Detail Kecil
Maret 05, 2025
Ketika kejahatan perang memudar menjadi pernik-pernik belaka.
•••
Identitas buku:
Judul: Detail Kecil
Penulis: Adania Shibli
Penerjemah: Zulfah Nur Alimah
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun: 2024
Jumlah: 118 halaman
ISBN: 9786231864314
Kategori: Fiksi, novel, kekerasan, perang, Palestina-Israel
•••
Blurbnya:
“Mungkin memang tidak ada hal yang lebih penting dari detail kecil seperti ini. Detail kecil yang bisa menjadi jalan untuk mengetahui kebenaran utuh tentang kisah si gadis. Detail kecil yang sayangnya justru tidak diungkap dalam artikel di koran pagi itu.”
Di Palestina, yang luar biasa—rudal, gedung hancur, dan mayat—sudah jadi biasa. Dari situlah, novel ini mengantarkan pembaca melihat Palestina lewat “detail kecil” yang kerap disepelekan. Lewat beda debit air mandi antara di Israel dan Palestina, lewat berita pemerkosaan gadis Badui tanpa nama setahun setelah Nakba 1948. Melalui tuturan dua naratornya—tentara Israel dan pegawai Palestina—Shibli menyuguhkan jeroan hati para tokohnya sekaligus mengekspos bagaimana penjajah bekerja.
Sebuah inisiatif yang dianugerahi penjegalan oleh Frankfurt Book Fair dan penghargaan LiBeraturpreis 2023.
•••
Garis besarnya:
Terdiri atas dua bagian yang memberikan gambaran sekilas masa lalu dan masa kini Palestina.
Terinspirasi oleh kisah nyata seorang gadis Badui Palestina yang dibunuh pada tahun 1949 di gurun Negev, bagian pertama menggunakan sudut pandang orang ketiga (dia), seorang komandan militer Israel tanpa nama.
Pada bulan Agustus 1949, satu tahun setelah Nakba, tentara Israel tengah bertugas di sekitar perbatasan Mesir untuk “mengamankan dan membersihkan” wilayah operasi dari “orang-orang Arab yang tersisa” atau “penyusup”. Saat berpatroli di gurun Negev, mereka mendapati sekelompok orang Arab tanpa bersenjata dan membunuh setiap anggota beserta unta-untanya dan hanya menyisakan seekor anjing dan seorang gadis Badui. Mereka membawanya kembali ke pos dan sang komandan, awalnya, memerintahkan para tentara untuk membiarkan sang gadis tidak tersentuh dan berencana menggunakannya sebagai juru masak. Namun, pada akhirnya, mereka meruda paksa beramai-ramai (termasuk sang komandan) lantas mengeksekusi dan menguburnya di gurun.
Bagian kedua, menghadirkan sudut pandang orang pertama (aku) yang tidak diketahui identitasnya selain seorang perempuan Palestina yang gugup dan pencemas dan tinggal di Ramallah. Dia membaca surat kabar perihal peristiwa pada bagian pertama dan berusaha mencari tahu lebih banyak tentang insiden dua puluh lima tahun yang lalu itu. Alasannya karena kejadian tersebut bertepatan dengan tanggal kelahirannya. Hal kecil itulah yang mendorongnya memulai petualangan berbahaya demi menyingkap kebenaran.
•••
Resensinya:
Detail Kecil, novela yang secara keseluruhan tidak sekadar membeberkan kisah perihal perampasan dan penghapusan sejarah maupun melantangkan suara korban (perempuan) yang selama ini teredam, melainkan juga menggugah perhatian pembacanya pada ‘detail-detail kecil’ di sekitar yang tampaknya tidak penting dan kerap terabaikan (dalam novel ini sewaktu masa perang).
Melalui seratusan halamannya, Shibli apik menyusun cerita ke dalam dua bagian yang bertolak belakang, mulai dari sudut pandang (dia dan aku), tokoh (komandan militer Israel dan masyarakat sipil Palestina), latar cerita (masa lalu dan masa kini), psikologi protagonis, situasi, panjang paragraf, sampai ke jenis dan ukuran font yang digunakan.
Hal yang bertentangan tersebut terhubung melalui rangkaian kata yang berulang, kejadian yang sama, menekankan pada objek tertentu terus-terusan, menarasikan rutinitas keseharian yang tampaknya biasa-biasa saja, tetapi sesungguhnya menyentil pengabaian atas perkara-perkara akibat penjajahan di Palestina.
Tengok saja komandan Israel yang menjalankan patrolinya setiap hari dengan kegiatan yang monoton: bangun tidur, membersihkan diri menyeka leher-ketiak-dst, mengoleskan salep, memakai seragam, pergi mengawasi sekeliling, pulang ke kamp, mencopot seragam, membersihkan diri menyeka leher-ketiak-dst, makan, tidur. Padahal di tengah-tengah tugas militer, mereka melakukan pembunuhan dan pemerkosaan, tetapi deskripsinya yang mengalir pada paruh pertama mengaburkan kejahatan yang menjadi pondasi cerita.
Lantas pada bagian kedua, setiap hari para pekerja Palestina terus was-was karena gedung yang tiba-tiba meledak di sekitar perkantoran mereka. Namun, mereka lebih mementingkan debu-debu dan kaca bangunan ketimbang korban tewas akibat serangan tersebut, seolah-olah kematian merupakan hal biasa.
Belum cukup menghadirkan kematian dan kejahatan menjadi sesuatu yang wajar, pembaca juga bakal mendapati bahwa kekerasan terhadap perempuan bahkan membunuhnya dalam masa konflik—memang menjadi tema yang berulang, sih—merupakan hal yang sama wajarnya. Lebih jauh, Shibli mengisahkan penguasaan dan kontrol militer di Palestina, seperti pos-pos pemeriksaan, pemberian kartu identitas untuk pembatasan pergerakan, pengaturan zona mana yang boleh dan tidak boleh didatangi, perbedaan debit air yang digunakan di Palestina dan Israel, hingga perubahan lanskap geografi akibat perluasan invasi selama lebih dari seperempat abad lamanya. Semua hal tersebut menampilkan pendudukan total yang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Palestina.
Buku ini mudah dibaca bahkan bisa ditamatkan dalam sekali duduk meski gaya bercerita Shibli cenderung datar dan dingin. Alih-alih menawarkan aksi penyemangat bela Palestina, novel ini justru menghadirkan kegelisahan demi kegelisahan karena detailnya yang intens, belum lagi akhirnya yang memilukan. Terjemahan buku ini apik, mengalir mulus layaknya membaca novel Indonesia pada umumnya.
Meski demikian, yang perlu menjadi catatan yakni banyaknya detail yang bertebaran dan kurangnya dialog besar kemungkinan bagi sebagian pembaca akan terasa melelahkan dan membosankan.
Buku ini bisa dinikmati oleh siapa pun yang memiliki ketertarikan dengan Palestina maupun yang ingin membaca kisah-kisah perihal pendudukan dan penjajahan.
Tertarik baca atau sudah baca? Ada rekomendasi buku lain perihal Palestina?
•••
Kutipannya
Manusia, bukan tank, yang ‘kan menang. (Hal. 34)
Pemerkosaan tidak hanya terjadi dalam perang, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. (Hal. 62)
Terkadang peristiwa-peristiwa di masa lalu tidak bisa diabaikan begitu saja hanya karena peristiwa-peristiwa di masa kini tidak kalah mengerikan. (Hal 63)
Begitulah perang; dia bisa mencerai-beraikan orang, bahkan yang masih satu keluarga sekalipun. (Hal. 95)




0 Comments