Esther Bunny: Tidak Perlu Menjadi Orang Lain Demi Disukai
Januari 11, 2025Identitas buku:
Judul: Esther Bunny, Jangan Sampai Kau Kehilangan Dirimu
Penulis: Esther Kim
Penerbit: POP (KPG)
Tahun: 2023
Jumlah: xii + 233 halaman
ISBN: 9786024819453
Kategori: nonfiksi, pengembangan diri
•••
Blurbnya:
"Disayangi semua orang memang mustahil, tapi kita selalu bisa menyayangi diri sendiri."
Cobalah jadi diri sendiri di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi apa pun.
•••
Resensinya:
Kalau saya pikir-pikir, saya ini termasuk yang sangat jarang sekali baca buku pengembangan diri dibandingkan dengan menamatkan buku nonfiksi lainnya. Bukan berarti saya sudah sangat pede dan yakin atas kehidupan dan tidak perlu memotivasi diri lagi untuk menuju kesuksesan atau kemapanan atau kebahagiaan. Bukan begitu. Ini hanyalah masalah selera, hahaha. Akan tetapi, karena saya ingin mencoba sesekali icip-icip buku pengembangan diri karya orang luar Indonesia, maka saya berani menuliskan nama saya dalam daftar bookmail keliling pada grup bookstagram yang saya ikuti.
Saya sangat meyakini bahwa dalam kehidupan saya maupun Anda, pasti ada satu titik ingin meraih kesuksesan atau kemapanan, dan untuk menuju ke situ perlu motivasi untuk mencapainya. Dalam proses tersebut, sudah barang tentu saya dan juga Anda bakal melakukan perubahan diri ke arah yang pastinya lebih baik lagi.
Secara tidak langsung maupun langsung, melalui buku-buku pengembangan diri, saya–mungkin juga Anda–akan menghubung-hubungkan apa yang tertulis dalam buku tersebut dengan kehidupan yang saat ini sedang dialami. Seandainya saya tengah merasakan kegalauan akut maka membaca buku pengembangan diri memungkinkan menemukan jalan keluar. Atau katakanlah secara umum, dengan membaca buku-buku sejenis semacam itu akan melatih diri menghadapi tembok besar dalam diri sendiri dan bersiap untuk keluar dari zona nyaman dengan daya tahan yang terpupuk baik melalui kalimat-kalimat buku tersebut.
Buku pengembangan diri itu banyak. Saking banyaknya sampai-sampai kalau dibaca bakal tidak ada habisnya. Saran saya, sih, cukup: baca, pahami, praktik, dan evaluasi. Karena percaya tidak percaya, jumlah mereka itu banyak banget dan berapakah yang berdampak signifikan?
Baiklah, itu sedikit pandangan saya perihal buku pengembangan diri. Jika memang nyaman dengan bacaan nonfiksi khususnya pengembangan diri, ya, silakan saja. Jika tidak juga enggak masalah. Ini hanya masalah selera saja.
Oke, kali ini saya akan meresensi buku Esther Bunny.
Esther Bunny merupakan buku pengembangan diri yang berpusat pada ‘Siapakah aku?’ yang kemudian berkembang menjadi pemaknaan terhadap identitas diri: bagaimana pembaca bisa berkembang, selalu berpikir positif, dan yang terpenting adalah penerimaan dan mencintai diri sendiri. Melalui karakter kelinci yang lucu–atau menggemaskan di sebagian besar orang–membuat buku ini terlihat manis.
Penulis ingin memvisualisasikan bahwa Esther Bunny itu tidak sekadar kelinci yang ceria, ekspresif, gaul, tetapi bisa juga menginspiratif melalui kehidupannya yang kadang bahagia, pahit, dan kesepian. Sama seperti manusia, pembaca pun direpresentasikan sebelas dua belas.
Terdiri atas empat bab: 1) Hari ini aku memilih kebahagiaan, 2) Hidup tidak selamanya pahit, 3) Hari yang menyenangkan meskipun sepi, dan 4) Aku sayang diriku; yang membahas perihal kebahagiaan, pahitnya hidup, kesepian, dan mencintai diri sendiri yang masing-masing bab diwakilkan oleh kepribadian Esther Bunny yang berbeda-beda pula: Ribbon Bunny yang menyukai hal-hal imut dan fashion; Rose Bunny yang banyak memperhatikan orang lain dan sangat peka; Yellow Bunny yang workaholic, berpikiran negatif, dan keras pada dirinya; dan Bunny lainnya.
Seperti judulnya: Esther Bunny, Jangan Sampai Kau Kehilangan Dirimu; lebih banyak menuliskan kalimat-kalimat pendek lagi positif dan penuh semangat dengan ilustrasi kelinci lucu di sepanjang halaman dari awal hingga akhir buku. Dalam pandangan saya, lembar-lembar halamannya yang berwarna pastel dapat memberikan inspirasi dan kesan untuk tetap terus mengenali diri, mencintai diri, dan lebih banyak mendengar apa keinginan diri (bukan dalam konteks egois, ya) sehingga pembaca tidak bimbang atas identitas diri yang sesungguhnya.
Cara-cara yang diberikan penulis termasuk sederhana, yakni dengan mencari tahu apa yang kita sukai, berani mengatakan tidak pada yang tidak kita senangi, jangan mengabaikan kebahagiaan diri, tidak selalunya memahami orang lain atau bersepakat dengan orang lain, mengenali batasan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah ada kalanya istirahat untuk menenangkan jiwa dan raga. Sesungguhnya, ini bukanlah hal yang baru kalau menilik bacaannya merupakan buku pengembangan. Sebagian besar pasti kerap mendapatinya dalam internet atau tontonan atau kelas motivasi atau buku-buku lain yang sejenis hanya beda judul dan penerbitnya saja, hahaha.
Akan tetapi, jika mencari bacaan motivasi dengan kalimat pendek, ringan, lembar-lembar halaman berwarna ceria, penuh dengan ilustrasi kelinci lucu, maka buku ini bisa jadi menjadi tepat dan mampu membangkitkan semangat.
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Memang penting untuk memimpikan masa depan, tapi lebih penting bertanya pada diri sendiri apakah saat ini kita bahagia atau tidak. (Halaman 26)
Hanya aku yang mampu mengisi kehidupanku. Meski tidak sempurna, diri kita adalah karya seni yang tiada duanya. (Halaman 48)
Hubungan manusia adalah misteri karena mustahil dipahami. Jangan terlalu berusaha memahami lawan bicara kita. Setiap lawan bicara kita memiliki keunikannya masing-masing. Kita tak perlu selalu mengerti dan menyetujui lawan bicara kita. Daripada berusaha memahami orang lain, lebih baik kita belajar cara menjaga kebahagiaan dan kedamaian diri sendiri. (Halaman 59)
Aku terbiasa berolahraga untuk membersihkan isi kepalaku yang terlalu rumit dan agar aku bisa kembali fokus. (Halaman 67)
Aku mencintai orang-orang, namun aku juga perlu ruang untuk diriku sendiri. (Halaman 95)
Cara mengisi ulang energi itu sederhana. Untuk mendapatkan energi, kita perlu beristirahat. Kegiatan hari ini: Istirahat. (Halaman 170)
.webp)
0 Comments