Buku Panduan Matematika Terapan

Januari 04, 2025


Buku ini meraih juara pertama Winner of 2017 Unnes International Novel Writing Contest. Perihal matematika dan kehidupan.


•••


Identitas buku:

Judul: Buku Panduan Matematika Terapan (Sebuah Novel)

Penulis: Triskaidekaman

Penerbit: GPU

Tahun: cetakan ketiga, 2019

Jumlah: 359 halaman

ISBN: 9786020383026


•••


Blurbnya:

Pertanyaan P-NP (sesuatu yang bisa diperhitungkan-sesuatu yang tidak bisa diperhitungkan) muncul setelah Prima didatangi oleh hantu yang mengajarinya cara berhitung dan berbagai teori matematika di dalam mimpi. Teka-teki itu semakin mengusiknya ketika ia bertemu Tarsa, si cerdas yang juga memiliki pertanyaan sama tentang P-NP. Namun, meski telah mencurahkan seluruh hidupnya, Prima tak juga mampu menemukan jawabannya. Tentu. Karena, siapa pula manusia di dunia ini yang bisa menjawab kapan ia akan dimatikan?


•••


Garis besarnya:

Pada suatu waktu, Mantisa—anak yang gemar bertanya apa saja—berjumpa dengan Prima—seorang tunarungu yang senantiasa mencari jawaban atas banyak hal—di sebuah perpustakaan. Pertemuan itu membawa keduanya menekuri buku yang menjawab pertanyaan masing-masing hingga tanpa mereka sadari bahwa keduanya sama-sama terhubung dengan Tarsa—si anak kidal; hantu-hantu misterius dalam mimpi, sampai pertanyaan P-NP.


•••


Resensinya:

Terus terang, saya sempat mumet pada lembar-lembar awal. Saya belum menemukan maksud penulis ini mau apa dan bagaimana. Njlimet, Ges. Tidak hanya nama para tokoh yang mengandung unsur matematika, subbab berupa rumus matematika pun tidak seluruhnya berhasil saya sinkronkan dengan isi cerita. Hanya beberapa. Itu pun setelah saya merenung untuk mengaitkannya, meski ada yang langsung ‘A-ha, maksudnya ini.’. Bahkan, saya baru ngeh kalau ini novel roman begitu sampai tengah-tengah cerita. Saya baru bisa menikmati buku ini—dengan mengabaikan hubungan antara subbab rumus matematika dengan ceritanya—pada tengah-tengah novel hingga akhir.


Matematika menjadi pondasi cerita sekaligus penggerak tokoh-tokohnya. Menurut saya, buku ini menggambarkan manusia sejatinya memang gemar bertanya sampai ke hal-hal yang tidak terjangkau—kematian, misalnya. Dalam buku ini mengandung filsafat kehidupan yang tersurat di dalamnya: kelahiran, pertemuan, rasa kehilangan, sampai renungan waktu kehidupan yang dimiliki manusia. Kisah Prima-Mantisa-Tarsa mengajak kita memahami kegetiran mereka sebab stigma masyarakat yang melekat: Prima menjadi korban perundungan karena tunarungu, Mantisa yang dikucilkan karena kebanyakan tanya, dan Tarsa si kidal dianggap aneh dari mereka yang terbiasa memakai tangan kanan. Selain itu, mereka bertiga mampu menalarkan rumitnya matematika menjadi sesuatu yang sederhana.


Buku ini memiliki dua tokoh utama dengan dua sudut pandang yang berbeda (Prima: pov 2, Mantisa: pov 3) yang dikisahkan secara bergantian menggunakan alur maju mundur. Lini masa usia para tokoh pun tidak mendetail. Suatu waktu mereka masih bayi, lembar berikutnya SD, kemudian ujug-ujug mereka sudah sekian tahun umurnya. Narasinya agak berputar-putar, tidak langsung to the point, diksinya menggunakan metafora, banyak padanan kata, dan berima, jadi siapkan KBBI kalau bingung, ya, Ges.


Secara keseluruhan, novel ini menarik dan unik. Butuh konsentrasi tinggi untuk menikmatinya hingga tuntas dan bagi saya ada kesan tersendiri seusai membacanya. Jalinan ceritanya tidak kaku layaknya persamaan matematika. Penulis juga menyisipkan kedekatan emosional ibu-anak, hubungan asmara dua orang yang menurut saya lain dengan yang lain, hubungan antara Teori Relativitas Einstein dengan Hukum Dinamika Newton, dan multisemesta sebagai pamungkasnya (maksudnya, seperti rumus matematika ketika variabel x diganti, maka hasilnya akan berbeda pula.)


Yang doyan matematika atau tertantang dengan bacaan yang lain dari biasanya, ini bagus. Tidak cocok bagi mereka yang menggemari bacaan ringan.


•••


Kutipannya:

Mendengar tidak selalu harus dengan telingamu. (Prima, halaman 3)


Jika benar tanggal kematian sudah dirajahkan pada jejalin sulur-sulur jantung dan lekuk-lekuk otak besar, berarti ulang tahun cuma semacam kamuflase untuk merayakan mendekatnya seseorang ke kematian. (Mantisa, halaman 51)


Tidak semua pertanyaan punya jawaban. (Tarsa, halaman 215)


Manusia cuma penumpang. Cuma pemeran. Cuma bidak yang bergerak-gerak sesuai perannya. (Mantisa, halaman 284)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts