Racun Puan

Maret 08, 2025

Kisah psikologi perempuan dalam jeratan patriarki 

•••

Identitas buku:

Judul: Racun Puan

Penulis: Ni Ayu Suciartini

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun: 2023

Jumlah: 139 halaman

ISBN: 9786231861856

Kategori: Fiksi, novel, Sayembara DKJ 2021, patriarki, perempuan


•••

Blurbnya:

Aruna sudah berusaha keras menjadi anak perempuan yang patut dibanggakan. Namun, tetap saja keluarganya hanya memandang sebelah mata.


Aruna tidak kurang-kurangnya berusaha menjadi istri yang baik. Tetapi, kata suami dan mertuanya, dia keras kepala dan sulit dipahami.


Menjadi ibu pun, dia tidak mampu. Sam, anak gadisnya, menjauh dan tidak pernah nyaman bersamanya.


Aruna hanya ingin menjalankan perannya dengan sempurna. Dia serap semua kata dan ucapan orang-orang di sekelilingnya, yang perlahan menjadi racun menjalar dalam tubuhnya.


Apakah setiap puan juga meminum racun serupa setiap harinya?


•••

Garis besarnya:

Berlatar di Bali, Racun Puan terdiri atas tiga bagian dengan tiga sudut pandang berbeda yang berkaitan dengan tokoh Aruna (tokoh pada bagian ketiga), tentang bagaimana mereka memandang Aruna serta Aruna yang mengisahkan pengalaman hidupnya tatkala menjadi anak, menjadi istri, dan menjadi ibu.


Bagian 1: Komang Kawa Suganda (Kawa)

Kawa (suami) tengah berduka atas meninggalnya sang istri (Aruna). Pada bagian ini, dia lebih banyak mengungkapkan penyesalannya sebab belum memahami Aruna, tidak mengerti perlunya kerja sama dalam pernikahan, kurang menghargai pasangan, sampai mengungkapkan keadaan psikologi Aruna semasa masih hidup dan tinggal bersamanya.


Foto: Koleksi pribadi


Bagian 2: Samudra Bening (Sam)

Sam (putri semata wayang Aruna dan Kawa) menuturkan Aruna—sepanjang hidupnya—sebagai orang asing yang membersamainya tumbuh. Dirinya merasa menjadi korban kekhawatiran berlebihan, keinginan dan harapan tidak kesampaian, dan tuntutan kesempurnaan sang ibu. Di sini, Sam turut menceritakan keadaan psikologi Aruna saat masih hidup.


Foto: Koleksi pribadi

Bagian 3: Aruna

Aruna mengisahkan dirinya sendiri dalam tatanan patriarki dan adat istiadat yang melekat sejak dirinya masih kecil, ketidakberdayaan dan kesulitannya selama menjadi seorang istri dan ibu, mengungkapkan ambisi-ambisinya, mengalami guncangan psikologi akibat endapan kekecewaan kala menjalani kehidupan berumah tangga.


Foto: Koleksi pribadi


•••


Resensinya:

Bisa saya katakan bahwa novel tipis yang satu ini pelik isinya. Ada banyak lapisan permasalahan yang menguar di dalamnya, sebut saja perempuan, kesehatan mental, disfungsional keluarga, ambisi, hubungan orang tua-anak, sampai campur tangan mertua …. Namun, muaranya sekian hal tersebut hanya satu: patriarki.


Sebagai lapisan pertama yang sangat nyata, meskipun membicarakan kerumitan kehidupan perempuan Bali, Racun Puan mewakili keresahan perempuan—secara umum—atas ekspektasi peran gandanya akibat tekanan budaya patriarki.


Dalam buku ini, Uci cukup baik memberikan gambaran kodrat perempuan dalam lingkungan patriarki. Perempuan mengalami pelabelan, ketimpangan, plus peran ganda yang dilakoni. Satu bentuk ketidakadilan gender yang sesungguhnya masih jamak terjadi di masyarakat kita bahkan telah mengakar, mengikat menjadi bagian sistem sosial budaya, dan kebanyakan menganggapnya sebagai tugas (atau takdir?) yang seharusnya.


Tidak cukup mengisahkan bagaimana sosial menuntut peran perempuan dalam berumah tangga, Uci juga menyoroti seperti apa perempuan memandang dirinya, perempuan melukai sesamanya, dan perempuan meninggalkan luka kepada anak-anaknya. Rasa-rasanya, patriarki mampu membuat orang-orang menderita, tidak hanya perempuan, melainkan juga laki-laki yang, kerap kali, tanpa sadar menjalaninya dalam keseharian karena melihat orang tuanya melakukan hal yang sama.


Dalam novel ini, pembaca bakal mendapati narasi penyesalan yang dituturkan Kawa tatkala sang istri masih hidup: memperlakukan layaknya pembantu dengan lebih banyak berkutat pada ranah domestik, terus melayani suami, menempatkan Aruna sebagai pribadi yang harus ditundukkan dan tidak perlu diberi perhatian apalagi kasih sayang, berpihak pada ibu dan saudara-saudaranya ketimbang sang istri, tidak turut serta dalam pengasuhan anak. 


Hal-hal tersebut dikuatkan dalam narasi Aruna yang banyak terluka akibat perlakuan patriarki yang diberikan keluarga Kawa, lelah dengan pengabaian Kawa yang membuatnya memilih untuk lebih banyak diam, masa kecilnya yang tidak membahagiakan sebab menyaksikan ibunya diperlakukan semena-mena oleh sang ayah hanya karena berasal dari kaum Sudra.


Selain isu perempuan, lapisan kedua Racun Puan mendedah sistem sosial patriarki—maupun adat Bali—memberikan dampak psikologi kepada tokoh-tokohnya. Uci cukup baik membangun lagi menjabarkan segala penyebab yang melatarbelakangi dan masa-masa depresi para karakternya. Perasaan putus asa, sedih, marah, penyesalan, ketegangan tergambarkan dengan apik.


Aruna, sejak kanak-kanak, menjalani konsekuensi sosial terlahir perempuan akibat pernikahan beda kasta orang tuanya; setelah menikah mengalami banyak hal menyakitkan dari perlakuan suami dan keluarganya, mertua yang gemar menuduhnya; merasakan ketidakberdayaan-ketidakberhargaan yang membuatnya mengalami keputusasaan sehingga mulai memikirkan kematian, dia juga menjalani kesedihan sendirian yang bertumpuk-tumpuk sewaktu keguguran anak pertama dan keluarga suami tidak menjenguknya atau memberikan kekuatan; rumah yang memintanya untuk bungkam dan tidak banyak menuntut; Aruna menjalani semuanya sendirian.


Mirisnya, sebelum depresi, sebab menjalani kehidupan menyakitkan sejak kecil, Aruna bertekad menjadi perempuan merdeka dan sukses, menginginkan anaknya tidak bernasib sama dengannya. Namun, harapan tersebut justru membuat Aruna menjadi pribadi yang menekankan kesempurnaan hidup hingga menyebabkan anaknya terkekang. Sam setiap saat mendapat tuntutan dari Aruna untuk tidak melakukan kesalahan apa pun, membuatnya tidak bisa menentukan pilihan, sampai-sampai mengalami depresi (dan kesurupan).


Dalam narasi bagian kedua, Sam banyak menuliskan kesedihan dan kemarahannya kepada sang ibu, menganggap Aruna sebagai ibu yang otoriter, orang asing, dan memilih menjauh dan menuruti kemauannya, meski terpaksa. Kawa sendiri tidak terlepas dari rasa penyesalan berlebihan setelah kematian Aruna dan kerap mengalami halusinasi. Bolehlah kalau pembaca anggap bagian Kawa ini cukup menarik karena mengungkapkan kesedihan mendalam laki-laki patriarki yang mengutamakan keegoisan dan keengganan berdiskusi dengan pasangan, hahaha.


Lebih jauh lagi, dampak patriarki pada buku tipis ini turut serta membawa citra keluarga yang disfungsi, minim keharmonisan, ruwet, ketiadaan saling antara orang tua alias ketimpangan pengasuhan, bahkan komunikasi orang tua-anak tidak berjalan dengan baik. Sangat relate dan cukup mendeskripsikan kehidupan keluarga (Indonesia) pada umumnya.


Melalui Racun Puan, Uci mengajak untuk tidak mengerdilkan perempuan; mengabaikan suara, peran, dan pemikiran perempuan; lebih dewasa dalam setiap konflik pernikahan; memedulikan kebahagiaan diri, keluarga, dan pasangan; lebih banyak mendengarkan; menghangatkan komunikasi dan menaruh kepercayaan di dalam keluarga; dan perlunya kebijaksanaan mengikutsertakan campur tangan mertua dalam sebuah kehidupan rumah tangga. Ranah domestik bukanlah melulu urusan perempuan, melainkan ada kontribusi laki-laki di dalamnya. Maka, pembagian peran dalam rumah tangga sangat diperlukan.


Diksi pada novel ini mudah dipahami sehingga isu-isu di dalamnya tersampaikan secara halus. Selain itu, Uci memilih menggunakan banyak narasi minim dialog yang menyebabkan novelnya serasa buku harian. Penggunaan sudut pandang orang pertama, tempo ceritanya yang lambat, dan beberapa pemikiran tokoh dijelaskan berulang-ulang, membuat Racun Puan berpotensi membosankan dan monoton. Sejumlah adegan tidak dijelaskan mendetail, seperti bagaimana Aruna meninggal, apa saja perlakuan/kata-kata mertua dan ipar Aruna yang menjadi racun. Pelemahan-pelemahan perempuan dalam kehidupan budaya Bali kurang ditonjolkan padahal cukup menarik jika digali dan dikisahkan. Apakah kasta dalam Bali masih relevan saat ini? 


Novel ini cocok untuk pembaca dewasa muda, pembaca yang menyukai isu perempuan maupun kesehatan mental. Bahkan kamu bukan seorang perempuan pun, tetap layak untuk membacanya. Selain itu, buku ini mengandung kalimat-kalimat quotable


Tertarik baca atau sudah baca? 


•••

Kutipannya

Pernikahan bisa mengubah segalanya. (Hal. 6)


Bukankah kita sama-sama tahu bahwa tak ada satu manusia pun yang melulu baik seperti halnya tak ada satu manusia pun yang melulu jahat? (Hal. 15)


Percakapan dalam keseharian pernikahan, katanya, tak lebih dari sekadar basa-basi. Apa sifat perempuan memang dominan begitu? Selalu merasa dikecilkan, dikucilkan, hanya karena prasangka mereka yang nyaris tanpa pembuktian. (Hal. 16)


Mulut lelaki kadang serampangan saja. Hatinya yang tak sensitif kadang membuat mereka berpikir bahwa semua baik-baik saja. Semua akan dan pasti baik pada akhirnya. (Hal. 16)


Bisakah yang berdiam sejak semula dan yang datang saling menerima tanpa prasangka? (Hal. 17)


Pernikahan dilakukan oleh dua orang dengan karakter yang sudah terbentuk. Namun, semua akan sia-sia jika antara yang berdiam dan yang datang tidak saling memiliki rasa pengertian. Tiap kali menghadapi masalah pernikahan, setiap orang harus bersedia melihat dari sudut pandang pasangannya. (Hal. 17)


Menunggu tak bisa selamanya. (Hal. 20)


Bahwa perempuan yang kusebut istri bukan perempuan serbabisa, bukan perempuan berhati dewa. Kau bisa memaklumi semuanya, tetapi tak semua orang bisa memaklumi segala hal yang kau lakukan. Duduk saja kau bisa salah, bisa jadi perkara. (Hal. 22)


Rindu benar-benar rumit. (Hal. 27)


Cara kerja perasaan lebih rumit daripada sistem apa pun. (Hal. 29)


Takdir yang seharusnya baik kadang harus diawali air mata sebelum kita bisa menerimanya, sebelum kita pantas menerimanya. (Hal. 32)


Aku semakin percaya bahwa orang paling lucu, paling konyol, mungkin adalah orang paling terluka. (Hal. 38)


Apakah laki-laki adalah musuh perempuan, begitu pula sebaliknya? Apakah perubahan zaman yang menyetarakan semuanya akhirnya akan mencetuskan peran antara laki-laki dan perempuan? Apakah seperti ini dunia yang semakin maju itu? Tidakkah kita bisa berdiskusi? Tidakkah kita saling membutuhkan tanpa harus merasa saling mengungguli? Kapan kita bisa saling memahami bahwa tugas laki-laki dan perempuan adalah berbagi peran? Aku gagal mewujudkan ini dan malah mementingkan egoku sendiri, membenarkan bahwa istri, kaum perempuan, sudah seharusnya melayani suami. Tidak merokok, tidak selingkuh, tidak temperamental, tidak berjudi, ternyata tak cukup membuatku menjadi laki-laki sempurna. (Hal. 39-40)


Pertanyaan, “apa kamu bahagia?” adalah hal yang paling penting ditanyakan setiap harinya untuk orang-orang paling berarti dalam hidup ini. (Hal. 42)


Di zaman yang terus bergerak maju, memelesat mengikuti gaya hidup masa kini, banyak orang yang jiwanya sakit …. Pada masa mendatang, entah kapan, orang-orang akan haus pengakuan, pandai menipu diri sendiri, dan mencari seribu alasan demi mendapat citra baik atau menjadi terkenal dengan cara-cara yang kurang terdidik. Akan ada orang-orang kesepian yang menyangkalnya sebab di sekelilingnya selalu ingar bingar. Akan ada anak yang dikorbankan demi mengikuti zaman. Akan banyak definisi bahagia yang sepertinya dikotak-kotakkan. Akan ada banyak standar untuk bisa dipenuhi sebagai manusia yang berterima. Semua akan gila menuju untuk diakui. Semua orang berlomba-lomba menjadi sama, serupa, hingga yang berbeda kerap dipandang sebelah mata. (Hal. 44-45)


Hanya orang yang paling kita cintai yang mampu menorehkan luka paling dalam. (Hal. 58)


Menjadi salah, menjadi gagal, adalah hal manusiawi. (Hal. 59)


Apakah semisterius ini bagi perempuan untuk bisa memahami satu sama lain? (Hal. 60)


Kasih sayang seharusnya menciptakan kedekatan dengan Ibu. Jarak yang begitu luas ini kadang membuatku asing. Kenapa kami terjebak pada cinta yang begitu buruk seperti ini? (Hal. 68)


Dunia amat kejam bagi perempuan. Perempuan selalu dibenturkan dengan kodrat-kodratnya sejak lahir. Di zaman merdeka dan setara ini, perempuan sesungguhnya tak pernah memulai dari garis start yang sama dengan laki-laki. (Hal 75-76)


Meski tak pernah ada batasnya, kata-kata juga perlu istirahat. Tidak semua hal harus diucapkan. Juga, tidak semua hal bisa selesai hanya dengan kata-kata. (Hal. 92)


Sebab, perempuan adalah pengingat yang baik. Perempuan bisa mengingat waktu, hari, tanggal, bahkan pakaian apa yang dia kenakan ketika mereka mendapat perlakuan kasar, hinaan, atau bahkan racun kata-kata. Ingatan itu tidak akan pernah hilang. Selebihnya, ingatan yang lain hanyalah ornamen. (Hal. 93)


Aku memahami bahwa hidup berisi lebih banyak hal yang tidak kita inginkan. (Hal. 96)


Mereka tidak tahu bahwa di dunia yang seperti sekarang ini, semua orang punya bibit mengalami sakit mental. Hanya saja mereka belum menyadari dan belum mencegahnya sedini mungkin. (Hal. 101)


Memberikan telinga untuk mendengar dapat membantu seseorang mengatasi tekanan yang dihadapi. Keyakinan akan didengarkan mendorongnya untuk bicara tanpa prasangka juga tanpa harapan. Mengalir saja. (Hal. 102)


Aku, kamu, kita  ada di zaman mahalnya harga sebuah proses mendengar. Tidak banyak orang sudi menyisihkan waktunya untuk mendengar orang lain berbicara, apalagi berkeluh kesah. Semua berebut ingin bicara. Mendominasi, ingin paling unggul, ingin paling dipahami sebagai orang yang banyak tahu dan lihai dalam permainan kata-kata. Mereka lupa bahwa pandai bicara berawal dari pandai mendengar. Jika dalam hal menyimak saja orang-orang masih melakukan kesalahan, mereka tidak akan pernah menjadi pembicara yang baik, pembicara yang hebat. (Hal. 102-103)


Orang tua banyak mengeluh ketika mendengar anak-anaknya berceloteh. Mereka menganggap celoteh itu tak lebih penting daripada kabar media sosial yang sayang untuk dilewatkan. Padahal, anak-anak kecil ini ingin orang tuanya mendengar bahwa ada sesuatu yang hendak mereka sampaikan. Orang tua yang gagal mendengar dan anaknya yang tidak pernah menyampaikan isi hatinya akan membuat hubungan anak dan orang tua itu tak pernah mulus. (Hal. 103)


Orang tua berdalih mereka melakukan semua itu untuk anak-anak, demi mempersiapkan masa depan mereka yang tidak murah. Lagi-lagi waktu adalah perihal uang. Apakah anak-anak kelak bisa tumbuh menjadi pendengar yang berempati hanya dengan uang? Bukankah nanti orang tua seperti ini juga akan menuntut waktu yang banyak untuk didengarkan? (Hal. 103)


Bukankah kita bisa membahagiakan orang lain jika diri kita sendiri sudah bahagia? Atau sebaliknya? (Hal. 106)


Siapakah aku setelah memasuki dunia pernikahan? (Hal. 106)


Sejatinya tidak ada yang pernah menyakitimu. Kamu hanya terluka oleh harapanmu sendiri. (Hal. 112)


Memangnya kenapa kalau aku melahirkan anak perempuan? Bukankah ibu, adik, ipar, dan istrimu juga perempuan? Apakah benar memiliki anak perempuan berarti belum menjadi ibu sesungguhnya? (Hal. 114)


Sehebat apa pun seorang perempuan, dia akan menjadi topik gibah yang lantang dan berkelanjutan jika tidak menikah. Ketika aku sudah menyelesaikan kuliah dan bekerja sesuai impianku pun, orang-orang tak pernah melihat ini sebagai pencapaian. Mereka baru akan menganggapku lengkap ketika aku memiliki pasangan, menikah, dan memiliki anak. (Hal. 121)


Memangnya dengan menikah semua masalah lantas selesai? (Hal. 121)


Aku tidak tahu siapa yang kali pertama membuat kesepakatan tentang umur perempuan ini. Kapan perempuan harus sendiri, menikah, memiliki anak seakan menjadi persoalan publik. Diurusi banyak orang, dikomentari banyak pihak tanpa solusi apalagi empati. (Hal. 121)


Terlalu sering mendapat pertanyaan basa-basi tentang umur dan segala urusan pribadi yang tidak masuk akal kadang membuat perempuan yang menjadi korban justru beralih menjadi pelaku. Terus saja begitu. Perempuan menyerang perempuan. Padahal, perempuan bisa sangat kuat jika saling menguatkan. Sebaliknya, sesama perempuan juga bisa saling melemahkan selemah-lemahnya. (Hal. 121-122)


Pernikahan hanya untuk mereka yang benar-benar siap karena pernikahan melibatkan banyak hal yang rumit dan kadang tak masuk akal. (Hal. 122)


Bukankah manusia seharusnya bisa menentukan pilihan hidup dan sikapnya? (Hal. 123)


Apakah karena kami miskin, Ibu dan Ayah tidak memperlakukan anak-anaknya secara istimewa? Apakah karena kemiskinan, Ibu dan Ayah boleh berbuat apa pun pada kami, toh kami sudah terbiasa dengan terik dan hujan badai? Apakah karena miskin, kami tidak boleh mendapatkan pendidikan tinggi? Apa karena kemiskinan, orang-orang boleh mencaci maki kehadiran kami setiap saat? (Hal. 124)


Melihat kehidupan pernikahan Ayah dan Ibu selalu membuatku berpikir. Apakah menikah membuat salah satu manusia bergantung pada manusia lainnya? Semacam benalu yang merongrong inangnya? Kenyataan itulah yang membuatku benar-benar mengulur waktu untuk menikah. (Hal. 127-128).


Sekarang ini, perkara hormat dan menghormati bukan semata berkaitan dengan kasta, melainkan juga bagaimana seseorang memperlakukan dan diperlakukan oleh orang lain. Hidup sudah jauh melesat, hidup sudah jauh berubah. (Hal. 130)


Perempuan tak harus bersaing satu sama lain. Mereka hanya perlu saling menguatkan dan mendukung. (Hal. 132)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts