Look Back: Ada Alasan di Balik Setiap Goresan

Januari 22, 2025


Kisah introspektif lagi inspiratif dua sahabat dalam mengejar impian mereka.

•••

Identitas buku:

Judul: Look Back

Penulis: Tatsuki Fujimoto

Penerbit: m&c!

Tahun: Cetakan kedua: 2024

Jumlah: 140 halaman

ISBN: 9786230314889

Kategori: fiksi, komik, one-shot, persahabatan


•••


Blurbnya:

Di sebuah desa kecil, Fujino yang percaya diri terhadap kemampuan menggambarnya, bertemu Kyomoto yang selalu absen sekolah. Keduanya yakin akan saling mendukung satu sama lain sampai kapan pun, namun terjadilah peristiwa itu …


Komik one-shot yang menyajikan kisah tentang masa muda tak terlupakan bersama goresan kuas dan pena.


•••


Garis besarnya:

Fujino, siswi kelas 4 SD, rutin mengisi rubrik komik 4 panel di sekolahnya dan merasa besar kepala setiap kali teman-temannya memuji sambil menyebut potensinya ke depan menjadi komikus hebat. Suatu hari, guru meminta Fujino berbagi kolom komik dengan murid penyendiri, Kyomoto. Rupa-rupanya, hasil gambar komik Kyomoto jauh lebih bagus dibandingkan Fujino dan menuai sanjungan. Hal tersebut mendorongnya untuk berlatih menggambar lebih dan lebih. Sadar bahwa gambarnya tetap biasa-biasa saja dan masih kalah jauh dengan hasil Kyomoto, Fujino memutuskan berhenti membuat komik.


Hingga pada momen kelulusan SD, Fujino diminta gurunya mengantarkan ijazah ke rumah Kyomoto dengan alasan sesama pengisi rubrik komik 4 panel. Setibanya di sana, Fujino mengetahui bahwa sosok yang membuatnya berhenti menggambar rupa-rupanya mengidolakan dirinya. Tidak berselang kemudian, mereka pun bersahabat dan memutuskan menggambar dan membuat komik dengan nama pena: Kyo Fujino.


•••


Resensinya:

Siapa yang sudah menonton film Look Back? Gimana tanggapan usai menontonya? Nah, tidak berselang lama usai film tersebut turun layar, m&c! menerbitkan komiknya. Komik tersebut laris manis bahkan sudah muncul cetakan keduanya (atau malah sudah ketiga kali).


Salah satu karya Tatsuki Fujimoto yang menarik untuk diikuti. Kisahnya berpusat pada interaksi persahabatan antara Fujino dan Kyomoto: bagaimana awal mula persaingan sehat mereka untuk mengisi rubrik komik, lalu dipertemukan dan dipersatukan lewat komik, lantas berjuang bersama-sama, kemudian menyikapi adanya perbedaan ketika kesuksesan menghampiri, sampai menavigasi perasaan kehilangan.


Fujimoto sensei mengemas cerita persahabatan berlatar dunia komikus menjadi terasa istimewa sebab tidak sekadar berbicara perihal mimpi atau cita-cita yang harus terus diasah dan diraih, melainkan mengajak pembaca untuk tidak menyerah, untuk kembali merefleksi kepada diri sendiri atas keputusan menekuni sesuatu ketika terasa berat atau ragu untuk menjalaninya.


Saya menyukai cara Fujimoto sensei mengurai pertemanan yang terjalin antara Fujino dan Kyomoto. Sederhana, tetapi indah. Keduanya memiliki kepribadian yang bertolak belakang, tetapi, alih-alih menampilkan persaingan, malah bisa saling melengkapi, mampu menghadirkan kolaborasi kreatif yang dapat meningkatkan serta memaksimalkan potensi. Rasa-rasanya memang seru tatkala skill atau kemampuan kita bisa berkembang karena dikelilingi orang-orang sepemikiran dan memiliki semangat yang sama dan didukung lingkungan yang sekufu, bukan?


Hanya sedihnya, cerita mereka tidak berakhir bahagia (maaf, spoiler).


Meski demikian, bagaimana seseorang menerima takdir berupa kematian dan kehilangan juga tidak lepas dari pesan yang ingin disampaikan Fujimoto sensei. Manusia kerap kali menyesali kematian maupun kehilangan dengan berandai-andai. Padahal tidak ada hal yang dapat dilakukan untuk mengubahnya, selain penerimaan takdir dan melanjutkan hidup.

Cerita Fujino dan Kyomoto memang singkat, hanya satu volume tamat, bahkan durasi filmnya pun tidak sampai satu jam, tetapi Fujimoto sensei telah berhasil mengeksplorasi ragam emosi lewat perjalanan persahabatan keduanya.


Bahkan judul Look Back sendiri bisa memiliki banyak arti. Pertama, berarti punggung secara leksikal. Kedua, seperti dalam kover serta panel-panel di dalamnya yang menunjukkan punggung Fujino. Gadis itu tengah terus berusaha dan berusaha keras mengasah kemampuannya (dengan latar waktu yang berganti-ganti dan jumlah benda di kamar yang berubah maupun bertambah). Siapa yang tidak pernah keras terhadap diri sendiri? Siapa yang tidak pernah merasa cukup meski sudah berusaha mati-matian? Lewat karakter Fujino, pembaca mengetahui betapa kerasnya dia berjuang, bagaimana dia mengatasi sulitnya perjuangan dalam menciptakan sebuah seni, meski sempat menyerah dan menerima kenyataan dirinya tidak akan pernah lebih baik dari Kyomoto.


Ketiga, look back juga menyiratkan bagaimana kita perlu sesekali menengok ke belakang. Bukan untuk mengingat masa lalu (yang tidak menyenangkan), melainkan menanyakan kembali alasan kita melakukan sesuatu hal sampai detik ini. Untuk mengukuhkan lagi bahwa hal tersebut memang pilihan kita sendiri, kecintaan kita.


Kisah ini bisa pula diartikan sebagai pesan Fujimoto sensei kepada para pekerja seni di industri kreatif (khususnya komikus) untuk adaptif, berintegritas, memiliki kecintaan akan dunianya sekalipun banyak suka duka, dan wawas diri terhadap plagiarisme.


Look Back banyak memiliki panel-panel gambar tanpa kata-kata serta gambar berulang meski latarnya berbeda. Komik ini cocok untuk mereka yang mau merasakan kisah hangat dua sahabat serta yang ingin mencoba mengenal karya Fujimoto sensei yang singkat sebelum seri Chainsaw Man.


Tertarik baca?


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts