Lay-Lay Cat: Tatkala jimat keberuntungan tidak bikin hoki.
Januari 08, 2025Kegundahan sebuah patung maneki neko yang gagal menjalankan tugas sebagai jimat pembawa keberuntungan alias pelaris toko.
•••
Identitas buku:
Judul: Lay-Lay Cat
Penulis: Andik Prayogo, Sheila Rooswitha Putri, Anisa Novia
Penerbit: re: ON dan Koloni m&c!
Tahun: 2022
Jumlah: 120 halaman
ISBN: 9786230306419
Kategori: fiksi (komik), humor, one shoot
•••
Blurbnya:
Perkenalkan namaku Leon. Karena toko bukuku sepi banget, aku membeli patung kucing penarik keberuntungan Maneki Neko yang kuberi nama Lay-Lay Cat.
Tapi sepertinya kok tidak ada perubahan, ya? Tokoku tetap sepi.
Jangan-jangan ini malah Maneko Neko pembawa sial?
•••
Resensinya:
Tahu saya menyukai kucing, seorang teman sesehobi selalu menyebut daftar komik-komik yang memiliki nuansa kucing. Salah satu yang teman saya ambil, ketika kami beli komik di toko buku, adalah Lay-Lay Cat ini. Buku ini merupakan komik asli buatan Indonesia, baik penulis ceritanya maupun ilustratornya. Lebih luar biasanya lagi seluruh halamannya full color. Termanjakan sekali mata para pembaca.
Sebelum saya meresensi, teman-teman barangkali pernah melihat patung kucing yang suka goyang-goyang tangannya, seperti memanggil-manggil kita, entah di rumah makan, hotel, pertokoan, dll. terutama dekat kasir. Yup, itu namanya maneki neko atau kucing pembawa keberuntungan yang konon katanya dapat mendatangkan pelanggan dan cuan. Kerap kali kita beranggapan bahwa patung tersebut berasal dari China, padahal aslinya dari Jepang. Lengkapnya, teman-teman bisa mengulik sendiri perihal maneki neko ini, ya.
Sekarang lanjut ke resensi komiknya.
Lay-Lay Cat adalah komik lokal anti-mainstream yang berkisah tentang kegundahan sebuah patung maneki neko yang gagal menjalankan tugas sebagai jimat pembawa keberuntungan alias pelaris toko. Sepanjang cerita, pembaca akan mendapati kegagalan demi kegagalan si kucing gendut dalam menarik massa (baca: pelanggan/pembeli), padahal si pemilik toko sudah kembang kempis demi keberlangsungan tokonya, alih-alih berharap datangnya cuan agar terus bertahan, malah tidak berimbas secara signifikan alias ajeg-ajeg saja, masih sepi dan sepi.
Pada lembar pertama, penulis akan mengajak pembaca untuk berkenalan dengan kondisi toko buku Leon dan upayanya berharap pada Lay-Lay Cat untuk mendatangkan pembeli sampai cerita keseharian tersebut berkembang hingga karakter-karakter lucu lainnya muncul di sepanjang cerita. Tiap-tiap kisahnya pendek hanya dua sampai tiga lembar selesai, mengandung humor menyegarkan, dan selalu ada plot twist yang menyertai. Yang istimewa, buku ini tidak sekadar tebal kertasnya melainkan juga berwarna alias full color. Sangat cocok untuk semua rentang usia.
Komik ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari cerita Lay-Lay Cat yang sebelumnya sudah pernah terbit di majalah re:ON, yang pada akhirnya disusun dalam bentuk kompilasi one shoot plus ditambah beberapa cerita baru.
Terlepas dari kisah tentang ketidakmampuan maneki neko, buku ini juga menyentuh usaha toko buku yang nasibnya terancam gulung tikar, berangsur-angsur sepi, jarang mendapat pembeli, bahkan Leon pun memberikan closing sale 70% agar tokonya bisa laku. Fenomena toko buku tutup diterkam zaman bukan hal baru jika merujuk pada situasi akhir-akhir ini karena sebagian besar kalangan memang telah menggandrungi membaca buku secara digital. Namun, saya percaya masih ada sebagian lainnya yang tidak hilang minat membaca buku konvensional/cetak meski memburunya tidak lagi ke toko, tetapi bergeser secara online. Di sini masih ada cukup ruang dan peluang bagi toko buku untuk berdiri menghadapi perubahan dengan beradaptasi, mengombinasikan penjualan online maupun offline. Memang perlu adaptasi dalam dunia serba digital selain menaruh kepercayaan kepada patung yang kabarnya dapat membawa hoki keberuntungan berupa uang, hahaha.
Selain itu, saya bertanya-tanya perihal judul “Last Episode” dalam kisah ini. Apakah itu pertanda buku ini menjadi akhir Lay-Lay Cat dan tidak akan ada kelanjutannya lagi? Namun, saat membalik halaman selanjutnya tertulis “See you latter!!!” yang apakah menandakan akan ada kisah lainnya dengan evolusi yang berbeda? Saya tidak mau menduga yang mana, saya hanya berdoa agar beliau, Andik Prayogo, yang telah berpulang, senantiasa tenang di sana. Dan saya cukup puas dengan akhir cerita buku ini.
Lay-Lay Cat, si kucing gendut yang seharusnya membawa keberuntungan, tetapi hingga kini, bahkan mungkin nanti, masih belum jua mampu menggaet pembeli. Mari kita doakan semoga kucing tersebut bisa berhasil di kemudian hari, dan mari terus berikan semangat kepada industri kreatif komik Indonesia agar makin besar dan berkembang.
Punya pengalaman dengan jimat?
•••
Kutipannya:
Jimat keberuntungan kok harus berbentuk kucing? Kenapa, sih? Kenapa bukan kelinci yang lebih imut? Bukan panda yang lucu? Atau babi yang gemuk? Atau malah hippo sekalian …. Kucing kan, binatang yang menyebalkan? Malas dan suka mencuri.
.webp)
0 Comments