Curriculum Vitae: Fragmen Cinta yang Tidak Lazim
Januari 16, 2025Membaca Curriculum Vitae adalah pengalaman yang menantang sekaligus melelahkan, membungkus pengkhianatan dengan kalimat-kalimat yang begitu cantik.
Identitas buku:
Judul: Curriculum Vitae: Seratus Enam Urusan, Sembilan Puluh Perumpamaan, Sebelas Tokoh, Sepasang Kegembiraan
Penulis: Benny Arnas
Penerbit: GPU
Tahun: 2017
Jumlah: 213 halaman
ISBN: 9786020335834
Kategori: fiksi, roman
Pemenang Unggulan Sayembara DKJ 2016
•••
Blurbnya:
Sebuah benda bermassa 4000 kilogram akan diletakkan di atas gunung yang kemiringan tebingnya mencapai 59 derajat dengan cara dilempar oleh tangan kananmu yang malam tadi baru saja menyeduhkan teh-melati selama-5-menit untukku. Ini bukan perkara seberapa cepat lesatan lemparanmu sebab kamu pernah bilang, "Jarak dan waktu itu tempat tinggalnya bukan di peta, tapi di kepala dan … di sini!" (Kau menepuk dada kirimu berkali-kali. Dokter bilang itu tempat tinggal jantung, tentu saja aku bilang itu hati). Perkaranya … seberapa kuat aku akan menanggung beban rindu yang mengganggu, sedangkan di saat yang sama dengan air muka senewen ibuku bilang kalau pesanan kelapa dari luar kota sudah menumpuk (What! Ibu, tidakkah bisa kau bayangkan, seorang pencinta yang galau tengah memetik kelapa dengan air mata yang leleh dan masa lalu yang mencabik-cabik di punggung?). Bunuh saja anakmu ini, Bu! Bunuh!
•••
Resensinya:
Terus terang tidak mudah bagi saya untuk memahami Curriculum Vitae sebab novel yang meraih pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ 2016 ini memang tidak lazim atau tidak biasa … banget.
Curriculum Vitae, dalam pandangan saya, merupakan novel yang mengangkat kisah sederhana: kisah cinta dua insan dari awal bertemu, dekat, ada pertengkaran, berpisah, balik lagi, dan bersatu. Pasang-surut asmara. Namun jangan salah, cerita cintanya ini tentang dua orang yang sama-sama berselingkuh, hahaha. Laki-laki beristri bersama perempuan yang telah memiliki kekasih sampai keduanya menikah.
Tidak biasa yang saya temui berikutnya yakni berbeda dari novel kebanyakan yang menyuguhkan banyak narasi dan dialog yang berlembar-lembar, buku ini malah berupa fragmen-fragmen kecil, kumpulan bab-bab pendek (paling panjang mungkin empat halaman, lebih banyak satu bab satu halaman atau setengah halaman saja), bahkan ada yang serupa fiksi mini (flash fiction). Barangkali Benny Arnas hendak menyampaikan jika menyusun sebuah cerita tidaklah melulu harus secara deskriptif atau narasi panjang-panjang atau mendetail secara membabi buta. Namun, novel pun bisa bergulir melalui narasi singkat dan padat dan sederhana, asal tetap terjahit utuh dengan benang merahnya.
Selanjutnya novel ini berisi karakter-karakter tanpa nama. Hanya ada aku, kau, Fulan, Fulano, Fulani, dst. Tanpa ada identitas yang jelas. Kejadian-kejadiannya pun bergerak dalam sudut pandang orang pertama (aku) yang menuturkan rentetan kisah si aku bersama kau. Serupa maksud curriculum vitae yang meriwayatkan perihal diri sendiri, pun dalam novel ini tokoh utama (aku) mengisahkan tentang dirinya, perasaannya, profesinya, kegemarannya, sampai kejadian sehari-hari mereka melalui alur maju-mundur.
Tidak cukup karakter tanpa nama, Benny Arnas juga tidak memberikan latar yang pasti selain buku ini mengurai awal pertemuan hingga mereka memiliki anak. Kalau boleh saya katakan, novel ini minim konflik bahkan nyaris tidak ada. Tidak ada pergolakan dari pasangan masing-masing. Tidak ada drama mencari restu, dst. Mulus-mulus saja, lancar-lancar saja, lempeng-lempeng saja sekalipun aku dan kau ada perbedaan dan berpisah, tetapi pada akhirnya kembali bahkan menikah. Buku ini lebih banyak mengolah kemelut dan meletup-letupnya perasaan aku.
Nah, kekuatan utama buku ini justru pada metafora dan gaya bahasa Benny Arnas. Saya beberapa kali membaca cerpen-cerpen beliau dan memang Benny Arnas cenderung menonjol dalam menyusun bunga bahasa yang manis. Begitu pula dalam Curriculum Vitae yang memiliki ratusan metafora dengan kalimat-kalimat filosofis. Bahkan saking penuhnya saya merasa berlebihan di sejumlah bab dan tidak mudeng maksudnya apa meski sudah merenung dan membaca sekali lagi, hahaha.
Saya menyadari bahwa membaca buku ini tidak bisa dalam sekali duduk. Perlu perenungan lebih-lebih. Bisa jadi saya sedang terburu-buru makanya tidak terlalu menikmati novel ini dan di beberapa bab saya gagal memahami apa mau Benny Arnas sekalipun saya mengerti garis besar ceritanya maupun peristiwa atau situasi yang sedang dia sindir dalam Curriculum Vitae. Salah satu yang saya tidak mengerti yakni menggunakan bebek dan ayam sebagai metafora. Mungkin saja saya lebih menyukai tulisan-tulisan Benny Arnas dalam format cerpen. Atau barangkali saya perlu mencoba membaca novelnya yang lain sehingga bisa mengetahui apakah gaya tulisannya memang semacam ini atau berbeda.
Bagi yang ingin mendapatkan pengalaman membaca tidak biasa atau suka menafsirkan makna di balik tanda (baca: kata), buku ini bisa cocok. Namun, jika menyukai gaya bahasa yang apa adanya, novel ini jelas belum tentu cocok. Oh iya, buku ini juga diberi ilustrasi kece pada beberapa bab. Bagus sekali.
Jadi … tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Bila melahirkan janin manusia yang nyata-nyata merupakan metafora dari keberkahan dan kegembiraan saja sakitnya minta ampun, bagaimana sakitnya melahirkan kejahatan (baca: kebohongan)? Atau … dia memang manusia mahakuat hingga mampu menanggung segalanya dengan senyum manis dan lagak penuh pesona—meskipun ia sungguh menderita. (Sakit, hal. 17)
Ya, sejatinya tak ada orang yang mencintai pekerjaan mereka, apalagi sampai terlalu mencintai sebab bila memang mereka mencintainya atau bahkan terlalu mencintainya, mereka tak perlu membicarakan atau bahkan menanyakan atau bahkan minta-dinaikkan atau bahkan mengeluhkan gaji atau honor atau bayaran atas sesuatu yang namanya mencintai. (Mantra, hal. 31-32)
Mencintai tak pernah berkawan dengan kata “bayaran atau sejenisnya”. Mencintai berurusan dengan ketulusan dan perasaan tertarik atau mengagumi atau memiliki yang bukan materi, bukan uang. (Mantra, hal.32)
Baiknya kita tidak mencoba menjadikan diri orang lain sebagai dirimu, pun sebaliknya. (Basah, hal. 42-43)
Paling tidak bagiku; sekali lagi, bagiku ya; kau adalah salah satu dari segelintir orang baik yang pernah kukenal, kau adalah orang bertanggung jawab yang pernah membuatku terpukau-pukau. (Senja, hal. 68)
.webp)
0 Comments