Kemelut Rondasin dan Dua Anaknya

Januari 22, 2025

Kemelut yang ruwet.

•••


Identitas buku:

Judul: Kemelut Rondasih dan Dua Anaknya

Penulis: Minanto

Penerbit: GPU

Tahun: 2024

Jumlah: 261 halaman

ISBN: 9786020672502

Kategori: novel, penggalan hidup/slice of life


•••


Blurbnya:

“Lidah mertua keras, tegak panjang, dan runcing di ujung. Sebagian orang tahu tanaman itu tidak cuma berfungsi sebagai tanaman hias, tanaman itu juga berfungsi mengisap polusi udara….dia bisa mengisap racun dan bau tidak sedap. Termasuk, racun-racun dari mulut tetangga.”


Rumah tangga Rondasih dan Manas sedang tidak baik-baik. Perkara batas tanah dengan tetangga kanan-kiri yang kerap membuatnya gerah, hubungan dengan orangtua dan saudara kandung yang penuh sengkarut, sosok mertua yang pilih kasih, juga dua anak kembarnya—Roman dan Rojaman—ibarat petasan penuh ledakan. Di tengah segala ruwet persoalan hidup, nyatanya kasih dan cinta Rondasih adalah sumur tanpa dasar.


***


Novel karya Minanto—pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019 sekaligus Tokoh Sastra Majalah Tempo 2020—mengajak untuk mencermati kehidupan rural dengan segala rimbun percekcokan, menghidu aroma bakal jambu, sekaligus menemukan definisi keluarga yang kadang absurd.


•••


Garis besarnya:

Berlatar di sebuah kampung di Indramayu, novel ini menggali keluarga Rondasih, Manas, Roman, dan Rojaman dalam menghadapi berbagai rintangan sosial dan ekonomi yang menguras emosional mereka: nyinyiran, sindiran, dan tuduhan tetangga; deg-degan perkara warisan, tempat tinggal, dan batas tanah; mertua yang pilih kasih; bahkan menyinggung LGBT. 


Kemelut yang tidak gampang untuk diurai.


•••


Resensinya:

Buku kedua yang saya baca dari Minanto setelah Aib dan Nasib (baca resensinya di sini). Sekali lagi, dalam pandangan saya, Minanto masih berhasil membawa cerita kehidupan masyarakat perkampungan atau pedesaan dengan segala kondisi dan masalah sosial ekonomi—sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan—yang melingkupi, mulai dari komunikasi antarkeluarga yang mampet, persoalan pola asuh, ketimpangan pendidikan, tekanan ekonomi/kemiskinan, hubungan sosial dengan sesama, sampai prasangka dan tuduhan yang membikin lelah jiwa raga.


Novel ini mendedah sengkarutnya keseharian masyarakat yang hidup di perkampungan (yang saya rasa enggak cuma di perdesaan melainkan juga terjadi di perkotaan) melalui tokohnya—Rondasih—yang mengalami keruwetan setiap harinya akibat kelakuan tetangga, orang tua dan mertua, ipar dan saudara, sampai anak-anaknya.


Sungguh buku yang bikin saya mengelus dada sebab segala percekcokan dan masalah yang tumpang tindih dan mengentak dari awal hingga akhir cerita.


Meski demikian, buku ini juga menawarkan keteguhan dan kelembutan Rondasih sebagai seorang ibu yang dalam buku ini dilukiskan laksana sumur tanpa dasar berkat kesabarannya, ibarat air di tengah carut marut dan panasnya persoalan.


Minanto apik mengemas bola panas yang berkelindan sepanjang cerita membuat tensi pembaca naik-turun. Perguliran ceritanya lincah dan rapi, narasi “dramanya” seru untuk dibaca, alurnya linier membuat mudah diikuti, dialog-dialog julidan dan tuduhan tetangga yang membabi buta mampu bikin panas hati, serta Rondasih yang mencoba bertahan dari kegaduhan cukup memikat.


Sekalipun menyerempet LGBT, tetapi hal tersebut hanya sedikit adegan sebagai penguat tema dan pesan yang hendak disampaikan Minanto: kesiapan pernikahan, pengasuhan orang tua-anak, memaknai keluarga, menjadi tetangga yang baik, sampai memutus trauma masa lalu.


Pengembangan karakter dalam buku ini menarik untuk diikuti, meskipun saya tetap merasa kesulitan dalam menghapal nama-nama tokohnya (barangkali karena belum terlalu familiar dengan penamaan Jawa Barat).


Saya merekomendasikan novel ini untuk penggemar cerita-cerita penggalan hidup atau slice of life sebab kisahnya yang sangat dekat sekali dengan kehidupan kita.


Minat baca?


•••


Kutipannya:

Sebagai seorang anak, tiap-tiap kita patut menganggap ibu kita sebagai bumi dan langit—tempat hidup, tempat pulang, tempat kita belajar dan merasakan kebahagiaan dan kesedihan sekaligus. (Hal. 1)


Mula-mula kuajarkan mereka untuk mendengarkan. Sebab dunia ini terlampau gaduh bila semua orang gemar berbicara, dan semakin sedikit yang mendengarkan. Lubang telinga memang kalah besar dibandingkan liang mulut, tapi akan lebih baik bila mereka mengandalkan telinga untuk perlahan-lahan belajar dewasa. (Hal. 2)


Aku ingin mereka paham tentang hidup; tentang bagaimana hidup ini sering menggiring kita kepada hal itu-itu saja. Itulah takdir. Ia melingkar mengikat. (Hal. 2)


Dan takdir, termasuk kematian, sekuat apa pun mengelak ia akan lebih kuat mendatangi. (Hal. 96)


Maling mah maling. Cara apa saja dilakukan, lompat, loncat, anjlog, jungkir, terjun, mungkin, apalagi kalau maling itu orang dekat. (Hal. 114)


Kalau perempuan saja selalu dikulik-kulik apakah dia janda atau gadis, lelaki juga perlu diketahui duda atau perjaka. (Hal. 179)


Hidup berubah dalam hitungan detik. Kalau kita nggak cepat-cepat, terlambatlah kita ditinggalkan kehidupan ini. (Hal. 180)


Aku tahu rasa rindu memang perlu diobati dengan pertemuan, dengan pembicaraan, dengan senda gurau. (Hal. 203)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts