Teh dan Pengkhianat: Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia tidak sedangkal itu

Januari 06, 2025


Kumpulan cerita (kumcer) yang membantu mempelajari sejarah bangsa dengan cara yang sangat menyenangkan sekaligus meletakkan perspektif baru untuk menghindari penyederhanaan kolonialisme Belanda.

•••

Identitas buku:

Judul: Teh dan Pengkhianat (Kumpulan cerpen)

Penulis: Iksaka Banu

Penerbit: KPG

Tahun: cetakan keempat, 2021

Jumlah: xii + 164 halaman

ISBN: 9786024811372

Kategori: fiksi, sejarah


•••


Blurbnya:

Dari penulis karya sastra pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 kategori prosa, Semua untuk Hindia, hadir kembali tiga belas cerita pendek berlatar kolonial. Dalam Teh dan Pengkhianat kita diajak bertamasya lagi ke masa silam: ketika awal mula sepeda dipakai kaum bumiputra di Hindia Belanda, sewaktu wabah cacar mengancam sementara sarana dan prasarana transportasi masih terbatas, saat globe masih merupakan produk pencerahan budi yang mewah, tatkala rekayasa foto tidak bisa lain kecuali dilakukan dengan cara manual yang merepotkan, dan seterusnya.


Iksaka Banu menampilkan sejarah sebagai pergulatan manusia berikut susah-senang maupun kekecewaan dan harapan yang meliputi. Kebebalan ataupun nalar tiap generasi.


•••


Resensinya:

Tahu Roehana Koeddoes? Bagus kalau tahu. Kalau belum, tenang … sama dengan saya.

Bagaimana dengan Alibasah Sentot Prawirodirdjo? Tahu, lagi. Luar biasa. Kita tos. Lho, ada yang tidak tahu? Tenang, pertanyaan berikutnya pasti bisa jawab.

Kalau nama ini pasti familiar: Jan Pieterszoon Coen atau tenar dengan nama J.P. Coen.

Ada yang tidak tahu? Duh ….


Perlu waktu dua hari bagi saya untuk menamatkan Teh dan Pengkhianat. Bagi sebagian orang bisa jadi itu waktu yang terlalu lama untuk menyesap buku setipis 160 halaman. Namun, buat saya, itu waktu yang cukup untuk tidak sekadar menyelesaikan kumpulan cerpen ini, melainkan juga mencari informasi rekam sejarah yang melintasi Teh dan Pengkhianat, cerpen demi cerpen.


Sepanjang saya membaca buku ini, saya kepo dengan validitas latar waktu cerita. Seperti apa genosida di Banda tahun 1621? Apakah iya ada tokoh bernama Roehana Koeddoes? Seperti apa perubahan zaman di kota-kota besar ketika gelombang pendidikan bumiputra mulai menggeliat? Bagaimana gambaran pergaulan Belanda dengan pribumi? Rasis, kah? Apa yang terjadi setelah wabah cacar menerpa? Ke mana opium yang beredar di Hindia Belanda? Mengapa ada pribumi menindas pribumi ketika gula menjadi primadona? Kalau Sentot dan J.P. Coen, saya rasa kita sama-sama tahu aksi beliau-beliau. Dan … masih banyak lagi hal-hal yang membuat saya bertanya-tanya.


Teh dan Pengkhianat berisi 13 cerita pendek dengan latar berurutan sejak kedatangan Belanda sampai jelang kemerdekaan Indonesia. Semua cerita dalam buku ini tidak selalunya bertema perang, tetapi juga menyentuh ranah kemanusiaan, fanatisme, pengorbanan, harapan, dan melawan ketidakadilan/ketimpangan sosial.


Tidak ada nada-nada penjajah Belanda yang menindas pribumi, yang rasis, maupun ingar bingar revolusi juang 45 atas nama kemerdekaan sebagaimana buku-buku sejarah dalam banyak versi. Tidak. Ketiga belas cerita ini jauh-jauh dari perspektif tersebut. Dengan menggunakan sudut pandang liyan: orang Belanda, penulis menyajikan perdebatan-perdebatan antara mereka-mereka sendiri, menyadarkan bahwa ada orang Belanda yang ikut berjasa dalam kemerdekaan, pribumi tidak selamanya pihak tertindas, toh ada juga yang memutar arah bersekutu dengan penjajah, memeras sesamanya. 


Seperti permen nano-nano, itulah yang akan dirasakan pembaca usai membaca buku ini. Ada Kalabaka yang mengentak dengan masih adanya nurani dari seorang Belanda pada saat pembantaian di Kepulauan Banda. Tegak Dunia debat kusir bumi datar vs bumi bulat, bukti mabuk agama sudah ada sejak dulu, Ges. Teh dan Pengkhianat begitu menggigit dengan sosok pribumi yang berada di pihak Belanda, mengkhianati tumpah darahnya.Variola, masih mabuk agama juga, tetapi kali ini perihal wabah dan antivaksin. Sebutir Peluru Saja yang menghadirkan dilema Belanda dan kegetiran pribumi yang merampas hak pribumi lainnya demi perkebunan gula. Lazarus Tak Ada di Sini begitu adem dengan dialog seorang letnan, jelang kematiannya, mempertanyakan kepantasan dirinya diterima oleh Tuhan sebab telah membunuh banyak orang kepada seorang pastor. Kutukan Lara Ireng yang menyajikan drama opium yang mencengangkan. Di Atas Kereta Angin mengurai pelabelan status sosial Belanda-pribumi perihal busana dan kendaraan. Belenggu Emas mengenalkan Roehana Koeddoes dan keresahan yang dirasakan oleh perempuan Belanda. Nieke de Fliender mengupas tuntas jurnalisme investigasi dan skandal seorang yang berpengaruh. Tawanan mengubah sudut pandang ketika seorang Belanda yang menjadi pihak tertawan. Indonesia Memanggil menggelorakan kemanusiaan di atas warna kulit dan penjajahan, dan Semua Sudah Selesai, berlatar dunia bakery dan upaya adaptasi usai kemerdekaan. 


Sebagaimana yang sudah saya sampaikan sebelumnya, pembaca akan banyak sekali mendapatkan pemahaman atas sejarah serta isu sosial ketika zaman kolonial. Dari ketiga belas cerita pendek tersebut, mana yang saya suka? Saya kepincut dengan salah empat: Kalabaka, Teh dan Pengkhianat, Lazarus Tak Ada di Sini, serta Belenggu Emas. Namun, kalau soal twist, saya suka Kutukan Lara Ireng. Loh, banyak ternyata, wkwkwk.


Ditulis dengan gaya yang halus, diksi sederhana dan mudah dipahami, pembaca akan menjelajahi kisah sejarahnya tanpa terkesan kaku atau njlimet. Paling banter yang bikin batin keseleo itu saat cara membaca nama orang-orang Belanda. Soalnya saya merasakan begitu, hahaha. Oh, iya, ada selipan ilustrasi arsiran di tiap-tiap kisahnya yang memanjakan mata sekaligus mendukung imajinasi cerita.


Teh dan Pengkhianat, merupakan kumpulan cerita yang membantu mempelajari sejarah bangsa dengan cara yang sangat menyenangkan sekaligus meletakkan perspektif baru untuk menghindari penyederhanaan kolonialisme Belanda.


Tertarik membacanya?


•••


Kutipannya:

Tak ada lagi pakaian warna-warni yang membuat mata segar. Sekarang semua serba hitam-putih. Topi hitam, kerudung putih, gaun hitam, karena manusia harus hidup sederhana menurut kesederhanaan Sang Penebus, begitu kata mereka. Seluruh bagian tubuh pun terutup rapat. Lalu mereka menebar ancaman neraka bagi pelanggarnya. Di lain waktu, berjenis larangan itu justru dijadikan alat fitnah. (Kapten Van de Vlek, Tegak Dunia, halaman 22)


… kadangkala dunia jauh lebih menarik dibandingkan yang dibayangkan secara kaku dari balik meja atau ruang rapat pemuka agama. (Tuan Gewetensvol, Tegak Dunia, halaman 29)


Pengkhianat tetaplah pengkhianat, (Aku/Kapten Simon Vastgebonden, Teh dan Pengkhianat, halaman 40)


Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akan sehat. Pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar. Aku yakin sebelum maju perang orang-orang itu juga berdoa, mohon kejayaan dan keselamatan bagi dirinya. Bisakah akal sehat menerima? Berdoa untuk membunuh. (Aku/Van Knecht, Lazarus Tak Ada di Sini, halaman 66)


Tengok warna baju dan makanan kita sehari-hari. Bukankah kita juga mengistimewakan satu warna atau cita rasa tertentu dibanding yang lain? Ada yang hanya suka roti dan keju untuk sarapan. Ada yang tidak bisa hidup tanpa nasi. Ada yang tergila-gila warna biru untuk baju, celana, bahkan sofa rumahnya. Kita hidup dalam diskriminasi. (Alfons Rijkeman, Nieke de Flinder, halaman 121)


Kalian harus tahu, mental bumiputra seperti kanak-kanak. Pemalas. Manja. Takkan mampu berdiri sendiri tanpa bantuan kita. Mereka akan menyia-nyiakan sumber alam yang sangat besar ini tanpa diolah menjadi apa pun yang bermanfaat bagi kehidupan. Persis seperti yang dilakukan nenek moyang mereka sebelum kedatangan orang Eropa. (Aku/Letnan Halfslachtig, Indonesia Memanggil, halaman 146)


Aku membayangkan, seperti apa mereka yang tanah airnya dikuasai bangsa lain selama ratusan tahun? Menjadi budak di negeri mereka sendiri." ((Mantan) Prajurit James Grisjman, Indonesia Memanggil, halaman 152)




You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts