Tumbuh Dewasa: Momen Singkat Sebelum Dunia Kanak-Kanak Lenyap Selamanya.

April 21, 2025

Menilik ragam persoalan masa peralihan anak remaja menjadi dewasa.

•••


Identitas buku:

Judul: Tumbuh Dewasa

Penulis: Ichiyō Higuchi

Penerbit: bukukatta

Tahun: 2022

Jumlah: 84 halaman

ISBN: 9786237245940

Kategori: Fiksi, novela, coming of age


•••


Blurbnya:

“Kalau kalian mau menghajar Shota kenapa kalian tak menghajarnya? Kenapa kalian memukul Sangoro?

Midori sangat marah. Ia berusaha melepaskan diri dari istri pemilik toko.

“Ia tak melarikan diri dan kami tak menyembunyikannya. Ia memang tak ada di sini. Kalian paham, tidak? Ini tempat kami. Pergilah kalian ke tempat kalian sana. Kurang ajar kau, Chokichi, kenapa kau memukul Sangoro?”

Dan mereka pun merobohkan Sangoro. Baiklah, kalau mereka ingin memukul seseorang, biarkan mereka memukul. Midori akan melawannya.

Chokichi tahu semua tentangnya–perempuan murahan, yang mengikuti kakaknya.

“Ini untukmu.” Ia melepaskan sandalnya. Sandal itu mendarat dengan percikan lumpur di dahi Midori.


•••


Garis besarnya:

Berlatar zaman Meiji, Tumbuh Dewasa mengisahkan sekelompok anak-anak yang tinggal di sekitar Daionji, sebuah tempat kumuh, tidak jauh dari kawasan Yoshiwara–lokalisasi berizin. Mereka terbagi dalam dua kelompok: geng jalan utama yang dipimpin oleh Shota (12), anak remaja pintar yang tinggal bersama neneknya, seorang rentenir; dan geng jalan belakang yang dipimpin oleh Chokichi (15), anak kepala pemadam kebakaran yang menggemari kekerasan.


Selain mereka berdua, ada Midori (14)–gadis populer dan tercantik, memiliki banyak uang jajan sebab kakaknya menjadi primadona di Yoshiwara, dikenal bermurah hati pada teman-temannya–yang akrab dengan Shota; juga Nobu (14), putra pendeta Kuil Ryugeji, yang berkawan dengan Chokichi.


Pada bulan Agustus akan diselenggarakan festival di tempat tersebut. Setiap orang bersemangat menantinya, termasuk anak-anak. Setiap tahunnya, kedua geng bersaing untuk memeriahkan festival, menarik banyak penonton, dan menjadi pemenang. 


Kisah bergulir usai terjadi ‘bentrok’ di antara kedua geng saat festival berjalan, Nobu dan Midori, yang mulanya berteman, kini saling menjauh. Bukan karena perselisihan ketika festival, melainkan keduanya belum menyadari perasaan ketertarikan satu sama lain, yang akhirnya membuat Nobu memilih menjauhkan diri. Terluka dengan perilaku Nobu, Midori mulai membencinya, membuat jarak di antara mereka makin dalam. Di lain pihak, Shota pun menyukai Midori–dugaan saya, sih, Shota belum sadar saja kalau sebenarnya suka–dan berharap gadis itu menjadi saudara perempuannya.


Belum menyadari perasaan apa yang menghinggapi masing-masing, mereka dipaksa untuk menjalani profesi keluarga mereka, meneruskan pekerjaan yang sudah diatur sedari awal oleh orang tua.


•••


Resensinya:

Ah, seandainya saja ia bisa selamanya bermain dengan boneka-boneka dan gambar-gambar potongnya, andai saja ia terus bisa bermain rumah-rumahan, betapa menyenangkannya semua itu. Ia membencinya, ia sangat membencinya. Ia benci harus tumbuh dewasa. Kenapa ia harus tumbuh dewasa? Seandainya saja ia bisa kembali ke tujuh bulan, sepuluh bulan, setahun lalu—rasanya seolah-olah ia sudah menjadi perempuan tua sekarang. (Hal. 74)


Mengesankan membaca cerita novela ini. Gemas-gemas gimanaa gitu. Teringat tatkala peralihan fase pertumbuhan usia, dari anak-anak ke remaja lalu dewasa, begitu tidak mudah, begitu rumit, begitu idealis. Belum lagi saat memasuki tahap menyukai lawan jenis. Aduuh … rasanya ….


Begitulah Tumbuh Dewasa, kisah singkat lagi sederhana perihal transisi kehidupan kanak-kanak beranjak dewasa yang dialami oleh siapa saja. 


Buku tipis ini tidak sekadar menceritakan masalah sosial seperti kemiskinan dan persaingan dua geng remaja yang berakhir baik–yah, bukankah memang demikian kalau anak-anak berantem, tidak perlu makan waktu lama juga akur sendiri; melainkan hal lain yang mengiringi masa peralihan manusia, yakni bagaimana psikologi anak-anak yang bergerak tumbuh dewasa: perlahan menyadari kehilangan kebebasan yang mereka nikmati dan dengan berat hati menjalaninya sebab para orang tua telah mengarahkan mereka untuk mengambil alih, mempertahankan, dan meneruskan posisi atau profesi keluarganya masing-masing. Lihat saja, Shota yang mulai menarik uang layaknya sang nenek sebagai rentenir, Chokichi yang meneruskan jejak ayahnya menjadi pemadam kebakaran, Nobu yang berlatih menjadi pendeta, hingga banyak yang berpendapat jika Midori bakal menggantikan kakaknya.


Di samping itu, novela ini turut mengisahkan persahabatan, hingga benih cinta yang terlahir tanpa diduga membuat banyak hal terasa serbasalah, kacau, tidak tepat, kemudian patah hati di waktu bersamaan.


Melalui Tumbuh Dewasa, pembaca mendapatkan khazanah kehidupan masyarakat era Meiji, termasuk kegembiraan menyambut festival sekalipun berbanding terbalik dengan kehidupan miskin masyarakatnya; keriangan dunia anak-anak; tidak mendiskriminasi seseorang berdasarkan status sosial atau pekerjaan–Midori diterima dengan baik dan bisa bergaul akrab dengan sebayanya dan orang dewasa.


Buku yang habis dalam sekali duduk ini terjemahannya oke, membuat ceritanya bisa dinikmati dengan baik meski kisahnya telah melampaui banyak zaman. Plotnya yang sederhana dan minim konflik ini bisa dinikmati mulai pembaca berusia remaja.


Tertarik baca?


•••


Kutipannya:

Siapa yang bisa melawan rentenir yang kalau tanpa bantuannya orang akan kelaparan? (Hal. 23)


Perapian tengah malam terasa dingin bagi orang yang menunggu sendirian—tapi apakah kita peduli tentang cinta? (Hal. 25)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts