Parade Hantu Siang Bolong: Reportase yang Lokal Banget
Januari 24, 2025Identitas buku:
Judul: Parade Hantu Siang Bolong
Penulis: Titah A.W.
Penerbit: Warning Books
Tahun: 2020
Jumlah: 247 halaman
ISBN: 9786239330484
Kategori: nonfiksi, reportase jurnalistik
•••
Blurbnya:
Berisi 16 reportase jurnalistik-sastrawi, buku ini membahas peristiwa-peristiwa di seputar isu mitos dan lokalitas. Dua tema yang seolah berjarak, namun kenyataannya begitu lekat di keseharian. Dari puncak gunung Langgeran yang sunyi, hingga riuhnya pentas kesurupan massal di Banyumas. Dari perburuan pusaka leluhur, hingga konferensi alien tahunan. Dari tinder ala jawa, hingga teror klithih yang merajai jalanan malam Yogyakarta. Bagai parade, satu per satu tampil membentuk realitas yang kompleks dan kerap di luar nalar.
•••
Resensinya:
Saya suka buku ini karena kover dan judulnya. Terkesan Rusia sekali atau Eropa banget tampilan depannya. Sementara judulnya membuat saya membayangkan isinya berupa kisah-kisah perhantuan di Indonesia. Rupanya … saya salah kira.
Parade Hantu Siang Bolong, buku yang memuat mitos serta lokalitas Indonesia (khususnya Jawa) melalui perpaduan jurnalisme dan sastra. Terdiri atas 16 tulisan yang disampaikan lewat beragam sudut pandang sehingga pembaca akan mendapati pengalaman mendalam atas kisah-kisahnya.
Daftar isinya. (Foto: koleksi pribadi)
Melalui buku ini, Titah bakal mengantarkan pembacanya menelusuri semesta magis dan kejadian dunia nyata, menyajikan unsur mistis mampu berjalan berdampingan dengan kehidupan keseharian. Di samping itu, Titah juga membawa kita kelayapan menyambangi keriuhan pesta kesurupan, kemeriahan iring-iringan kendaraan, sayembara maki-makian, dan isu-isu sosial lainnya.
Dua hal yang bertentangan tersebut terasa memikat sebab Titah apik menuturkan ke-16 reportasenya dengan caranya masing-masing, tanpa menghakimi atau mengoreksi, tidak dibenturkan apalagi diperdebatkan, terasa alami dan sengaja dibiarkan, tanpa perlu bersusah payah membeberkan penjelasan yang masuk akal, cenderung apa adanya, dan menunjukkan sisi lain kehidupan yang jarang diketahui, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kita, yang akan memantik kepekaan.
Semua narasumber dihadirkan sebagai pihak yang tengah menceritakan sendiri pengalaman mereka, meninggalkan kesan personal bagi pembaca. Berikut isi kumpulan reportasenya:
"Pengalamanku Ikut Pesta Antar-Dimensi Bareng Roh Halus di Ebeg Banyumas"
Para pemuda di Banyumas kerap menyediakan tubuhnya sewaktu pentas Ebeg—sebuah kesenian asli Banyumas yang digandrungi, melibatkan penari dan penonton dalam satu ruang pesta kesurupan yang meriah. Mereka rela kerasukan dan beramai-ramai menari sebagai bentuk eksistensi sekaligus eskapisme; menghalau kejenuhan dan kebosanan atas rutinitas; dan merayakan kebebasan serta sarana mendem demi melestarikan budaya.
"Mengunjungi Kampung Pitu, Desa yang Hanya Bisa Dihuni Tujuh Keluarga di Puncak Langgeran"
Mengenal lebih dekat Kampung Pitu di Yogyakarta yang memiliki aturan adat unik: hanya tujuh keluarga yang boleh tinggal di sana. Tidak kurang, tidak lebih. Konon juga, tidak semua orang ‘kuat’ atau sanggup tinggal di sana. Mereka berpencar menempati lahan berkontur miring seluas lebih kurang tujuh hektar. Semua tetangga sebenarnya masih sanak-saudara, keturunan sesepuh pendiri Kampung Pitu yang ceritanya penuh selubung mistis.
"Konferensi SETI Memberi Alasan Kenapa Meneliti Alien dan UFO itu Penting untuk Kita"
Rutin diselenggarakan sejak 2016, Konferensi SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence), yang dihadiri para penggemar luar angkasa mulai dari ilmuwan, peneliti, praktisi, dan seniman, bukanlah sekadar forum pemuja ataupun pemburu alien, lebih dari itu menawarkan banyak pemaparan seputar sains luar angkasa, termasuk dari sisi religius. Dalam forum ini mereka menguraikan cerita-cerita yang, barangkali, membuat dahi mengernyit, tetapi ditanggapi lumrah saja.
"Bagaimana Mereka Memakamkan Bapak yang Penghayat"
Titah membagi kisahnya sewaktu sang bapak yang menganut aliran kepercayaan (Kapribaden) meninggal dunia. Tulisan ini menghadirkan perspektif seorang anak yang barusan mengetahui kepercayaan ayahnya, serta bagaimana keluarga memilih berkompromi dengan lingkungan yang didominasi oleh agama Islam, salah satunya dalam hal prosesi pemakaman.
"Prosedur atau Petunjuk Dukun, Mengikuti Usaha Tim SAR Mencari Orang Hilang di Gunung"
Pernah penasaran bagaimana cara kerja Tim SAR saat mencari seseorang yang hilang di gunung? Lewat reportase ini, bertepatan dengan pencarian pendaki yang sudah dua puluh hari menghilang, selain biasa menggunakan ESAR (Explore Search And Rescue) untuk menghadapi medan (hutan), upaya Tim SAR menemukan survivor juga ditempuh melalui jalur 'Sarkun' (Saran Dukun) yang didasari oleh penglihatan atau petunjuk-petunjuk mistis dari mereka yang memiliki kepekaan spiritual.
"Membaca Pesan Semesta Lewat Tarot"
Seorang pembaca tarot curhat bagaimana praktik membaca tarot kerap diasosiasikan sebagai ritual mistik yang melibatkan kekuatan supranatural yang abstrak. Banyak orang mengharapkan ramalan masa depan atau solusi dari permasalahan, padahal kartu tarot sesungguhnya merupakan rangkuman dan manifesto dari teori psikologi yang disebutnya sebagai ilmu pseudoscience-psychology. Di samping itu, dia juga menjelaskan teknik menginterpretasikan serta bagaimana perjalanan seorang menjadi grand master tarot.
"Turangga Seta Mengungkap Peradaban Kuno Indonesia Lewat Petunjuk Leluhur"
Sepak terjang Komunitas Turangga Seta, sebuah kelompok yang memiliki rasa kecintaan terhadap nusantara, dalam membuktikan fakta sejarah Tanah Air kerap menggunakan metode arkeologi mistis, yakni mengandalkan bantuan mistis melalui bisikan gaib para leluhur.
"Mari Berlomba Misuh Demi Budaya Jawa, Jancuk!"
Sebagai komunitas daring yang mengampanyekan gerakan literasi budaya Jawa ke anak muda, Jawasastra membuat Sayembara Misuh sebagai lomba bagi anak-anak muda mengekspresikan emosi lewat bahasa ibunya. Menurut mereka, misuh masih dianggap tabu, padahal umpatan merupakan identitas budaya adiluhung yang tidak terpisahkan dari identitas budaya Jawa.
Dan … masih ada delapan lainnya yang tidak kalah seru lagi mengasyikkan pembahasannya. Saya tidak menguraikan semuanya sebab nanti tidak bikin penasaran, wkwkwkwk. Silakan cari saja bukunya, ya.
Yang pasti pembaca bakal mengenal ragam kebudayaan yang melekat erat di tanah Jawa, seperti di satu desa di Majalengka yang mengumpulkan batu lalu mengawinkannya untuk menjaga alam, kritik seorang warga atas sekolah yang kerap berelasi dengan uang, tetapi tidak menghadirkan kemanusiaan, ajang pencarian jodoh secara langsung “Golek Garwo”, menghidupkan kenangan sejarah melalui gelaran 900mdpl di Kaliurang Yogyakarta, hingga permintaan menyelesaikan persoalan sosial yang berkembang di masyarakat melalui grup Info Cegatan Jogja, dan masih ada lainnya.
Reportase mana yang saya suka? Ada tiga, yakni: Mengunjungi Kampung Pitu, Desa yang Hanya Bisa Dihuni Tujuh Keluarga di Puncak Langgeran; Mari Berlomba Misuh Demi Budaya Jawa, Jancuk!; dan Info Cegatan Jogja, Utopia Media Komunitas itu Nyata.
Semua budaya, mistis, dan kebiasaan tersebut ditulis cukup detail dengan pendekatan ‘lokal’. Melalui buku ini, pembaca akan menyelami bagaimana kehidupan sosial masyarakat, mempelajari akar kepercayaan dan adat istiadat yang diyakini masyarakat, cara mempertahankan keharmonisan sebuah tradisi, hingga menyadarkan pembaca bahwa dalam kehidupan yang riuh ada cerita-cerita sederhana yang memuat pembelajaran hebat, membuat kita dekat dengan lokalitas yang ada di sekitar. Setidaknya mampu memantik kita berintrospeksi.
Selain hasil liputan, buku ini turut menampilkan sejumlah foto pendukung yang menambah keseruan membaca, meskipun fotonya tercetak hitam putih. Saya menyukai gambar-gambarnya, hanya kurang sepakat jika foto tersebut diletakkan di tengah-tengah ulasan. Bolehlah jika setelah judul atau akhir reportase, bukan dijejalkan pada tengah-tengah tulisan itu cukup mengganggu dan keterangannya pun tersemat pada halaman akhir buku, menyulitkan harus bolak-balik halaman.
Buku ini cocok dibaca oleh mahasiswa komunikasi, yang tertarik dengan jurnalistik, serta siapa saja yang memiliki ketertarikan dengan tulisan reportase perihal budaya Indonesia. Jangan beranggapan jika buku ini penuh dengan kisah-kisah mistis sebagaimana judulnya, ya, karena sampai tengah-tengah buku akan menikung pada fenomena sosial. Maka, turunkan ekspektasi bakal membaca sebuah buku penuh horor.
Sudah baca? Minat baca?
•••
Kutipannya:
Sebab semua cerita, dengan bermacam gejolak dalam semestinya, bisa jadi menarik asal dituliskan secara piawai. Atau seperti kata Gabo, “cerita terbaik bukanlah yang pertama kali dimuat, tapi yang paling bagus dituturkan.” (hal. x)
Dalam hidup yang nyatanya tak pernah terlalu saintifik ini, saya punya teori bahwa waktu adalah lintasan ulang alik yang membawa kita berputar di poros yang sebenarnya itu-itu saja. Tersebab itu, apa yang ada hari ini pasti punya suatu pijakan di masa lampau. (Hal. xiii)
Seberapa pintar pun kamu, jika soal jagat raya ini kita tetap makhluk yang tidak tahu apa-apa. Di kemungkinan yang tidak kita tahu itu, bisa jadi ada alien, bisa jadi tidak, tergantung caramu melihat. (Konferensi SETI Memberi Alasan Kenapa Meneliti Alien dan UFO itu Penting untuk Kita, hal. 38)
Di Indonesia, lahir, mati, menikah, dan acara-acara penting dalam hidup adalah acara komunal. Ruang privat di masyarakat ini selalu bersinggungan dengan kepentingan kelompok. Sifat komunal itu mau tak mau mengendap, tak peduli apa pun ideologi, prinsip, kepercayaan, atau kepentingan pribadi apa pun. (Bagaimana Mereka Memakamkan Bapak yang Penghayat, hal. 52)
Orang Indonesia menyimpan memori soal budaya kolektif animisme-dinamisme yang masih tertanam kuat. Mungkin itulah mengapa orang Indonesia selalu punya relasi yang dekat dengan hal-hal mistis, tak peduli seberapa mencoba modernnya ia. (Membaca Pesan Semesta Lewat Tarot, hal. 74)
Marilah kita akui bersama, ungkapan seperti jancuk, asu, anjing, bajingan, damn, fuck, shit, dan segala macam jenisnya itu bahkan sudah seperti pengganti tanda baca titik dan koma di percakapan kita sehari-hari. Tidak peduli Anda tinggal di belahan mana pun di dunia ini, bericara dalam bahasa apa pun, akan selalu ada istilah yang digunakan jadi umpatan. Bahkan sejak dulu, umpatan juga bisa diekspresikan sekadar lewat gestur, dengan mengacungkan jari tengah misalnya. (Mari Berlomba Misuh Demi Budaya Jawa, Jancuki!, hal. 98)
Mau diakui atau tidak, misuh adalah bagian dari budaya Jawa. (Mari Berlomba Misuh Demi Budaya Jawa, Jancuki!, hal. 100)
Misuh menjadi tabu karena sering disalahgunakan . “Asalkan eman papan alias sesuai tempat dan keadaan enggak apa-apa, misal dengan teman seumuran.” (Mari Berlomba Misuh Demi Budaya Jawa, Jancuki!, hal. 101)
Misuh itu proses pendewasaan. Soalnya kalau kamu dengar orang misuh lalu sakit hati, berarti dolanmu kurang adoh — mulihmu kurang isuk (mainmu kurang jauh — pulangmu kurang pagi, kurang pengalaman). (Mari Berlomba Misuh Demi Budaya Jawa, Jancuki!, hal. 105)
Masih mending kalau misuhnya pakai Bahasa Jawa daripada bilang fuck, shit, atau apa. Misuh aja kok impor. (Mari Berlomba Misuh Demi Budaya Jawa, Jancuki!, hal. 101)
Kenapa konvoi di jalan ya karena jalan adalah tempat kontestasi simbolik, jalan itu media yang menarik semua orang untuk mengaktualisasi dirinya, mencari perhatian. (Di Balik Adu Bising Knalpot Blombongan Musim Pemilu di Yogyakarta, hal. 117)
Bukankah saat ini kesepian adalah masalah yang diam-diam disimpan banyak orang hanya karena tidak mau terlihat menyedihkan. (Menyambangi Golek Garwa, Acara Tinder Dunia Nyata di Yogyakarta, hal. 150)
Citra batu jangan hanya dilihat sebagai benda keras saja, tapi juga pada bagaimana material ini bersabar dan mengalami banyak hal dulu sebelum memadat dan kokoh jadi batu. (Kondangan Kawin Batu Demi Jaga Kelestarian Alam, hal. 157)
Hati-hati terhadap hati yang membatu. (Kondangan Kawin Batu Demi Jaga Kelestarian Alam, hal. 157)
Batu yang diam aja pas kita panjat tebing itu membuat kita sedang melawan diri sendiri, fokus. (Kondangan Kawin Batu Demi Jaga Kelestarian Alam, hal. 159)
Hanya lokalitas satu satunya yang mampu jadi identitas dan benteng pertahanan budaya ketika perubahan dan pembangunan datang. (Kondangan Kawin Batu Demi Jaga Kelestarian Alam, hal. 162)
Sistem pendidikan formal masa kini selalu menghasilkan manusia yang berelasi dengan uang namun minim kemanusiaan. (Sekolah Pagesangan Ajak Anak Gali Budaya Tani Subsisten di Lahan Gersang Gunungkidul, hal. 187)
Adanya internet dan segala gembar-gembor globalisasi sekarang ini menciptakan semacam ilusi bahwa kita bisa menggapai hal yang nun jauh di sana. Hal ini lalu kerap membuat kita lupa untuk berkontribusi ke hal-hal yang dekat, berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Padahal kalau kita ada apa-apa di jalan, yang bisa bantu kan ya orang yang di jalan juga. (Info Cegatan Jogja, Utopia Media Komunitas itu Nyata, hal. 208)
Saling membantu kan sebetulnya kewajiban yang manusiawi, tidak perlu peduli itu teman, saudara, atau bukan. Alasan membantu itu, dia manusia, saya manusia, cukup. (Info Cegatan Jogja, Utopia Media Komunitas itu Nyata, hal. 210)




0 Comments