Ksatria Terakhir: Mengenal Lebih Dekat dengan Tokoh Pembaharu Islam dari Turki.

Januari 21, 2025

Sebuah potret keberanian intelektual dan spiritual di tengah gejolak transisi Turki dari kekhalifahan menuju sekularisme

•••

Identitas buku:

Judul: Ksatria Terakhir (Based on a True Story of Badiuzzaman Said Nursi)

Penulis: Farid Al Anshory

Penerbit: Republika

Tahun: 2023

Jumlah: 352 halaman

ISBN: 9786232792104

Kategori: novel, fiksi sejarah


•••


Blurbnya:

“Wahai Said! Jadilah benar-benar seperti tanah yang rendah hati, meninggalkan keegoan diri dan bertawadhu adalah keharusan, agar tidak kau perkeruh kemurnian Risalah Nur, dan tak pula kau patahkan pengaruhnya.” —Badiuzzaman Said Nursi, Kastamonu Lâhikası—


Said Nursi, demikian nama lengkap ulama terkemuka asal Turki ini. Beliau dijuluki dengan nama Badiuzzaman yang berarti Sang Keajaiban Zaman. Julukan ini bukan asal disematkan, tetapi nama itu merujuk pada keilmuan dan kealiman dari Said Nursi. Betapa tidak, pada umur tujuh tahun, beliau sudah hafal Al-Quran. Bahkan, pada usia 15 tahun, sudah hafal lebih dari 80 kitab klasik karya ulama terkemuka. Otaknya bagaikan mesin foto kopi, semua terekam cepat. Sekali baca kitab, maka yang keluar akan sama hasilnya, tanda baca titik dan koma, serta tulisannya sama persis tanpa ada lebih dan kurang.


Ketokohannya makin tak diragukan. Di saat usianya masih remaja, puluhan ulama menguji kemahirannya dalam ilmu Al-Quran dan masalah-masalah hukum Islam. Semua pertanyaan yang diajukan para alim ulama Turki—pada masa itu— dijawab tuntas dengan jawaban yang sangat memuaskan khalayak (mumtaz).


Kealiman dan kemampuannya yang di atas rata-rata manusia itu, membuatnya untuk terus mengabdikan diri pada dakwah Islam dan negerinya. Di kala Perang Dunia I hingga menjelang penghabisan. Puluhan penjara dijalaninya, puluhan kota dan negara disinggahinya, ribuan kilometer jarak jauh harus ditempuhnya demi mempertahankan negerinya dari gerakan sekulerisme dan kekejaman penjajah. Dan dari bilik penjara yang mengekangnya, lahir karya yang sangat fenomenal, Risalah Nur. Beliau adalah Akhirul Fursan, Sang Ksatria Terakhir.

— — — — —

Sebuah novel yang mengisahkan jejak perjuangan Badiuzzaman. Ditulis dengan gaya bahasa dan sastra yang indah, oleh novelis terkemuka asal Maroko, Farid Al-Anshory. Ketokohan Badiuzzaman layak menjadi teladan manusia masa kini, berjuang tak kenal lelah demi memperjuangkan cita-cita luhur dan mulia.


•••


Garis besarnya:

Kisah heroik Said Nursi, ulama besar Islam modern Turki, sejak masih muda hingga akhir hayatnya. Dia mendapatkan julukan Badiuzzaman (Sang Keajaiban Zaman) karena kemampuan ingatannya yang dapat merekam dengan detail kitab-kitab klasik secara cepat dan tepat pada usianya yang masih belasan. Cerita-cerita perjalanan Said Nursi begitu beragam: mencari ilmu, berdakwah, ikut dalam Perang Dunia I, sampai terus berkarya meski dalam penjara maupun pengasingan demi menerbitkan karya Risalah Nur.


•••


Resensinya:

Ksatria Terakhir ini perkenalan pertama saya dengan gaya kepenulisan Moroko serta mengenal kisah Said Nursi yang sebelumnya saya benar-benar tidak mengetahuinya. Bahkan sewaktu membaca blurbnya pun saya masih belum ngeh Said Nursi itu siapa. Pengetahuan saya tentang Turki itu tidak jauh-jauh dari Kekaisaran Turki Ottoman atau Muhammad Al-Fatih yang dikenal sebagai Sang Penakluk Konstantinopel. Baru usai menamatkan buku ini dan dilanjut searching tentang siapa beliau, Said Nursi merupakan seorang ulama besar, pemikir Islam modern Turki kala itu.


Ksatria Terakhir merupakan novel biografi yang mengisahkan perjalanan heroik Said Nursi asal Turki sejak kecil-remaja-dewasa sampai meninggalnya. Lewat buku ini, pembaca akan mengetahui dari mana asal julukan Badiuzzaman atau Sang Keajaiban Zaman tersemat kepadanya; bagaimana kemampuan intelektualnya, kecerdasannya yang tajam, pengetahuannya yang melimpah, serta wawasannya yang luas membawanya memperjuangkan gagasan-gagasan yang menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern; melakukan perlawanan atas sistem sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk; sampai, yang paling saya suka, menelurkan ide-ide dan konsep yang mengintegrasikan antara agama dan sains.


Penulis dengan baik menggambarkan kehidupan Said Nursi: keingintahuan yang besar akan ilmu; kemampuan menyerap kitab-kitab; berdakwah lewat pena dan lidah; hingga penderitaan selama puluhan tahun dilewati dari penjara ke penjara dan pengasingan bahkan sampai diracun. Tidak cukup, penulis juga mengisahkan keberanian Said Nursi berada di barisan paling depan untuk membela kalimat Tauhid seperti sewaktu muda melawan Sultan Pasya yang terkenal kejam dan zalim maupun ketika beragam upaya pencekalan dari pemerintah, tetapi Said Nursi tetap mampu menyusun dan menyebarkan Risalah Nur.

Dalam pandangan saya, Said Nursi ini sosok yang bisa menyeimbangkan kekuatan intelektual, moral, dan spiritual dengan baik. Tidak membuatnya jumawa, justru tetap rendah hati.


Ada banyak keteladanan yang saya dapatkan usai membaca buku ini. Dari ayah Said Nursi yang berkomitmen untuk tidak akan memakan ataupun menyentuh barang haram semasa hidupnya. Ibu Said Nursi yang tidak pernah terlepas dan selalu menjaga dirinya dalam keadaan suci (berwudu) bahkan saat menyusui anak-anaknya. Kemudian dari Said Nursi sendiri memberikan inspirasi dengan menumbuhkan sikap gemar membaca; mempertahankan integritas; terus bersemangat dan pantang berlelah-lelah; tetap tenang meskipun dalam situasi penuh hambatan; tetap berbagi tanpa harap kembali; sampai berani terkucilkan selama berada di jalan kebenaran dan kebaikan.


Biografi ini disusun dengan memadupadankan unsur fiksi dan nonfiksi. Meski demikian untuk kisah perjalanannya tetap akurat sebagaimana tercantum dalam sejarah, sedangkan bagian fiksinya ketika tokoh Aku selalu bertemu Said Nursi ketika tengah menapak tilas terciptanya Risalah Nur.


Menggunakan alur maju membuat buku ini bisa dinikmati. Gaya berceritanya cenderung unik, dalam pandangan saya, memakai banyak diksi berlimpah alias showing banget di sepanjang halaman. Bagi sebagian pembaca, hal ini bakal melelahkan cenderung membosankan karena berbelit-belit dan berlebihan. Namun, bagi penikmat kalimat-kalimat indah, bakalan cocok. Buku ini saya rekomendasikan bagi pencinta sejarah maupun yang ingin mengenal tokoh-tokoh Islam modern ataupun yang berkeinginan memantapkan keyakinan.


Ksatria Terakhir, sebuah biografi yang mampu membawa pembaca untuk menyelami kisah Said Nur dan bagaimana beliau terus mengajak kembali umat Muslim kepada risalah yang dibawa Nabi Muhammad, yakni Al-Qur’an.


Minat baca?


•••


Kutipannya:

Sekiranya aku memiliki seribu nyawa, akan kukorbankan nyawaku itu satu per satu, masing-masing demi sebuah hakikat dari syariat. Karena syariat adalah penyebab kebahagiaan, keadilan dan kebajikan. (Hal. 9)


Maka sikap yang tepat untuk mengatasi kegundahan, ketika keluhan tak lagi bisa mewakili adalah dengan menyebut tentang junjungan kita Rasullah saw. (Hal. 37)


Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). (Hal. 39)


Terkadang seseorang mungkin akan menyembunyikan hakikat kebenaran dari orang lain, untuk mematahkan nafsu kesombongan yang ditiupkan oleh tipu daya setan padanya. (Hal. 44)


Wahai saudaraku, ilmu akan mencapai kesempurnaannya jika disertai dengan amal. Bagaimana bisa kau ingin menyempurnakan mimpimu, sedangkan potongan bagian yang separuh itu jauh lebih tinggi derajatnya dari dirimu …. Kau tidak akan bisa naik, mencapai ke atas, kecuali dengan bergiat untuk melakukan amar ma’ruf nahy-i ani’I munkar. (Hal. 50)


Ilmu adalah hakim yang paling baik, sedangkan ulama adalah pembuat perjanjian dan seseorang yang biasa dimintai pendapatnya atas segala keadaan. (Hal. 60)


Dan aku melihat bahwa kebahagiaan duniawi kita dinutrisi oleh dua sumber. Yang pertama adalah ilmu-ilmu agama, dan yang kedua ilmu-ilmu modern abad ini. Oleh karena itu, mempelajari keduanya adalah hal yang darurat, dan tidak boleh ada satu pun yang dilalaikan. Para ulama agama tak boleh asing dengan ilmu-ilmu modern. Sementara di daerah ini masyarakat masih patuh pada perkataan ulama. (Hal. 81)


Yang kutakutkan adalah ketika kelompok masyarakat yang berada dalam pergolakan, lalu terjun pada dunia politik tanpa pertimbangan nalar yang benar, maka mereka dapat merusak keamanan dan keteraturan bangsa. (Hal. 110)


Musuh kita adalah kebodohan, kemiskinan dan perpecahan. Kita harus berjihad melawan tiga musuh ini; dengan pedang keterampilan, keahlian dan persatuan. (Hal. 111-112)


Rasisme adalah salah satu musuh besar bagi dunia Islam, hal ini benar-benar berseberangan dengan Islam. (Hal 112)


Mereka adalah para alim ulama, namun angin perbedaan telah memisahkan jalan serta pemikiran mereka hingga masing-masing berada pada sisi yang berlawanan. Padahal tugas menjaga kehidupan umat bergantung pada mereka. Lalu bagaimana jadinya? (Hal. 127)


Ketika sesuatu yang baik mulai datang ke tubuh kita, maka setan dengan segala daya upayanya akan terus berusaha merusak hal tersebut. (Hal. 129)


Dengan rahasia keinsyafan dari kaidah bahwa 10 hasanah kebaikan takkan terhapus dengan satu keburukan, maka: sebuah kesalahan, satu keburukan, walau pun terlihat, tak akan membuat kalbu ternodai lalu menentang keberadaan kebaikan yang ada lainnya. (Hal. 253)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts