Lengking Burung Kasuari: Keseharian Perantauan di Tanah Papua, Awal Bergabung dengan RI
Januari 17, 2025Identitas buku:
Judul: Lengking Burung Kasuari
Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Penerbit: GPU
Tahun: 2017
Jumlah: 224 halaman
ISBN: 9786020339825
Kategori: Pemenang DKJ 2016, novel, fiksi, penggalan hidup
•••
Blurbnya:
“Tukang potong kep sedang mencari kepala anak-anak.”
Aku bergeming. Tak merasa perlu gemetar seperti ketika pertama kali mengetahui kep itu artinya apa. “Ah, yang macam beginian cuma cerita omong kosong saja,” aku menyahut begitu dengan nada tak acuh.
Sendy jadi tersinggung. Ia mendelik, mengangkat kepalanya, dan memelototiku,
“Baik, kalau tidak percaya. Coba saja kalau tidak percaya. Lihat akibatnya nanti.”
“Jembatannya sudah jadi. Tidak perlu lagi kepala anak-anak,” aku menantangnya.
“Perlu kepala anak-anak,” Sendy ngotot. “Tetap perlu.”
“Mau ditanam di mana lagi?”
“Di bawah jembatan. Memang mau di mana lagi?”
“Kenapa kamu tidak takut sama dia?” tanyaku. “Kamu anak-anak juga, sama seperti aku.”
“Tidak sama. Tukang potong kep suka kepala anak-anak berambut lurus.”
***
Dibuka dengan ‘tukang potong kep’, kisah tentang tentara Jawa dan keluarganya yang tinggal di Papua tahun 1970 mengalir dari sudut pandang anak berusia tujuh tahun. Asih, tokoh utama dalam cerita ini, dengan berani sekaligus lugu, memotret kehidupan Jayapura, Papua di awal masa integrasi. Dibalut kisah masa kecil yang menyenangkan, permasalahan domestik hingga politik ditampilkan oleh penulis tanpa mengurangi rasa manis kehidupan anak-anak hingga akhir cerita.
•••
Garis besarnya:
Berkisah tentang kehidupan keluarga tentara yang pindah ke Irian Jaya (sekarang Papua) setelah wilayah tersebut bergabung dengan NKRI sekitar tahun 1970-an. Asih dan keluarga—Bapak, Ibu, dan Tuti, adiknya—tinggal bersama dengan keluarga tentara-tentara Jawa lainnya: Tante Bahar dan Tante Tamb. Ada pula Sendy, penduduk pribumi Papua sekaligus teman baru Asih yang keluarganya memiliki pohon kersen di atas kandang babi yang juga menjadi tempat tinggal seekor burung kasuari.
Kisah pun dimulai dengan pertemanan Asih dengan Sendy dan pembicaraan perihal tukang potong kep: seorang laki-laki, tinggi besar, hitam dan keriting, yang membawa parang ke mana-mana, memburu kepala anak-anak untuk ditanam di bawah jembatan. Kemudian cerita pun bergulir pada upaya Asih dan keluarganya beradaptasi di tempat yang baru tersebut.
•••
Resensinya:
Sebagai pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ 2016 dan peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, Lengking Burung Kasuari dalam pandangan saya merupakan novel tanggung. Buku ini lebih banyak memotret sepenggal lika-liku kehidupan Asih dan keluarganya selama tahun-tahun pertama tinggal di kompleks tentara yang sederhana lagi biasa-biasa saja meskipun pada tahun yang sama (1970-an) tanah Papua masih penuh gejolak setelah menyatakan bergabung dengan NKRI.
Apakah kurang menarik? Nah, ini letak tanggungnya. Saya menyukai narasi-narasi perihal kehidupan sehari-hari Asih, yang sekolah, bermain, belajar, dst. itu membangkitkan kenangan masa kecil saya yang serupa (meski saya tidak sampai merantau ke mana-mana). Ya begitulah memang kesehariannya bocah tujuh tahun. Tidak saya, tidak pula pembaca. Rata-rata, alias sebagian besar merasakan demikian. Yang saya kurang suka itu kisahnya tidak tuntas.
Baik. Akan saya bahas.
Lengking Burung Kasuari merupakan novel yang menggunakan sudut pandang orang pertama (aku) yakni seorang anak berusia sekitar tujuh tahun bernama Asih. Bersama keluarganya, Asih boleh saya katakan sebagai representasi penduduk luar Papua (tepatnya Jawa) yang merantau karena pekerjaan sang kepala keluarga.
Menggunakan Papua sebagai latar cerita, kisah Asih menggambarkan bagaimana perantauan harus mampu bertahan hidup dalam keterbatasan dan keterasingan Papua, kala itu. Tidak sekadar piawai mendedah realita domestik saat itu, Nunuk pun menyelipkan kemajemukan penghuninya dan muatan-muatan sosial di dalamnya, salah satunya tentang toleransi beragama.
Seperti mesin waktu, Nunuk mengajak pembaca untuk merasakan lama waktu yang harus ditempuh dari Jawa ke Papua menggunakan kapal, sulitnya mendapatkan bahan pangan, mahalnya harga-harga, sedikitnya pendapatan tentara, sempitnya rumah, minimnya perabotan, serta nuansa culture shock lainnya yang tertutup rapat, tetapi semua orang bisa merasakan ada garis tebal yang memisahkan.
Tidak cukup, Nunuk pun menunjukkan seni bertahan hidup melalui sosok Ibu Asih yang ngeyelan, tetapi memiliki otak bisnis sehingga penghasilannya mampu mencukupi kebutuhan harian mereka; memperlihatkan seorang Ayah Asih yang tangguh dan penyayang, tetapi sungkan dengan tetangga khas orang Jawa; juga keseharian sekolah-bermain-belajar Asih dan adiknya yang itu-itu saja, tetapi dalam beberapa adegan nuansa kesepian akibat rumah kosong dan kerinduan melanda sebab sang ibu berdagang di tempat yang jauh sangat menyesakkan atau keceriaan terbangun tatkala ibunya di rumah pada siang hari serta tenang mendengarkan dongeng sang ayah sebelum tidur (bayangkannya dalam kacamata bocah, ya). Ah, perihal bertetangga pun Nunuk merekamnya melalui empat keluarga saja dalam novel ini. Namun, tingkah-tingkah orang dewasa ini memperlihatkan bagaimana norma-norma sosial di dalamnya cukup teruraikan dengan baik.
Hal-hal semacam itulah yang turut mengingatkan saya pada masa kecil. Dulu. Termasuk sewaktu tidak cocok dengan teman bermain, dikejar-kejar binatang peliharaan, naik pohon untuk menikmati kersen, ketidaknyamanan karena tetangga suka main ancam atau seenaknya main suruh-suruh. Dan sebagaimana penuturan dalam novel, Nunuk memang tengah menarasikan kenangannya sewaktu kecil di Papua. Saat Papua bergabung dengan Indonesia.
Ngomong-ngomong ada salah satu isu yang mengemuka dalam novel ini, yakni tentang kesehatan. Saya tertawa saat membacanya. Tentang Ibu Asih yang teringat sewaktu mengandung Asih lantas oleh Simbah Putri (atau ibunya) untuk tidak mengonsumsi telur ayam karena nanti bayinya bisa inilah, jangan makan daging ayam karena nanti bayinya bisa itulah, jangan minum susu karena nanti bayinya onolah, dst. Saya mendadak jadi teringat semangat Indonesia mencegah stunting, dan memang di banyak tempat di belahan Indonesia, persoalan gizi buruk serta angka kematian ibu dan bayi masih menjadi perhatian utama. Bukan begitu?
Kalau tadi saya menyampaikan hal menariknya, sekarang yang membuat saya merasa novel ini tanggung.
Memang, novel ini tidak memiliki konflik yang besar atau rumit. Bahkan dalam pandangan saya malah tidak ada alias biasa-biasa saja. Saya memaklumi karena tokohnya adalah anak-anak. Sudut pandangnya masih terbatas. Buku ini benar-benar hanya kisah anak yang menjalani hidup dan memandang dunia dalam kacamatanya. Konflik dengan tetangga pun tetap tersampaikan dengan kesederhanaan ala anak-anak dan selesai menurut perspektif anak-anak, ala Asih.
Saya merasakan novel ini hambar. Kisahnya monoton dan sangat datar. Bahkan konklusinya kayak maksa. Ceritanya pun bergerak sangat-sangat lambat dan tidak ada konflik yang berarti.
Cerita tukang potong kepala pada blurb dan lembar-lembar awal tidak digali lebih dalam, melainkan langsung berbelok arah ke topik yang lain dan seterusnya sampai selesai novelnya. Hanya di awal dan di akhir, pun itu cuma sekadar tempelan saja. Burung kasuari pun bernasib tidak lebih baik. Ia kalah pamor dengan anak ayam peliharaan Asih. Entah analogi apa yang coba disematkan pada burung tersebut. Saya menduga-duga apakah itu seolah simbol untuk Papua yang kecantikannya tidak terjangkau kalau kita tidak mencoba mendekatinya. Papua yang bisa bereaksi dan melengking jika kita tiba-tiba mengganggunya. Entah dan entah. Bisa jadi demikian.
Saya selesai membaca bergumam, “Hah, itu aja? Serius?”
Hal lainnya yakni Nunuk selaku penulis terlalu banyak bersuara dalam novel ini. Dengan keterbatasan pengetahuan anak SD kelas satu plus yang tidak terlalu minat belajar, wawasannya terhadap hal-hal di sekitarnya terlalu luas dan dalam. Sangat tidak masuk akal Asih memahami hal-hal semacam itu.
Secara keseluruhan, Lengking Burung Kasuari dalam pandangan saya novel yang tidak buruk-buruk amat. Masih bisa dinikmati kalau ingin nostalgia dengan zaman kecil yang penuh keceriaan serta mengenal kerasnya hidup di perantauan Papua. Namun, untuk kisahnya sendiri cenderung main aman. Saya jadi tidak terlalu yakin untuk merekomendasikan buku, hahaha.
•••
Kutipannya:
Ada uang, ada barang. (Hal. 68)
Cetana itu kekuatan kehendak. Yang disebut dengan ‘kita’ ini digerakkan oleh kekuatan kehendak terus-menerus. Tanpa adanya cetana, tangan tak bergerak. Tanpa adanya cetana, kaki tak bergerak. (Hal. 111-112)
Lagian ini juga mau menyenangkan anak-anak. Keluar uang sedikit tidak apa-apalah. (Hal. 123)
Betapa capeknya berkomunikasi dengan orang yang suka marah-marah. (Hal. 145)
Jangan sering-sering tidak masuk sekolah. Biarpun kamu anak pintar. Kehadiran itu perlu. (Hal. 149)
.webp)
0 Comments