Monster: Apakah Semua Nyawa Benar-Benar Berharga Sama?
Januari 10, 2025Ketika manusia tersiksa oleh rasa bersalah akibat keputusan yang menurutnya tepat pada awalnya. Sebuah awal dari perburuan panjang yang membuktikan bahwa monster paling mengerikan tidak lahir dari mitos, melainkan dari pilihan-pilihan kita sendiri.
Identitas buku:
Judul: Monster (volume 1)
Penulis: Naoki Urasawa
Penerbit: Akasha (m&c!)
Tahun: 2023
Jumlah: 424 halaman
ISBN: 9786230310508
Kategori: komik, fiksi, misteri suspense, thriller psikologi, kedokteran, pembunuhan, kekerasan
Status: bersambung
•••
Blurbnya:
Setiap orang merasakan kegelisahan dalam kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali dr. Kenzo Tenma yang kariernya sukses. Namun, bagaimana mungkin dia tahu bahwa dalam tugasnya menyelamatkan orang sebagai seorang dokter, dia telah memicu kemunculan makhluk yang sangat mengerikan? Apa itu keadilan dan apa itu kejahatan? Ini pertanyaan untukmu.
Di Jerman, yang berada dalam kebingungan sejak penyatuannya, pasangan paruh baya tanpa anak dibunuh satu per satu. Pembunuh berantai itu adalah Johan! Mengapa dia menyerang pasangan seperti itu? Kenzo Tenma melakukan perjalanan untuk mencari saudara kembar Johan yang mungkin memiliki beberapa petunjuk tentang rahasia sang "Monster”.
•••
Garis besarnya:
dr. Kenzo Tenma, seorang dokter bedah saraf berkebangsaan Jepang yang meniti karier di salah satu rumah sakit di Jerman mendapatkan kesuksesan gemilang di usianya yang terbilang muda. Dia juga berkencan dengan putri direktur rumah sakit tempatnya bekerja. Dirinya selama bekerja senantiasa mengikuti petunjuk sang direktur yang sesungguhnya hanya memanfaatkan kepiawaian dr. Tenma demi ambisi pribadi.
Pandangan politik rumah sakit terhadap keselamatan pasien berdasarkan kedudukan mulai berbenturan dengan pendirian dan pandangan dr. Tenma yang memang mendedikasikan diri untuk menolong semua pasien tanpa melihat siapakah pasiennya. Sampai suatu hari, dr. Tenma memilih untuk menyelamatkan salah seorang anak kembar dengan peluru bersarang di kepala yang datang lebih dahulu ketimbang mengoperasi wali kota sehingga keputusan tersebut menyebabkan kariernya lenyap seketika. Operasi yang dia tangani berjalan lancar, tetapi wali kota meninggal. Jabatannya pun dicabut, tunangannya meninggalkannya dan memilih dokter lain, diabaikan direktur rumah sakit, dan lebih banyak bekerja dan bekerja. Sederhananya, dr. Tenma menjadi korban politik rumah sakit.
Sembilan tahun kemudian, terjadi pembunuhan terhadap pasangan paruh baya di beberapa tempat. Pelaku belum diketahui meski polisi menduga beberapa tersangka. Salah seorang tersangka terluka dan dirawat oleh dr. Tenma di rumah sakit. Berawal dari itu, dr. Tenma bertemu dengan sosok sesungguhnya, pelaku sebenarnya yang menjadi dalang dibalik pembunuhan berantai tersebut. Orang itu adalah anak yang sembilan tahun lalu dia selamatkan dalam operasi. Anak yang tiba-tiba menghilang bersamaan dengan kematian misterius direktur rumah sakit.
Merasa bertanggung jawab, dr. Tenma memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan bertekad menghentikan perbuatan Johan, nama anak tersebut. Maka dimulailah perjalanan dr. Tenma menemukan Johan.
•••
Resensinya:
Saya sangat-sangat-sangat bahagia dan mengapresiasi keputusan m&c! mencetak kembali komik ini. Dua puluh tahun lalu (2003), komik ini terbit pertama kali di Indonesia dengan jumlah 18 volume/buku, dan tahun 2023 ini m&c! (melalui lini Akasha) menerbitkan pertama kali juga dalam versi two-in-one dalam versi premium (tentu ada sejumlah perbedaan di dalamnya, makanya meski penerbit mencetak kembali/ulang, tetapi ini merupakan cetakan pertama dengan konsep yang berbeda).
Komik ini boleh disebut sebagai komik paling mahal. Rp158.000,00. Saran saya, kalau mau koleksi, bisa cari pas diskonan biar lebih murah. Meski termahal, tetapi komik ini worth to buy and worth to collection.
Kok?
Mari saya sampaikan alasannya.
Saya mulai dari bentuk bukunya terlebih dahulu. Monster volume 1 ini lebih besar dari ukuran komik pada umumnya. Isinya juga lebih tebal. Buku ini memiliki jaket berwarna merah dan kover buku hitam polos bertuliskan Monster. Cukup banyak lembar berwarna pada bab awal dan bab pertengahan. Beberapa orang menyebutkan kekurangan pada bahan kertasnya letoi, tetapi saya melihatnya sebagai kelebihan sebab bisa dibuka tanpa susah payah memegang di kedua sisi buku. Bukankah menyenangkan meminimalkan jejak tekanan jempol pada buku? Hahaha. Kualitas cetakan bagus, tulisan dan gambar juga tajam. Tidak ada yang disensor. Ini berbeda dengan komik tahun 2003 yang beberapa adegan disensor dan dikurangi. Edisi premium ini isi materi sesuai asli dari Naoki Urasawa. Pun dengan terjemahan juga tidak disesuaikan agar orang paham (seperti penyebutan istilah medis), melainkan apa adanya. Gambar tindakan operasi dan adegan berdarah pada mayat pun terlihat dengan jelas. Benar-benar The Perfect Edition
Kemudian bergeser ke substansi ceritanya.
Monster merupakan komik mystery suspense yang dari awal pembaca sudah terkena plot twist. Opini yang mengarahkan ada pelaku lain ternyata oleh penulis diberikan jawabannya pada tengah bab. Pembaca mengenali dengan jelas siapa protagonisnya dan siapa antagonisnya, termasuk kepribadian keduanya yang bagai bumi dan neraka. Komik ini berbentuk hit and run atau catch me if you can, bagaimana dr. Tenma berupaya mencari Johan dengan menyelidiki keberadaan laki-laki itu di mana-mana untuk menghentikannya. Selain itu, Monster juga mengusung tema psychological thriller. Dalam volume pertama ini, pembaca masih diajak untuk menerka-nerka apa motif Johan melakukan rangkaian pembunuhan tersebut.
Lha kalau cuma mencari sebab musabab, psikologinya di mananya?
Menariknya, dalam empat pembunuhan pertama itu terhubung dengan Johan. Semua pasangan paruh baya tersebut pernah mengadopsi Johan setidaknya dalam kurun waktu satu tahun sebelum anak itu lenyap entah ke mana tanpa kata apalagi pamitan. Dan semua orang yang di sekitar korban selalu menyatakan lupa dengan sosok Johan. Tidak ingat. Tidak ada fotonya. Kan, itu aneh. Johan sendiri dalam satu sesi bertemu muka pertama kali dengan Tenma mengatakan semua orang tidak boleh tahu perihal dirinya, pun identitas aslinya. Makin misterius saja dan bikin kepo sampai repot-repot membunuh begitu.
Kemudian ada sang saudara kembar, Anna, yang menjadi target Johan dan pada perayaan ulang tahun dia nyaris terbunuh meski dr. Tenma berhasil menyelamatkannya. Anna menyatakan mengingat jika saat mereka kecil, dirinya pernah diminta menembak Johan di kepala oleh Johan sendiri. Bocil mainan pistol betulan, usia belum ada sepuluh tahun, kok mau? Lalu sebelum menghabisi salah seorang anak buahnya di depan dr. Tenma (sebelum dr. Tenma terguncang dengan fakta bahwa pelakunya adalah anak yang dulu dia selamatkan), Johan menembak dengan wajah lempeng-lempeng saja, tanpa kedipan mata, apalagi menarik garis senyuman. Duh ….
Volume pertama Monster ini lebih banyak pada perkenalan satu per satu karakter-karakternya. Dari segi alur cerita, Naoki Urasawa lihai mengemasnya. Penulis sudah memberikan konflik moral pada bab-bab awal sebagai pemantik sekaligus pondasi cerita yang tengah dibangun. Pergulatan batin dr. Tenma dalam penanganan pasien dibenturkan dengan kepentingan politik elit rumah sakit. Kemudian tatkala dr. Tenma sudah menapaki dan menjalankan apa yang dia yakini sesuai sumpah jabatan, dia sekali lagi dihadapkan dengan kenyataan jika orang yang dia selamatkan justru menjadi perencana setiap pembunuhan. Lebih ciamik lagi ketika Johan dengan santainya mengatakan jika dirinya membunuh direktur rumah sakit (dan dua rekannya) sembilan tahun yang lalu dalam rangka mengabulkan keinginan dr. Tenma yang memang berharap (saat itu) sang direktur mati.
Dari Monster pembaca dapat menilai tidak sekadar keadilan atau kesetaraan dan kejahatan semata atau drama melanggengkan kekuasaan melalui politik praktis dalam latar dunia kedokteran; melainkan juga perihal tanggung jawab moral diri kepada orang lain; dan tentang pilihan, keputusan, dan konsekuensi. Bagaimana ketika manusia memiliki pilihan yang harus dia tentukan keputusannya dan konsekuensi apa yang menyertai, baik yang sekiranya telah diprediksi maupun yang tidak terduga. Lagi-lagi harus saya sebut jika dr. Tenma adalah contoh yang tepat. Saat dirinya memilih pasif dengan mengikuti arus ritme rumah sakit, dia mendapatkan jabatan dan kekasih walau direktur mengeklaim semua hasil pekerjaannya demi pencitraan rumah sakit. Kemudian tatkala mulai memilih seperti apa kata hatinya, siapa sangka dia dikucilkan, segala jabatan dan tetek bengek lainnya lenyap.
Meksi tempo ceritanya cenderung lambat dan berputar-putar dengan nuansa suram, tetapi saya memandangnya sebagai kisah yang memang memerlukan waktu untuk memahami setiap karakternya, latar waktu, latar tempat pada awal-awal bab sebelum untuk lebih menikmati ketegangan-ketegangan yang mendebarkan di tengah-tengah bab hingga akhir. Semua tokoh yang ada dalam buku ini terhubung dengan benang merah pada dr. Tenma maupun Johan. Saya menyarankannya membacanya perlahan saja, agar lebih bisa memaknai cerita dan mendalami tokoh-tokohnya.
Komik ini saya rekomendasikan buat pencinta Naoki Urasawa, pembaca baru Naoki, penggemar misteri atau thriller, serta siapa pun yang ingin menikmati kisah yang berbeda perihal hati manusia.
Terakhir, barangkali bisa menjadi pertanyaan perenungan jika kita tahu yang kita selamatkan besok jadi otak pembunuhan berantai, apa iya kita membiarkan dia mati di meja operasi? Jika sudah terjadi, perlukan sekarang harus memperbaiki kesalahan tersebut?
Minat baca?
•••
Kutipannya:
Soalnya rumah sakit adalah dunia politik. Kalau kau tidak pandai membawa diri, sampai kapan pun akan tetap jadi orang kecil. Itulah yang namanya rumah sakit. (dr. Becker)
Tidak ada yang nyawanya lebih berharga atau kurang berharga dibandingkan nyawa lainnya!! (dr. Tenma)
Hidup itu sungguh tidak bisa ditebak!! (dr. Tenma)
Nilai nyawa manusia semuanya setara. Tugas dokter adalah menyelamatkan nyawa. Manusia selalu dapat memulai lembaran baru …. Tak pernah ada kata terlambat. (dr. Tenma)
Makanlah. Manusia kalau tidak makan takkan bisa bekerja dengan baik. (Pak Maurer)
Melajang itu lebih nyaman. Bisa berkeliaran dengan bebas adalah hak istimewa bagi orang yang melajang. (Pak Maurer)
.webp)
0 Comments