1984: Kontrol Absolut Sebuah Negara
Januari 22, 2025Bacaan suram tanpa harapan perihal cara kerja ideologi negara mengonstruksi realitas sosial dan politik masyarakatnya.
Identitas buku:
Judul: 1984
Penulis: George Orwell
Penerbit: GPU
Tahun: Cetakan kedua: 2023
Jumlah:408 halaman
ISBN: 9786020661988
Kategori: fiksi, novel, distopia
•••
Blurbnya:
Winston Smith berusaha menjalani hidupnya sebagai warga negara yang patuh terhadap aturan-aturan Partai, walaupun hati dan pikirannya memberontak. Winston tidak berani melawan terang-terangan, sebab Big Brother senantiasa mengawasi semua orang. Tak ada privasi bagi siapa pun. Segalanya diatur oleh Negara, bahkan sejarah pun ditulis ulang sesuai kebutuhan. Big Brother menuntut kepatuhan dan kesetiaan total. Yang berani menentang akan diuapkan.
Dalam kerinduannya untuk memperoleh kebebasan dan kebenaran, Winston mulai menulis buku harian dan menjalin cinta rahasia dengan Julia. Namun harga kebebasan itu sungguh mahal, sebagaimana dialami Winston kemudian.
•••
Garis besarnya:
Tahun 1984 ketika peperangan terjadi tanpa henti di antara tiga poros dunia: Oceania, Eastasia, dan Eurasia; Winston Smith—seorang pegawai pemerintah di Kementerian Kebenaran Oceania yang bertugas mengubah sejarah dan menuliskan ulang demi kepentingan Partai, berusaha keras menjadi warga negara yang baik dan patuh—diam-diam mempertanyakan kebijakan-kebijakan negaranya (Big Brother memonopoli kekuasaan, Partai mengendalikan penuh semua aspek kehidupan, Polisi Pikiran dan telescreen melakukan pengawasan total dan massal).
Keresahan dalam hati Winston kian membuncah tatkala dirinya menjalani hari-hari dengan menyaksikan pemikiran-pemikiran independen dan ekspresi kebebasan individu malah disebut sebagai bentuk pemberontakan, sebuah tindak kejahatan serius yang dapat dihukum.
Terpenjara dalam dunia penuh aturan membuatnya menyimpan keinginan untuk memberontak terhadap rezim tersebut. Dia pun mulai menulis kegelisahannya pada buku harian yang dia simpan secara rahasia dan mencatat pendapat-pendapat kritisnya.
Suatu hari Winston berjumpa dengan Julia—anggota Partai yang semula dia curigai sebagai mata-mata—dan keduanya menjalin hubungan terlarang bahkan saling mengungkapkan keinginan mereka untuk melawan Partai. Meski sadar rentan terhadap tuduhan pengkhianat, keduanya terlibat dalam upaya meruntuhkan rezim usai bertemu dengan perwakilan gerakan bawah tanah, O’Brien—yang memberikan buku filosofi pemikiran Emmanuel Goldstein, musuh utama Partai.
Akan tetapi, perlawanan tersebut terendus. Polisi Pikiran memisahkan mereka dan membawa keduanya ke Kementerian Kasih untuk menjalani hukuman dan indoktrinasi.
•••
Resensinya:
George Orwell, nama pena dari Eric Arthur Blair, seorang penulis berkebangsaan Inggris yang menerbitkan beberapa karya fenomenal, salah duanya “Animal Farm” (resensi baca di sini) dan yang akan saya ulas “1984”.
Perang adalah Perdamaian.
Kebebasan adalah Perbudakan.
Ketidaktahuan adalah Kekuatan. (Slogan Partai)
Sepanjang saya membaca “1984”, perasaan deg-degan tidak pernah lepas menyergap, terutama bab satu dan bab tiga. Rasa-rasanya sesak, perih, dan suram sekali. Bergidik ngeri membayangkan seandainya negara semacam Oceania itu beneran ada atau ada satu-dua negara yang benar-benar menjalankan ideologi serupa “1984” (kalau zaman dulu mungkin iya. Ingat Jerman dan Rusia, kan?).
“1984” novel yang mengeksplorasi ketika pemerintah menjalankan dan mempertahankan kekuasaannya lewat jalan kekerasan, propaganda, pengawasan, pembatasan, pemutarbalikkan kebenaran, penyusunan ulang sejarah, secara terus-menerus dan, disadari atau tidak, telah memadamkan pemikiran kritis dan merenggut kebebasan warganya secara total.
Orwell menunjukkan kritiknya atas cara-cara totalitarisme berkuasa: manipulasi sejarah, kontrol berlebihan atas informasi, pengendalian dan pengawasan penuh terhadap individu, pembatasan bahasa, penekanan kebebasan individu, dan pengabaian hak asasi manusia.
Seperti yang saya sampaikan di awal jika sepanjang membaca buku ini menimbulkan perasaan tidak menyenangkan. Adegannya memang tidak berdarah atau banyak tubuh terpotong-potong, tetapi nuansa yang dihadirkan oleh Orwell berhasil membuat kepala saya berdenyut dan jantung saya berdetak lebih cepat dan kegelisahan tidak berhenti menyelimuti. Saya bertanya-tanya, mengapa masyarakat begitu adem ayem, tidak berusaha memberontak, atau merasakan hal-hal ganjil dalam Oceania? Mengapa mereka tetap patuh di bawah kendali Big Brother? Mengapa masyarakat tidak terganggu dengan berita yang tiba-tiba berubah, sejarah yang mendadak berbeda, orang-orang yang tahu-tahu menghilang? Mengapa mereka seperti menerima penindasan, terus giat bekerja tanpa lelah yang bahkan tidak membuat kesejahteraan mereka meningkat?
Satu kesimpulan saya: sejak awal, tatanan negara telah dikondisikan sedemikian rupa, menyebabkan masyarakat merasa menjalani kehidupan dengan baik-baik saja dan keberadaan mereka bukanlah ancaman atau masalah besar bagi negara.
Selain keputusan menjalankan negara secara totaliter, bagaimana Partai melakukan itu semua?
Perang
Perang berkepanjangan tanpa pernah selesai, aliansi sekutu yang bisa berubah secara teratur memberikan alasan bagi negara (Oceania) untuk melakukan pembatasan (makanan, minuman, hiburan, dll.) dan pengawasan terus-terusan. Negara tidak memedulikan apakah jatah makanan yang diberikan sudah mencukupi kebutuhan atau tidak. Bagi Partai, menjaga ketertiban dalam negeri Oceania itu penting oleh karenanya Partai menuntut kesetiaan warganya ketika negara tengah berperang baik dengan Eurasia atau Eastasia.
Kontrol
Ungkapan kehidupan baru yang bahagia. Alasan yang digunakan Partai untuk menguasai hajat hidup banyak orang serta menerapkan pengawasan berlebihan kepada warganya. Keputusan-keputusan sepihak diambil alih tanpa perlu memberikan ruang bagi masyarakat untuk membuat pilihan. Menggunakan situasi perang yang terus berkecamuk, Partai bisa dengan mudah menjanjikan kehidupan dalam negeri terkendali asalkan warga mengikuti negara, sebab mereka adalah bagian dari negara, jika negara menang maka rakyat pun menang. Rantai kendali inilah yang ditanamkan dalam benak masyarakat.
Contoh kontrol yang dilakukan Partai, seperti tayangan bioskop semuanya tentang perang, jatah tembakau 100 gram seminggu, jatah cokelat 20 gram seminggu, menghapus kenikmatan hubungan seksualitas dan membunuh naluri seks (tujuan pernikahan yang diakui hanya untuk menghasilkan anak), dll.
Penciptaan sekaligus reduksi bahasa
Oceania memiliki bahasa yang digunakan sehari-hari: Newspeak (yang menggantikan Oldspeak sekitar tahun 2050 nanti). Negara mengatur dengan ketat pilihan kata dan tata bahasa yang digunakan. Bahasa tersebut ditentukan dan diterapkan lewat pembatasan kosa kata menjadi lebih sederhana dan sempit agar kata-kata yang dianggap berbahaya (atau mengumpat pimpinan, misalnya) tidak digunakan bahkan terpikirkan pun tidak. Secara perlahan dan sistematis hal ini memengaruhi ekspresi dan kebebasan pikiran individu sehingga Partai bisa mengendalikan pikiran masyarakatnya.
Seperti kata apa pun yang dapat dijadikan negatif, cukup menambahkan un-, atau diperkuat dengan tambahan plus-, atau lebih kuat lagi doubleplus-. Contoh: uncold artinya hangat, pluscold dan doublepluscold artinya sangat dingin dan luar biasa dingin. Sudah ada kata good maka tidak perlu ada kata bad sebab sudah terungkapkan dengan baik dengan kata ungood. Dark bisa digantikan dengan unlight, light diubah menjadi undark, dst. (Diringkas dari hal. 392)
Manipulasi kebenaran sejarah
Partai menyadari pentingnya mengontrol masa lalu demi mengendalikan masa kini dan masa depan menurut kebijakan Partai. Dan pekerjaan Winston yakni mengubah dan menyusun kembali sejarah yang telah ditulis (menulis ulang kejadian di surat kabar, merevisi prediksi, memundurkan tanggal, dst.). Menurut Partai, dengan memanipulasi sejarah akan berimbas pada memori kolektif masyarakat, menyebabkan mereka pun ragu dengan ingatan sendiri dan cenderung memercayai kebenaran yang diberikan Partai. Tidak ada yang namanya kebenaran objektif, yang ada hanyalah fakta demi kepentingan Partai.
Doublethink
2+2=5 menjadi simbol perhitungan terkenal dalam “1984”. Hasil yang jelas tidak tepat, tetapi bisa diterima secara sosial dalam masyarakat. Kontradiksi dalam pikiran ini tidak terlepas dari penanaman ide propaganda. Masyarakat dipaksa mengetahui dan tidak mengetahui, menerima dua keyakinan bertolak belakang (2+2=4 itu benar, dan 2+2=5 juga benar, serta contoh lainnya) dan memercayai kedua-duanya. Partai menekankan kepada warga agar secara sadar membangkitkan ketidaksadaran, lantas sekali lagi menjadi tidak sadar, seolah-olah terhipnotis. Di sini, Partai tengah memainkan realita
sekaligus menerapkan kepada diri mereka sendiri bahwa realitas tidak dilanggar.
Telescreen dan Polisi Pikiran
Sebuah perangkat pintar serupa televisi yang terus mematai-matai warga Oceania. Telescreen ini mampu menampilkan tayangan, merekam, dan mengirimkan gambar ke Polisi Pikiran. Tidak ada privasi sama sekali sebab gerak-gerik selalu terawasi, menyebabkan masyarakat perlu berpikir dua kali untuk menyampaikan suaranya agar tidak terkena hukuman. Polisi Pikiran bahkan mampu menyadap pikiran seseorang kapan pun dan di mana pun. Melalui telescreen inilah, Partai bisa mencegah indikasi pemberontakan dari warganya, bahkan dari kejahatan pikiran sekalipun.
Big Brother
Simbol supreme dalam Oceania. Meski tidak pernah menampakkan diri, dia kerap muncul dalam banyak materi propaganda lewat foto dan pesan-pesannya: “Big Brother mengawasimu”. Bagi warga, sosoknya adalah idola. Dia berhasil mencapai puncak kekuasaan tidak melalui mekanisme pemilihan, melainkan propaganda kebencian terhadap Emmanuel Goldstein—pemberontak/pengkhianat negara, musuh rakyat—maupun musuh-musuh fiktif yang dimunculkan sebagai ancaman negara, yang ditangkap sendiri oleh Partai dan diadili oleh Partai, menyebabkan masyarakat memilih berlindung agar aman.
Propaganda
Partai membuat banyak materi propaganda yang ditempelkan di tembok-tembok, poster, film, dll. Anggota Partai sendiri harus mengikuti Program Kebencian (nonton bersama film propaganda yang menampilkan kejahatan dan pemberontakan Goldstein) sebelum menyanyikan lagu-lagu patriotik. Telescreen secara berkala mengabarkan sejumlah informasi terkini, baik merayakan kemenangan, penangkapan pemberontak, pencapaian komoditas, pembagian makanan, dst. yang selalu berpusat pada keberhasilan dan kepedulian Big Brother (entah sebenarnya itu benar atau tidak). Oceania, ini untukmu!
Sebenarnya masih ada lainnya seperti penggunaan Kamar 101 yang digunakan sebagai ruangan khusus penyiksaan melalui metode pemberian ketakutan paling mengerikan yang dimiliki seseorang. Lubang Memori yang digunakan sebagai media penghancuran sejarah, dst.
Lewat novel ini, saya perlu sekali lagi mempertanyakan untuk apa kekuasaan berlebihan itu sebenarnya ada lewat sistem kontrol yang berlebihan. Buku ini juga mengajak pembacanya untuk berpikir kritis tentang ragam informasi yang diterima. Tidak langsung ditelan mentah-mentah, melainkan perlu mengkaji ulang atau cek cek cek terlebih dahulu. Setidaknya, “1984” mengajarkan kita untuk lebih menghormati dan melindungi kebebasan individu (asal jangan keblablasan. Kebebasan kita tetap dibatasi oleh kebebasan orang lain), serta memaksimalkan penggunaan bahasa dan kata dalam aspek komunikasi sehari-hari.
Meskipun tidak ada harapan dalam buku ini, tetapi “1984” mampu menjadi pengingat untuk tetap kritis kepada kebijakan pemerintah, terus menjaga kebebasan berpikir dan berekspresi, serta menghargai nilai-nilai hak asasi manusia selaku makhluk sosial..
Diksi novel terjemahan beralur campuran ini mudah dipahami. Babnya pun sedikit, hanya tiga dan memiliki lampiran berupa penjelasan tentang bahasa Newspeak itu seperti apa. Tokoh-tokohnya pun tidak banyak sehingga memudahkan pembaca untuk mengingat nama-nama karakternya.
Buku ini sesuai untuk mereka yang menggemari karya-karya George Orwell maupun karya-karya klasik, serta bacaan mencerahkan bagi mereka yang tertarik pada isu sosial politik.
Terakhir, jangan lupakan, kisah dalam novel ini memang lebih banyak bicara tentang ideologi politik dan kehidupan sosial masyarakatnya, tetapi “1984” masih menghadirkan kisah cinta yang kuat melawan segala rintangan.
Sudah baca?
•••
Kutipannya:
Sekarang, setelah mengenali dirinya sebagai orang mati, barulah dia merasakan pentingnya tetap hidup selama mungkin. (Hal. 42)
Musuh terbesar kita adalah sistem saraf kita sendiri. (Hal. 90)
Selama manusia tetap manusia, kematian dan kehidupan itu sama saja. (Hal 181)
Kalau kau mencintai seseorang, kau mencintainya, dan ketika tidak ada lagi yang bisa kauberikan, kau tetap memberinya cinta. (Hal. 218)
Kalau kau bisa merasa bahwa tetap menjadi manusia itu layak diperjuangkan, meski tidak menghasilkan apa-apa, maka kau sudah mengalahkan mereka. (Hal. 221)
Inti pemerintahan oligarki bukanlah warisan ayah dan anak, tetapi melanggengkan wawasan dunia tertentu dan cara hidup tertentu, yang dipaksakan oleh orang-orang hidup. Golongan penguasa tetap golongan penguasa selama mereka bisa mencalonkan penerusnya. Partai tidak bertujuan melestarikan darahnya, melainkan melestarikan dirinya sendiri. SIAPA yang memegang kuasa tidaklah penting, asalkan struktur hirarkinya tetap sama. (Hal. 273)
Menjadi minoritas, meski minoritas yang hanya sendirian, tidak berarti kau gila. (Hal. 282)
Kewarasan tidak bersifat statis. (Hal. 282)
Di mana ada kesetaraan, bisa ada kewarasan. (Hal. 286)
Kita adalah imam-imam kekuasaan. (Hal. 343)
Adakalanya manusia sanggup melawan rasa sakit, meskipun sampai nyaris mati. (Hal. 370)
Kadang-kadang, mereka mengancammu dengan sesuatu yang tak bisa kaulawan, sesuatu yang bahkan tak sanggup kaupikirkan. (Hal. 380)
.webp)
0 Comments