Seperti Menikah, Bercerai adalah Cara Manusia untuk Bahagia: Kebahagiaan Datang Lewat Jalan yang Paling Menyakitkan.
Januari 10, 2025Tetaplah bahagia dan percaya diri setelah perceraian.
Identitas buku:
Judul: Seperti Menikah, Bercerai adalah Cara Manusia untuk Bahagia (Waktu Terbaik untuk Diam dan Bertahan serta Pergi dan Melepaskan)
Penulis: Lebah Jingga
Penerbit: Vice Versa
Tahun: 2021
Jumlah: 118 halaman
ISBN: 9786239671136
Kategori: nonfiksi, motivasi
•••
Blurbnya:
Sebagian besar orang beranggapan bahwa menikah adalah sumber kebahagiaan: bisa hidup bersama pasangan terkasih, bermain di akhir pekan dengan keluarga, dan tinggal di rumah yang damai. Sedangkan sebagian lainnya menyadari bahwa meski mereka sudah menikah, masih ada kebahagiaan lebih besar yang bisa didapatkan justru dengan bercerai.
Buku ini mengajak kita untuk melihat perceraian dari cara pandang yang lebih luas, baik secara pribadi maupun profesional bahwa institusi keluarga yang disatukan oleh pernikahan yang sakral kini mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Seberapa penting arti keluarga yang disatukan oleh janji pernikahan? Seberapa besar peluang seseorang mempertahankan pernikahannya atau pergi meninggalkannya? Ketika dihadapkan di sebuah persimpangan jalan untuk memilih bertahan atau pergi, rasanya semua orang akan mencari di mana kebahagiaan berada di ujung jalannya, dan dalam proses perjalanannya, buku ini hadir untuk menjawab itu semua.
•••
Resensinya:
Ada faktor ketidaksengajaan tatkala saya menemukan buku ini. Kala itu, dalam satu pameran di Yogyakarta, judulnya cukup membuat saya tertegun beberapa saat sebelum saya tertawa. Bukan tawa mengejek, lho. Bukan. Melainkan tertawa: “Wah, ada juga buku begini. Antimainstream sekali.” Saya tidak langsung mengambilnya karena mengingat PR membaca saya yang ‘lumayan’. Ternyata keputusan saya mengabaikannya malah berujung kepikiran, hahaha. Setelah lewat-lewat hari ada rasa ingin baca, tetapi saya lupa judulnya ketika mencari di marketplace. Akhirnya saya menemukannya lagi selang beberapa bulan sesudahnya tatkala Togamas Affandi Yogyakarta sedang diskon 25%. Itu pun tidak sengaja. Sudah pasti autokukut dan bayar.
Seperti Menikah, Bercerai adalah Cara Manusia untuk Bahagia merupakan buku pengembangan diri yang lebih banyak mengulas perihal bahwa “Kamu kalau mau bercerai, ya, enggak apa-apa. Toh, hidup itu tujuan akhirnya bukan melulu perihal menikah terus happy ending. Kalau sudah tidak menemukan kesamaan pandangan, ya enggak salah juga kalau pada akhirnya memilih bercerai.”
Sebelum menikah, seseorang sering kali memiliki ekspektasi tertentu terhadap calon pasangan serta bagaimana keduanya membangun kehidupan rumah tangga yang begini dan begitu, tentunya dengan harapan bahwa kebahagiaan pernikahan terjadi. Namun, tidak sedikit pula jika ekspektasi-ekspektasi tersebut terlindas oleh kenyataan saat menjalani rumah tangga. Terkadang muncul percik-percik konflik yang berujung ketidakbahagiaan. Memang tidak semua, tetapi lebih banyak yang demikian, bukan?
Dalam buku ini penulis menyoroti pandangan yang jamak sekali diamini oleh orang dan secara tidak sadar masyarakat terjebak di dalamnya: kalau menikah berarti keberhasilan/pencapaian hidup, sedangkan perceraian adalah kegagalan hidup. Pernikahan itu baik, perceraian itu buruk. Sering tidak kita mendengarkan seseorang yang memutuskan bercerai mendapat label egois (mengesampingkan anak) dan gagal (sudah gagal dalam mempertahankan mahligai rumah tangga yang kemudian menyerah dengan keadaan, tidak mau berjuang). Perceraian dalam budaya ketimuran kita, dalam norma sosial kita, selalu diasosiasikan dengan tanda kegagalan, tanda kelemahan, dan tanda keegoisan. Lebih jauh lagi kerap kali ada bumbu agama yang ikut menyertai: melanggar janji pernikahan, tidak berkomitmen. Padahal, dalam buku ini, penulis menyatakan jika pandangan publik tersebut sebatas kontrak pernikahan yang berwujud akad nikah atau janji pernikahan. Ikrar pernikahan tersebut cenderung lebih konservatif dan hanya menjanjikan kesetiaan abadi, bukannya cinta abadi, sedangkan cinta layaknya musim yang terkadang bisa berubah-ubah, cenderung naik-turun seiring waktu. Dan masyarakat gemar sekali mengingatkan untuk mengingat-ingat atau merasakan hal yang dilakukan dulu saat akad atau mengucapkan janji suci untuk terus bersama selamanya.
Lantas, apakah jika seseorang yang memutuskan bercerai dengan pasangannya, dia tidak memperoleh kebahagiaan, atau malah sebaliknya dengan bercerai dirinya mendapatkan kebahagiaan yang tidak dia temukan dalam pernikahannya?
Terdiri atas tujuh bab, buku ini mengajak pembacanya untuk perlahan-lahan mencerna pemahaman terhadap persepsi norma sosial masyarakat kita pada umumnya atas pernikahan dan perceraian; mengurai definisi perceraian itu sendiri beserta terminal-terminal perpisahan dan pertimbangan-pertimbangan sebelum memutuskan bercerai, menelaah kembali konsep kebahagiaan; mengajak merenung perihal cinta sejati yang marak digembar-gemborkan oleh media, cerita, film, bahkan lingkungan yang belum tentu juga bisa melanggengkan sebuah hubungan (pernikahan), serta alasan-alasan yang memengaruhi perceraian; hal-hal yang harus dilakukan setelah memutuskan untuk bercerai dan emosi-emosi yang melingkupi menuju ke arah penyembuhan dari rasa terluka; menyadarkan akan hal penting usai bercerai; dan menjadi bahagia setelah berpisah.
Buku ini benar-benar memberikan pandangan jika perceraian pun termasuk mencari kebahagiaan. Kebahagiaan dalam bentuk yang berbeda. Menikah merupakan salah satu dari tangga kehidupan, termasuk bercerai. Pernikahan pun tidak selalunya dapat menyebabkan kebahagiaan dan perceraian pun tidak selalunya menyebabkan ketidakbahagiaan. Bercerai bukan berarti pernikahan seseorang itu gagal, melainkan tidak berjalan baik, jadi tidak perlu merasa malu atau rendah diri.
Ada sejumlah panduan serta tip dan trik bagaimana jika pada akhirnya seseorang memutuskan untuk bercerai dan menjalani kehidupan dalam kondisi perpisahan tersebut. Seperti pentingnya untuk belajar menempatkan diri dengan menerima beragam spektrum emosi yang menyertai kemudian bersiap untuk berdaya dari masa lalu, menghargai secara penuh keadaan diri saat ini, lantas merencanakan masa depan.
Bahagianya dengan cara menjalani setiap fase-fase perceraian, mulai dari kemarahan sampai kesedihan. Memang ‘waktu yang menyembuhkan’ menjadi penawar selain dukungan dari keluarga dan teman dekat. Setidaknya melalui buku ini, pembaca akan mengerti jika memilih untuk kembali menjadi single dapat menjadi acuan untuk menjadi lebih baik lagi.
Menggunakan diksi yang sederhana dan mudah dipahami, penulis juga beberapa kali memberikan kalimat-kalimat tanya untuk mengajak pembacanya berpikir dan melihat lebih jauh ke dalam diri masing-masing. Yah, begitulah, setiap hubungan memang memiliki harga yang harus dibayar, kan?
Seperti Menikah, Bercerai adalah Cara Manusia untuk Bahagia, sebuah buku yang memberikan warna lain kehidupan bahwa perceraian tetap menyimpan kisah yang penuh makna di dalamnya.
Kalau pendapat Anda bagaimana?
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Kecenderungan sosial kita untuk menyamakan perceraian dengan kegagalan. Budaya kita percaya bahwa perceraian mencerminkan kelemahan dan keegoisan, dan label ‘kegagalan’ tidak hanya berlaku untuk pernikahan, tetapi juga untuk orang yang bercerai. Masyarakat kita tidak suka orang yang menyerah, dan di sana, perceraian dipandang sebagai ‘penyerahan’ yang lain. (hal. 13)
Dalam pandangan publik, pernikahan selalu baik dan perceraian selalu buruk. (hal. 14)
Bagi orang lain, pernikahan adalah komitmen seumur hidup, bahkan jika itu berarti mengalami masa-masa kekecewaan atau, lebih buruk lagi: tidak pernah mendapatkan semua hal yang diharapkan untuk sempat dirasakan. (hal 19)
Norma sosial memberi tahu individu di dalam hubungan bahwa mereka harus percaya tetap mempertahankan pernikahan, karena percaya bahwa komitmen adalah hal yang lebih penting daripada kebahagiaan. (hal. 53)
Kita bahkan menilai pernikahan berdasarkan lamanya waktu pasangan bersama, dengan setiap peringatan pencapaian (anniversary) yang melebihi sebelumnya dan juga hierarki hadiah yang diberikan. (hal. 55)
Salah satu penyebab terbesar perceraian adalah kurangnya komunikasi. (hal. 60)
Perlu dicatat bahwa kita mengetahui lebih sedikit tentang proses kerusakan perkawinan dan perceraian daripada yang seharusnya kita ketahui. Kita lebih memahami tentang jatuh cinta dan pernikahan daripada tentang kepudaran cinta dan perceraian. (hal. 79)
Ketika kamu mulai menyadari kehilangan itu nyata, barulah kamu dapat memulai proses penyembuhan. (hal. 87)
Perceraian bisa menjadi ekspresi penyembuhan. Ia mungkin dapat menyelesaikan akhir dari sebuah pernikahan, tetapi ia tidak harus menghentikan atau menghalangi kemampuanmu untuk mencintai. (hal. 94)
Perceraian adalah kehilangan yang sangat besar. Perceraian adalah hilangnya harapan dan impian. Banyak dari kehilangan ini berarti bahwa perceraian adalah dukacita–bahkan jika itu disadari atau tidak disadari. (hal. 101)
Tidak ada yang final dalam perceraian, terutama perceraian dengan anak. (hal. 104)
Jangan pedulikan suara-suara yang melabelimu mentah-mentah sebagai seorang yang egois karena mereka bahkan tidak pernah mengalami apa yang kamu alami sekarang. Ia adalah kata sifat umum yang diterapkan pada orang-orang yang memilih perceraian. Egois, seperti dalam: “kamu egois karena sudah melanggar janjimu padaku hanya karena kamu berpikir bahwa kamu dapat membuat hidup yang lebih baik tanpa aku,” atau “kamu egois karena mengejar impian dan kebahagiaanmu sendiri dengan mengorbankan anak-anakmu.” (hal. 105)
Melajang bukanlah hukuman atau cara hidup yang merugikan. Mengakui kegembiraan dan manfaat dari melajang, dan menempa hidupmu sendiri menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan. (hal 113)
.webp)
0 Comments