berbahasa indonesia dengan logis dan gembira: Berbahasalah yang luwes, jangan saklek-saklek banget

Januari 06, 2025


Ini bukan buku sekolahan. Ini buku kumpulan esai yang mengajak kita menertawakan kekonyolan cara kita berkomunikasi sekaligus mencintai bahasa Indonesia dengan lebih waras

•••

Identitas buku:

Judul: Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira (Renungan & Candaan)

Penulis: Iqbal Aji Daryono

Penerbit: DIVA Press

Tahun: cetakan pertama, 2019

Jumlah: 295 halaman

ISBN: 9786023917662

Kategori: Nonfiksi


•••


Blurbnya:

Ini bukan buku sekolahan. Ini buku untuk semua penutur bahasa Indonesia. 


Sebagian besar tulisan pendek di buku ini tidak berangkat dari teori akademis kebahasaan ataupun aturan ketertiban penulisan ejaan, melainkan dari ekspresi-ekspresi berbahasa yang sering muncul dalam keseharian kita. Mulai dari obrolan, hingga aneka tulisan di media.


Di bangku sekolah, kita melulu diingatkan untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Malangnya, nyaris tidak ada penekanan bahwa aktivitas berbahasa Indonesia juga harus dijalankan secara logis, masuk akal, dan memenuhi tuntutan nalar. Maka, jangan heran bila di belakang hari sering terjadi konflik sosial gara-gara minimnya pemahaman publik atas logika bahasa, sekaligus minimnya pemahaman atas cara kerja bahasa. 


Buku ini jadi semacam ajakan agar kita secara pelan-pelan menata lagi itu semua. Tentu saja sambil tetap bergembira.


•••


Resensinya:

Saya jadi teringat saat semester-semester awal di bangku perkuliahan, saya mendapatkan nilai C untuk ujian mata kuliah Bahasa Indonesia dan B untuk Bahasa Inggris. Nah, loh, kebalik, kan, ya. Jangan tanyakan kok bisa, karena saya sendiri juga enggak tahu kok bisa begitu. Namun, saya yakin di luar sana yang sebelas dua belas dengan saya pasti ada—membela diri ceritanya. 


Saya sempat berpikir, mempelajari Bahasa Indonesia itu harusnya mudah, kecil, toh bahasa sendiri dari lahir. Namun, nilai saya di atas sedikit membuktikan bahwa belajar Bahasa Indonesia itu memang tidak gampang—setidaknya dalam sudut pandang saya. 


Pada pelajaran Bahasa Indonesia di bangku sekolah, kita selalu mendengar slogan ini ditekankan beruang-ulang: "Marilah berbahasa Indonesia yang baik dan benar." Berbahasa yang baik adalah berbahasa yang sesuai dengan konteks lingkungan dan suasana, sedangkan berbahasa yang benar adalah yang sesuai kaidah.

Saya setuju saja dengan slogan baku seperti itu, meski untuk bagian "berbahasa yang benar" saya punya beberapa kritiknya. Namun, di luar kedua syarat utama dalam berbahasa Indonesia itu, ada satu semangat yang saya merasa tidak pernah mendapatkannya dulu di masa-masa sekolah. Semangat tersebut adalah "berbahasa Indonesia yang logis, yang masuk akal, yang memenuhi kebutuhan nalar." (halaman 5)


Buku berbahasa indonesia dengan logis dan gembira—sesuai dengan kover yang kecil semua—banyak mengulik fenomena kebahasaan kita yang rupa-rupanya pelik, tetapi penulis pandai menjabarkannya dalam bahasa yang ringan, mudah dipahami, mengasyikkan, dan tentu saja membuat saya tersenyum bahkan ngakak karena terhibur. 


Dalam buku ini, penulis mengajak pembaca untuk kembali belajar Bahasa Indonesia sekali lagi agar menjadi cerdas dan kritis, tidak sekadar berdasarkan pakem “baik dan benar” sebagaimana para guru ajarkan di lembaga pendidikan (menekankan S-P-O-K), melainkan yang tidak kalah penting: kelogisan. 


Buku ini banyak membahas tentang kepakeman bahasa yang salah kaprah dan tidak pas yang masih mengemuka di masyarakat, misalkan saja:

  • Si waktu dan si tempat yang dipersilakan;

  • “Dan” dan “padahal” di awal kalimat;

  • Urusan receh semacam: Di sini menyediakan es batu;

  • Diabsen atau dipanggil;

  • Kesempatan yang berbahagia;

  • Di mana yang ada di mana-mana;

  • Ketiduran, kejatuhan, kehujanan, dan ke- ke- lainnya;

  • dst. masih banyak lagi.


Kemudian penulis memilih bersikap luwes alias tidak saklek atau kaku terhadap KBBI, seperti dalam contoh “jomblo vs jomlo”; menegosiasikan serapan bahasa Arab yang memiliki sisi-sisi kesakralan dan keyakinan, misalkan “salat-shalat, rida-ridlo, tawaduk-tawadlu, dst.”; memberikan kritikan atas kata-kata baku, tetapi wagu atau kurang populer di masyarakat, terutama dalam lingkup tertentu, sebut saja marketing (pemasaran) dan branding (penjenamaan); sampai urusan makian pun tidak luput dari radar penulis: matane suwek, mbahmu kiper, anjing, dll.


Jangan salah, selain mengoreksi, penulis juga memberikan pemahaman dan pengetahuan atas berbahasa Indonesia, bagaimana menyikapi KBBI, penggunaan bahasa ibu, bahasa asing, hingga mengajak merenung dan mencermati makna sebuah buku.


Melalui buku ini, selain urusan baik dan benar, bahasa pun harus logis dan masuk akal. Ini berkaitan dengan bahasa sebagai alat komunikasi. Ada kesepakatan yang terbentuk di sana. Bahasa akan berguna jika tercapai kesamaan makna atau pemahaman antara komunikator dengan komunikan sehingga yang namanya kegagalan komunikasi/kesalahpahaman tidak akan terjadi.


berbahasa indonesia dengan logis dan gembira mengajak kita untuk memahami kembali berbahasa Indonesia dengan cara yang lebih menggembirakan. Ada upaya melestarikan bahasa yang hidup di masyarakat. Buku ini cocok bagi mereka yang menjadi pekerja teks komersial dan yang menekuni dunia tulis menulis.


Mari kita berbahasa Indonesia dengan logis dan luwes, dengan tetap bergembira, Ges.


Tertarik baca?


•••


Kutipannya:

Sebuah bahasa menjadi jaya bukan semata karena bahasa itu mudah dipelajari, bukan semata karena ia bisa dituturkan untuk kemudahan dalam berkomunikasi tingkat dunia, bukan semata karena jumlah penuturnya banyak, dan bukan pula karena bahasa itu memiliki kualifikasi ilmiah tertentu. Bukan itu. Sebuah bahasa menjadi jaya karena kekuatan para penuturnya di medan peradaban. (Halaman 31)


Istilah “hidup” dalam dunia bahasa bermakna jika sebuah bahasa atau unsur-unsurnya diucapkan dan dipahami bersama tanpa membawa efek kegagalan komunikasi. Bahasa bersifat arbitrer alias semau-maunya. Karena arbitrer, maka untuk mencapai derajat komunikasi efektif, kesepakatan bersama dalam sebuah masyarakat mutlak dibutuhkan. (Halaman 36)


Bahasa merupakan kesepakatan, tapi yang disebut kesepakatan memiliki ruang lingkupnya masing-masing. Ia tidak berlaku universal. (Halaman 95)


Aktivitas berbahasa bukan hanya berurusan dengan benar dan salah, sopan dan tidak sopan, serta pas dengan suasana dan tidak pas. Pada hal-hal tertentu, berbahasa juga menuntut keindahan. (Halaman 245)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts