Segala yang Diisap Langit: Runtuhnya Kaum Bangsawan Minangkabau

Januari 04, 2025


Intrik keluarga Rangkayo Minangkabau masa Tuanku Imam Bonjol

•••

Identitas buku:

Judul: Segala yang Diisap Langit

Penulis: Pinto Anugrah

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun: 2021

Jumlah: 138 halaman

ISBN: 9786022918424


•••

Blurbnya:

Rabiah ingin mematahkan mitos yang beredar selama ini, bahwa garis keturunan keluarga bangsawan Minangkabau akan putus pada generasi ketujuh. Apa pun siap dia lakukan demi mendapatkan anak perempuan pembawa nama keluarga, termasuk menjadi istri kelima seorang lelaki yang terkenal mampu memberikan anak perempuan.


Tidak disangka, penghalang utama Rabiah justru kakak kesayangannya, Magek. Setelah bergabung dengan Kaum Padri dari utara, Magek justru mengacungkan pedangnya ke arah Rubiah, siap menghancurkan semua yang dimilikinya: harta, adat, keluarga, dan masa lalu.


Segala yang Diisap Langit, sebuah novel tentang pergulatan manusia di tengah ombak perubahan zaman. Tak ada yang tahu ujung jalan yang kita pilih. Tak ada yang mampu menerka pengorbanan apa yang harus kita buat. Semua demi bertahan hidup.


•••


Garis besarnya:

Sebagai penganut matrilineal, menjaga adat adalah segalanya bagi Bungo Rabiah. Dia dihantui ramalan kepunahan Rangkayo pada generasi ketujuh, dirinya, sampai dia berhasil mendapatkan seorang anak perempuan. Obsesi memiliki keturunan itulah membuatnya mau menjadi istri kelima Tuanku Tan Amo. 


Perubahan zaman mulai menerpa Minang. Hal yang mengkhawatirkan bagi mereka selain memudarnya kejayaan Rangkayo berupa harta kekayaan keluarga yang kian menipis, bukit-bukit emas yang tinggal segundukan tanah, yakni golongan kaum berbaju putih, Kaum Padri, yang perlahan makin besar dan kuat.


Di tempat lain, Magek Takangkang, kakak Rabiah yang masih saudara seibu, setelah bergabung dengan Kaum Padri merasa muak dengan tradisi Minang yang jauh dari nilai-nilai Islam. Terlalu banyak maksiat yang berputar di tanah kelahirannya: inses, perjudian, sabung ayam, candu, minum tuak, termasuk adat matriarki.


Merasa terpanggil untuk menghancurkan tradisi sesat, Magek Takangkang menumpas kemaksiatan dengan jalan kekerasan. Dia berhadapan dengan sang adik di Rumah Gadang, tempat mereka tumbuh besar. Ketika keduanya dalam satu tempat yang sama terjadilah kehancuran kemanusiaan.


•••


Resensinya:

Novel ini merupakan sepenggal revolusi sosial abad ke-19 berbalut pergolakan ideologi yang terjadi di ranah Minang sewaktu Perang Padri. Pembaca akan menyelami kompleksnya nilai adat Minangkabau yang tergerus zaman hingga perlahan memudar, serta munculnya gerakan Padri yang merangsek kemapanan kaum adat dan menentang penjajahan Belanda.


Buku ini menyajikan konflik yang berdarah dan brutal dalam fragmen satu keluarga, masih saudara pula. Tidak ada nilai-nilai keluhuran atas adat istiadat maupun budaya yang digaungkan, alih-alih ironi pertentangan ingin memurnikan ajaran Islam ke masyarakat penganut tradisi matrilineal yang mengalami kemerosotan moral.


Penulis piawai meracik kisah dengan menyodorkan konflik sejak halaman pertama dan terus konsisten menjaga ritme cerita hingga muncul ketegangan demi ketegangan. Endingnya saja di luar dugaan, sungguh! Akan tetapi, seusai membaca, saya merasa seperti belum tuntas, masih menggantung. Buku tersebut, menurut saya, terlalu tipis untuk mengurai konflik yang rumit dan pelik. Ada karakter dan informasi yang belum sepenuhnya tergali. 


Kesulitan saya dalam membaca novel ini hanya terletak nama orang Minang. Sempat tertukar dan harus mundur kembali ke belakang untuk meyakinkan bahwa yang dimaksud adalah si ini, bukan si itu. Maklum, belum familiar dengan nama-nama orang Minang zaman dulu.


Terakhir, novel ini melukiskan fenomena pergolakan Minang kala itu. Bagaimana batas hitam dan putih begitu jelas dan berbeda. Bagaimana Magek menjadi representasi Islam yang menggunakan pedang untuk menuntut orang bertobat. Bagaimana Rabiah mewakili sosok Rangkayo yang menjaga adat, tetapi tidak berdaya terhadap zaman.


Membaca Segala yang Diisap Langit itu membaca etnografi Minangkabau, mengesankan sekaligus memilukan. Mau coba baca?


•••


Kutipannya:

Bawa keluarga kalian! Bagi lahan yang ada dengan baik dan adil dengan sanak sadara kalian! Garap tanah lembah yang subur itu dengan baik dan benar! Tegakkan ajaran agama! Bangun tata cara baru dan kebiasaan baru yang tidak menyimpang! (Kasim Raja Malik, halaman 130)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts