Dekat dan Nyaring: Refleksi Kehidupan Urban Sesungguhnya
Januari 18, 2025•••
Identitas buku:
Judul: Dekat dan Nyaring
Penulis: Sabda Armandio
Penerbit: BaNANA
Tahun: Maret 2019
Jumlah: 110 halaman
ISBN: 9789791079704
Kategori: novela, fiksi, penggalan hidup
•••
Blurbnya:
SEBUAH LEDAKAN. Dekat dan nyaring. Sebuah letusan. Dekat dan nyaring. Suara letupan. Dekat dan nyaring. Suara genta. Dekat dan nyaring. Lonceng warung berdentang. Dekat dan nyaring.
Dekat dan Nyaring menceritakan satu hari dalam kehidupan penghuni Gang Patos, sebuah kampung berbatas sungai dengan legenda menggentarkan—semisal salah seorang penghuni lamanya adalah laki-laki bernama Beni Satria yang mencangkok kepalanya sendiri dengan roda gigi sehingga otaknya dapat berputar jauh lebih lancar ketimbang manusia biasa.
Gang Patos sudah ditinggalkan oleh hampir semua penghuninya. Mereka yang tersisa adalah Edi, pemilik warung yang menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang, mulai daging ular asap sampai rajangan ganja palsu; Nisbi, janda seorang polisi, yang menyimpan cerita masa lalu yang selalu ia rahasiakan dari anak tunggalnya; Wak Eli, yang pada masa mudanya pernah menjadi figuran film Balada Cewek Jagoan dan menyaksikan Cok Simbara berkelahi, dan pada masa senjanya mesti mengasuh Aziz, anak semata wayangnya yang kecerdasan mentalnya tertinggal sepuluh tahun dari usia sebenarnya; Idris, penjual regulator tabung gas yang selalu menguarkan aroma lavender; Kina, istri Idris, yang memiliki alasan tersembunyi tinggal di sana, alasan yang hanya diketahui penghubungnya dengan dunia luar: seorang pengendara motor bermulut sengak bernama Dea Anugrah.
•••
Garis besarnya:
Gang Patos terletak di bantaran sungai yang diapit oleh gedung pertokoan tiga tingkat setengah jadi, sebuah bangkai bis dalam kota, sebuah swalayan 24 jam, dan perumahan elit Permata Permai Residence. Dulu, Gang Patos pernah padat penduduknya dan kini sebagian besar penghuninya telah pergi. Yang tersisa inilah yang terus bertahan, baik bertahan hidup dalam himpitan kemiskinan maupun bertahan dari penggusuran permukiman elit, Permata Permai Residence, yang lokasinya tidak jauh dari Gang Patos.
Berkisah tentang aktivitas orang-orang miskin kota—tokohnya telah disebut semua dalam blurb—yang selalu memiliki cara untuk tetap berdaya dengan semangat pantang menyerah meski teror dan ketakutan terus menyergap Gang Patos beserta penghuninya. Sebuah dongeng misterius yang dikisahkan dari tiga sudut pandang menambah keriuhan di sana.
•••
Resensinya:
Buku kedua Dio yang saya baca setelah 24 Jam Bersama Gaspar (resensi di sini). Termasuk tipis—banget—dan kovernya sangat dongeng sekali. Sewaktu membaca blurb dan menatap sampul depan novel ini masih belum menemukan keterkaitannya. Hanya menerka-nerka dari bangunan di pinggir sungai atau laut itu apakah ada kemungkinan kisahnya berhubungan dengan penggusuran warga.
Dekat & Nyaring sebuah novela yang menghadirkan pergulatan manusia dalam kemiskinan serta cengkeraman ruang hidup yang kian didesak pembangunan.
Seperti judulnya, pembaca bakal ikut mengamini bahwa kemiskinan memang begitu nyata di sekitar kita, serta ikut mengetahui jika penyingkiran-penyingkiran tempat tinggal yang begitu hangat-akrab-melekat selalu terjadi. Kedua hal tersebut begitu dekat dan nyaring.
Selain menggambarkan ironi masyarakat miskin kota yang berada di antara gedung-gedung tinggi, permukiman elit, dan bangunan lainnya yang serbamewah, serbawah, serbamegah serta ruang hidup yang hendak dipinggirkan pihak lain melalui bujuk rayu halus hingga kasar, Dio—dalam pandangan saya—juga mengisahkan para penghuni yang memilih untuk terus bertahan hidup dengan melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan, memilih untuk tetap tinggal dengan beragam alasan yang hanya mereka pahami sendiri sekalipun kesempatan yang ditawarkan (dengan ganti-rugi pastinya), barangkali, bisa membuat mereka menjadi lebih baik.
Sebagaimana tertulis dalam blurb, cara-cara mereka bertahan hidup sebagian besar tergambarkan langsung pada lembar-lembar awal oleh tokoh bernama Edi: membuka warung 24 jam yang menjual segala hal, mulai dari daging ular asap hingga minyak kobra palsu; kemudian di tengah-tengah cerita ada Nisbi yang terdesak kebutuhan dan uang sehingga akhirnya membantu Edi membuat ganja palsu dari bunga bokor, Edi melemparkan ide mencuri listrik dari gardu perumahan agar tidak perlu repot-repot membayar tagihan sementara uangnya bisa digunakan untuk keperluan sekolah anak Nisbi; Idris yang menggunakan pakaian dalam bolak-balik demi menghemat membeli yang baru serta gemar memakai minyak wangi lavender yang berasal dari campuran losion antinyamuk dan air, dst.
Sungguh … semangat bertahan hidup yang luar biasa. Kreatif. (Saya tidak akan membahas benar-salah perihal pencurian listrik dll.-nya karena yang ingin saya sampaikan bagaimana masyarakat Gang Patos memiliki semangat juang untuk hidup dengan melakukan apa saja demi menyambung hidup keesokan harinya)
Kisah penghuni Gang Patos tidak melulu tentang upaya bertahan hidup atau menolak keterdesakan perluasan pembangunan, ada nilai-nilai lain di dalamnya, seperti kasih sayang dan persahabatan. Dio menarasikannya lewat adegan-adegan sederhana dan mengena. Sebut saja perlakuan semua orang kepada Aziz; nasihat-nasihat Wak Eli; persahabatan Edi dan Idris; Nisbi yang memiliki masa lalu suram dengan sang suami, tetapi tetap menceritakan hal-hal positif dari sang ayah kepada anaknya, Anak Baik, meski harus mengarangnya.
Satu hal yang menggelitik saya yakni upaya Dio menyinggung metode-metode yang dilakukan penulis selama ini untuk menyuarakan kaum terpinggirkan. Di sini, dalam buku ini ada karakter Kina yang terjun langsung menjadi masyarakat Gang Patos dengan menikahi Idris agar memiliki cukup bahan sebelum menyusun sebuah karya.
Di samping itu jangan lupakan dongeng yang turut mewarnai buku ini: Cerita Orang Patos dan Orang Koksi. Kisah orang-orang Patos dan pendatang, Koksi, yang diceritakan secara berbeda melalui tiga sudut pandang: Nisbi, Wak Eli, dan Edi. Meski ngelantur dan tidak jelas, pembaca tetap mampu menarik satu benang merah yang sama yakni kehidupan orang-orang Patos yang semula tenang dan baik-baik saja secara perlahan dikuasai oleh orang-orang Koksi.
Sama halnya dengan 24 Jam Bersama Gaspar, Dio menuliskan latar waktu Dekat & Nyaring dalam kurun waktu tidak sampai sehari, bahkan mungkin kurang dari dua belas jam. Semua tokoh-tokoh dalam novel ini menarik dan memiliki porsi yang pas. Saya malah tidak tahu yang mana tokoh utamanya, wkwkwk, sebab semua diceritakan dengan wajar polah orang per orang di Gang Patos, termasuk Sam, polisi yang pernah tinggal di sana yang ditugaskan untuk lobi-lobi kepada para penghuni yang masih bertahan.
Sekali lagi, masih sama dengan 24 Jam Bersama Gaspar, buku ini tetap mengandung humor sarkas yang kental dalam narasinya, meski tone lucunya tidak sebanyak Gaspar. Mungkin karena bentuknya novela, maka dibuat langsung das-des dengan gaya tulisan yang sederhana, ringkas, dan to the point.
Asyiknya, Dekat & Nyaring tidak memiliki bab-bab seperti novel/novela pada umumnya. Pemindah antarkejadiannya berupa tulisan yang diketik dengan huruf kapital, seperti dalam blurb: SEBUAH LEDAKAN. SEBUAH LETUSAN. SUARA LETUPAN dst.
Secara keseluruhan, saya cukup menikmati Dekat & Nyaring. Namun ada beberapa hal yang membuat saya mengernyit dan itu membuat buku ini saya beri empat bintang: terdapat beberapa salah ketik nama; ceritanya tidak tuntas, seolah sengaja dibiarkan bergulir begitu saja dan membebaskan pembaca berasumsi atau menerka-nerka.
Bacalah novela ini dengan fokus dan tidak terputus, sebab kisahnya saling bertautan satu dengan yang lain. Buku ini cocok untuk pembaca yang ingin melihat kehidupan kaum urban sesungguhnya.
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Ia meyakini kalimat kesukaannya setiap kali menghadapi masalah, “Selalu ada jalan lain.” (Hal. 8)
Pendiri swalayan itu dan perumahan di seberang itu punya tiga hal yang menjadi modal awal: keyakinan, pikiran positif, dan sedikit uang. (Hal 15)
Ingatan memang menjadi senjata ampuh untuk mengembalikan kepercayaan diri. (Hal. 16)
Kenapa, sih, orang bisa tua? Mungkin supaya tahu kapan harus istirahat. Waktu muda aku suka bekerja dan mencari tahu, seperti kamu sekarang. Kalau sudah tua kan jadi mau nggak mau harus istirahat. (Hal. 43)
Ada banyak hal di dunia ini yang tidak ada di dalam buku. (Hal.52).
Aku rasa kalau kau mau sedikit saja melatih diri buat berprasangka baik, hidupmu akan jauh lebih mudah. (Hal. 67)
Lagi pula kalau aku memikirkan perasaan orang lain, aku nggak akan bisa hidup. (Hal. 68)
.webp)
0 Comments