergelimang dosa. (Hal. 116)
Biarkan Tuhan yang menghakimi orang mati. (Hal. 116)
Kematian bukanlah sesuatu yang harus dibagi-bagikan seperti berkah. Tak ada orang yang mencari-cari nestapa. (Hal. 123)
Tak seorang pun mengerang hanya karena ingin mengerang. (Hal. 128)
Dunia ini menekan kita dari berbagai sisi; menyebarkan berkepal-kepal debu kita melintasi tanah dan mengambil potongan-potongan diri kita seakan ingin menyirami Bumi dengan darah kita. (Hal. 134)
Tidak ada yang abadi, tidak ada kenangan, seberapa pun kuatnya, yang tidak memudar. (Hal. 149)
Jagalah baik-baik, karena uang tidak tumbuh di pohon. (Hal. 163)
Menurutmu, apa itu hidup, jika bukan dosa? (Hal. 169)
Orang mati tidak pernah mengeluh. (Hal. 170)
Orang-orang gila tidak perlu membuat pengakuan dosa, bahwa meskipun jiwa mereka berdosa, mereka tetap tak bersalah. Hanya Tuhan yang tahu …. (Hal. 173)
Serahkan segalanya pada takdir Tuhan. (Hal. 174)
Kami orang-orang tua tidak banyak tidur, hampir tidak pernah. Mungkin kami mengantuk, tapi pikiran kami terus bekerja. (Hal. 180)
.webp)
0 Comments