Para Peziarah yang Aneh: Dua Belas Kisah Tentang Para Pengelana di Tanah Asing
Januari 15, 2025Identitas buku:
Judul: Para Peziarah yang Aneh
Judul asli: Strange Pilgrims
Penulis: Gabriel Garcia Márquez
Penerbit: BASABASI
Tahun: 2017
Jumlah:264 halaman
ISBN: 9786026116055
Kategori: kumpulan cerpen, fiksi,
•••
Blurbnya:
Dua belas kisah luar biasa dalam buku ini ditulis oleh seorang penulis kenamaan Amerika Selatan, Gabriel García Márquez, pemenang hadiah Nobel Sastra 1982 dengan karya yang sangat terkenal, One Hundred Years of Solitude. Ia juga mengarang buku terlaris internasional, Love in the Time of Cholera. Kisah-kisah tersebut berlatar belakang Eropa kontemporer, menceritakan pengalaman-pengalaman ganjil dan menakjubkan yang menimpa orang-orang Amerika Latin yang berkunjung atau tinggal di luar negeri.
Sekali lagi, lewat karyanya yang menegangkan ini, Gabriel García Márquez mengajak kita ke dalam dunia yang indah dan magis, yang akan membuat kita tak berhenti terpesona.
Gabriel García Márquez lahir di Aracataca, Colombia, 1928. Dia melanjutkan studi ke University of Bogota dan kemudian bekerja sebagai reporter untuk surat kabar Kolombia El Espectador dan sebagai responden asing di Roma, Paris, Barcelona, Caracas, dan New York. Ia menulis banyak novel dan kumpulan cerita pendek, termasuk di antaranya adalah No One Writes to the Colonel and Other Stories, One Hundred Years of Solitude, The Autumn of the Patriarch, Innocent Erendira and Other Stories, In Evil Hour, Leaf Storm and Other Stories, Chronicle of a Death Foretold, Love in the Time of Cholera, and The General in His Labyrinth.
•••
Resensinya:
Saya kerap kali mendengar nama Gabo—panggilan akrab Gabriel Garcia Márquez—mengemuka dari beberapa penulis Indonesia—seperti A.S. Laksana atau Eka Kurniawan—sebagai salah satu penulis dunia yang direkomendasikan untuk dibaca karyanya sebab piawai mengatur struktur cerita, mengemas detail, dan mengusung unsur realisme magis dalam kisah-kisahnya. Sebenarnya saya penasaran sudah lama, tetapi baru berkesempatan membacanya sekarang dan saya memutuskan mengawalinya dari kumpulan cerpennya terlebih dahulu sebelum ke karya-karyanya yang lain. Ya, buku ini merupakan perkenalan pertama saya dengan Gabo.
Para Peziarah yang Aneh merupakan kumpulan cerita pendek, menurut penuturan Gabo dalam prolog buku ini, ditulis pada tahun 1970-an selama delapan belas tahun terakhir dan lima di antaranya adalah catatan jurnalistik, naskah drama, dan serial televisi.
Dalam buku ini, para peziarah bukanlah mereka yang hendak mendatangi pemakaman. Bukan. Para peziarah yang dimaksud adalah ekspatriat Amerika Latin dari berbagai latar belakang dan lapisan masyarakat yang berbeda di Eropa—terutama Barcelona, Spanyol, Paris—karena berbagai alasan, entah sebagai turis, eksil, imigran, dan lainnya. Singkatnya, buku ini mengeksplorasi pengalaman-pengalaman orang-orang Amerika Latin yang tengah berada di tempat asing dan terasing. Gabo ingin memperlihatkan kepada pembaca bagaimana mereka hidup di negara asing dengan budaya yang berbeda dengan berbagai permasalahannya masing-masing. Gabo mengajak pembaca menyelami karakter mereka dan menangkap perasaan gegar budaya, keterasingan, dan kerinduan dalam perjalanan kisahnya masing-masing.
Kedua belas cerita ini memiliki keragaman tema: pengasingan, keputusasaan, ketakutan, kesepian, kepercayaan, kematian, cinta, nafsu, sampai masa lalu.
Adapun kedua belas ceritanya yakni:
Bon Voyage, Tuan Presiden
Seorang presiden yang digulingkan menjalani perawatan medis di Jenewa dan menjalani kehidupan miskin di sana. Setelah operasi dilakukan, dia berencana untuk kembali ke negaranya sebagai pemimpin gerakan reformasi hanya karena tidak sekadar mati tua di atas ranjang.
Orang Suci
Berlatar di Roma, kisah seorang ayah yang terus menanti meski telah dua puluh dua tahun berjuang agar jasad putrinya yang telah meninggal dan masih utuh bahkan tercium wangi mawar segar mendapatkan pembuktian sah sebagai orang suci.
Putri Tidur dan Pesawat Terbang
Seorang laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang perempuan di bandara karena kecantikannya. Keduanya ternyata duduk bersebelahan di dalam pesawat. Mereka tidak saling bercakap-cakap. Saat sang perempuan tertidur, laki-laki tersebut menatapnya dan membayangkan percintaan lagi keintiman yang terjadi di antara mereka. Satu sisi saya menganggap ini seperti kisah cinta tidak terbalas, tetapi di sisi lain terasa menyeramkan jika ada orang asing sedang memandangi kita yang terlelap dengan pikiran-pikiran romantisnya.
Kujual Mimpi-Mimpiku
Tentang akhir hidup Frau Frieda yang memiliki kemampuan bernubuat melalui mimpinya dan menjadi pembaca nasib sehari-hari keluarga Duta Besar Portugal.
“Aku Datang Hanya untuk Memakai Telepon”
Berawal dari mobilnya yang mogok, Maria de la Luz Cervantez mencoba meminta bantuan untuk menghubungi suaminya dengan meminjam telepon malah terjebak dan berakhir di rumah sakit jiwa. Bahkan saat dia berulang kali meyakinkan penjaga dirinya tidak gila malah dianggap terobsesi dengan telepon. Di lain pihak, sang suami menyangka Maria berselingkuh.
Hantu Bulan Agustus
Sebuah keluarga berkunjung ke kastil berhantu milik temannya di Tuscany dan menginap di sana. Saat pasangan suami istri terbangun keesokan harinya, mereka mendapati berada di ruangan yang berbeda, di sebuah kamar tidur yang seprainya basah oleh darah hangat di ranjang yang pernah digunakan oleh pendiri kastil untuk membunuh kekasihnya berabad-abad lalu.
Maria dos Prazeres
Seorang pensiunan pelacur yang mendapat penglihatan kematian dirinya tengah merencanakan tempat peristirahatan terakhirnya. Dia mulai melatih anjingnya melakukan perjalanan ke kuburan untuk mengunjungi dan mengenali makamnya dan membiasakan menangis di atas nisan kosong setiap hari Minggu. Suatu hari saat hujan, dia mendapat tumpangan dari pemakaman untuk pulang ke rumah dan menyadari kalau dirinya telah membuat kesalahan dalam menafsirkan penglihatannya.
Tujuh Belas Orang Inggris Tewas Keracunan
Seorang perempuan religius yang bermaksud menemui paus, menginap di sebuah hotel satu lantai dengan tujuh belas orang Inggris yang kemudian hari meninggal karena keracunan sup tiram.
Tramontana
Kisah tentang dahsyat dan mengerikannya angin darat, Tramontana. Angin tersebut menjadi momok menakutkan dan dipercaya membawa kematian bagi masyarakat Cadaques, sampai-sampai seseorang memilih kematiannya sendiri daripada harus bertemu Tramontana.
Kebahagiaan Musim Panas Nona Forbes
Dua anak laki-laki menghabiskan liburan mereka bersama pengasuh asal Jerman, Miss Forbes. Karena tidak betah dengan perlakuan buruknya, dua anak tersebut bermaksud membunuh Miss Forbes dengan racun. Merasa yakin telah mati, mereka pun pergi bermain, tetapi saat keduanya kembali ke rumah, polisi mengatakan jika Miss Forbes tidak mati karena racun melainkan luka tusukan.
Cahaya Laksana Air
Akhir tragis anak-anak yang mencoba berlayar menggunakan perahu di apartemen. Mereka memecahkan bohlam yang menyala dan darinya keluar pancaran cahaya keemasan seperti air yang mengalir sampai hampir tiga kaki. Mereka mengarungi lautan cahaya dan tenggelam karenanya.
Jejak Darahmu di Salju
Dalam perjalanan berbulan madu ke Eropa, jari pengantin perempuan tertusuk mawar dan terus mengeluarkan darah hingga dirinya dirawat di ICU sebuah rumah sakit di Paris. Sementara sang pengantin laki-laki diperbolehkan menjenguk pada jam kunjungan satu minggu sekali setiap hari Selasa. Sepekan kemudian, dia tidak menemukan istrinya, dan saat bertanya kepada dokter dia mendapati sang istri meninggal kehabisan darah setelah enam puluh jam upaya tanpa membuahkan hasil.
Dari kedua belas cerita ini saya menyukai Kujual Mimpi-Mimpiku dan Jejak Darahmu di Salju.
Kisah-kisah dalam Para Peziarah yang Aneh ini dalam pandangan saya membicarakan hubungan antarmanusia dan berbagai persoalan sosial, seperti kemanusiaan, politik, mistisme, hingga struktur kekuasaan dan ketidakadilan bagi masyarakat. Tidak cukup, Gabo juga mengaduk-aduk emosi melalui pertentangan antara harapan dan kegagalan dalam waktu bersamaan dan hingga pada titik terakhir, Gabo memberikan pesan untuk terus berjuang sekalipun mengalami kemalangan. Setidaknya orang akan mengingat sebagai sosok yang pantang menyerah sampai akhir.
Pada akhirnya kita semua adalah peziarah, pengembara dalam hidup kita sendiri, yang tengah melakukan perjalanan untuk mendapatkan esensi kehidupan yang bahkan sering kali terlihat aneh dalam pandangan sendiri. Bagaimana kita bergerak, menavigasi perjalanan asing yang tidak pernah kita ketahui apa yang bakal terjadi. Yah, begitulah hidup. Selalu ada tantangan, ada penemuan, ada kemenangan, ada kegagalan dan lainnya yang tidak terhitung lagi jumlahnya. Layaknya peziarah yang aneh, manusia bakal terus melalui jalur kehidupan untuk belajar dan berkembang di antara kisah-kisah yang sesekali aneh atau unik pula.
Melalui narasi realisme magis, Gabo mampu menuliskan kejadian-kejadian nyata sehari-hari dalam suasana aneh dan fantastis sehingga segala sesuatunya terlihat mungkin dan meyakinkan. Kemampuan Gabo memadupadankan elemen fantasi dan supernatural dengan kehidupan sehari-hari begitu mumpuni sehingga ada perasaan ganjil menyertai bahkan setelah menamatkan buku ini.
Cerita-ceritanya pun memiliki panjang yang tidak sama, ada yang berlembar-lembar, tetapi ada pula yang beberapa lembar. Saya akui, tidak semua cerita dalam kumpulan cerpen ini bisa saya nikmati dengan baik meski diksi yang digunakan terbilang sederhana dan mudah dipahami, beberapa ada yang biasa-biasa saja, datar. Namun, saya tetap menyukai cara Gabo mengemas buku ini melalui kisah-kisahnya maupun karakternya, termasuk bagaimana mengemas sebuah cerita tragedi menjadi tetap asyik dibaca.
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Dalam menulis tak ada kata puas dan bisa begitu menguras tenaga. (Prolog. Hal. 9)
Baru setelah itu aku mengerti bahwa kematian juga berarti hilangnya momen kebersamaan dengan teman-teman. (Prolog. Hal. 10)
Sulit baginya untuk percaya betapa waktu bisa mengakibatkan begitu banyak kerusakan tidak hanya pada dirinya, tapi juga pada dunia. (Bon Voyage, Tuan Presiden. Hal. 19)
Dia lalu meletakkan jari telunjuk di pelipisnya sendiri dan menjelaskan dengan saksama: “Tepatnya, Tuan Presiden, semua rasa sakit datangnya dari sini.” (Bon Voyage, Tuan Presiden. Hal. 21)
Ketika berkaitan dengan presiden, aib paling buruk pun bisa jadi benar dan salah di saat yang sama. (Bon Voyage, Tuan Presiden. Hal. 43)
Ada cinta yang berumur pendek, dan ada yang berumur panjang. (“Aku Datang Hanya untuk Memakai Telepon”. Hal. 118)
.webp)
0 Comments