Atavisme: Rangkaian Kegilaan yang Membuat kita Bertanya-Tanya

Januari 14, 2025

Membaca Budi Darma adalah perjalanan memasuki lorong gelap jiwa manusia yang penuh dengan keanehan dan kesuraman.

***


Identitas buku:

Judul: Atavisme

Penulis: Budi Darma

Penerbit: GPU

Tahun: 2022

Jumlah:176 halaman

ISBN: 9786020660653

Kategori: kumpulan cerpen, fiksi, 

•••


Blurbnya:

Keberadaan pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu mengusik hari-hari Henky van Kopperlyk. Dua penyanyi di stasiun bawah tanah, yang satu buta dan yang satu dapat melihat, tidak berhubungan secara darah, tapi takdir mengikat keduanya. Jebule belajar dari kisah para pemimpin besar dunia hingga menjadi presiden panutan sekaligus dibenci rakyat-rakyatnya. Tukang Cukur yang selalu hadir dalam setiap huru-hara dan dikabarkan suka mengguntingi kuping pelanggannya. Bik Rimang yang dielu-elukan justru setelah membunuh suaminya Jemprot, yang dibenci sebab kerap menghajar Bik Rimang. Atau suara pengumuman di bandara Amsterdam dengan bahasa etnik Jawa membawa ingatan pada Sandra Liangsi, yang menghilang setelah membunuh banyak orang.


Atavisme adalah kumpulan cerita pendek terakhir Budi Darma yang sekaligus menegaskan kepiawaiannya sebagai pencerita ulung. Keajaiban yang muncul dalam setiap cerita membawa kedalaman pada setiap karakter dan ceritanya. 


•••


Resensinya:

Terus terang, ketika memutuskan membeli buku ini saya sudah bersiap untuk tidak mudeng dengan cerpen-cerpen Budi Darma, hahaha, sebab pengalaman membaca Orang-Orang Bloomington tidak bisa sekali duduk untuk mencerna kisahnya. Benar saja. Saya sempat kesulitan, tetapi saya tetap bisa menikmati semua cerpen dalam kumpulan cerpen Atavisme ini. 


Sebelum memulai resensi, saya sampaikan dulu apa itu Atavisme—sama seperti lembar pertama dalam buku ini pun juga diberikan pengertiannya.

ata.vis.me / atavisme/

  1. pemunculan kembali sifat-sifat (ciri-ciri) pada seseorang yang sudah lama tidak muncul pada generasi yang sebelumnya

  2. adat kebiasaan kuno yang turun-temurun


Bagaimana, bingungkah membaca artinya? Kalau saya iya. Saya sampai berkali-kali membaca definisi atavisme untuk memahaminya, terutama poin nomor satu. Bingung? Sudah, abaikan saja. Daripada fokus ke persoalan tersebut, nanti malah jadi sulit tidur, hahaha.


Atavisme, diambil dari salah satu judul cerita dalam kumpulan 17 cerita pendek terakhir karya almarhum Budi Darma yang dihimpun oleh GPU yang sesungguhnya pernah terbit di berbagai media (seperti Kompas, Jawa Pos, hingga  MAJAS. Nanti ada halaman catatan publikasi cerpen tersebut terserak di harian apa saja) sejak tahun 2010 sampai 2021. Cerpen-cerpen dalam Atavisme ini tidak menawarkan hal baru—bagi penikmat karya beliau di cerpen koran Minggu yang bisa dibaca di Ruang Sastra, misal—sebab Budi Darma gemar menarasikan sisi gelap manusia dalam kisah yang serius, absurd, tetapi tetap menghibur. Meski demikian, membaca ulang cerpennya dalam buku ini saya rasa tetap menciptakan keasyikan, sebab, Budi Darma lihai dalam melukiskan karakter tokoh-tokohnya, tanpa mengesampingkan keutuhan serta kekuatan plot dan alur cerita. 


Dalam buku Atavisme, Budi Darma menyajikan cerpen-cerpennya dalam suara beragam sekaligus menawarkan absurditas para tokoh beserta nasib dan takdirnya melalui sejumlah kisah, yang beberapa di antaranya, bernuansa magis, dan mengandung komedi tragedi dalam semesta ceritanya masing-masing yang terentang sejak zaman kolonialisme sampai kemerdekaan. 


Yang menarik dalam kumpulan cerpen ini yakni selalu ada kematian di dalamnya seolah-olah Budi Darma tengah mencoba mengurai garis takdir yang menimpa psikologi tokoh-tokohnya dengan untaian kata-kata yang lincah, tetapi bisa menyentuh.


Adapun ke-17 cerita pendek yang ada dalam buku ini di antaranya:

  1. Pohon Jejawi, sebuah pohon gaib lagi angker yang dianggap keramat bagi pribumi telah menelan banyak korban orang Belanda pada masa kolonial. Henry van Kopperlink, wali kota baru yang ditugaskan di Surabaya bermaksud menyingkirkan pohon tersebut. Alih-alih berhasil dan menunjukkan superioritasnya, wali kota malah mengalami peristiwa memalukan di akhir cerita. Melalui Pohon Jejawi, Budi Darma ingin mengisahkan jika selain masyarakat pribumi, mistisisme Jawa mampu mengalahkan kolonialisme Belanda.


  1. Dua Penyanyi. Cerpen yang menguji ketelitian, sungguh! Budi Darma apik menuturkan cerpen melalui kisah yang nama-nama tokoh dan tempatnya seolah mirip satu dengan yang lain:  Latif Ariffin, Latif Arifin; Latifa, Latifah; Kandang Kerbau, Kandang Lembu. Mengangkat tema takdir kehidupan dua penyanyi yang tidak saling mengenal satu dengan yang lain dari awal kelahiran sampai kematian. Dua Penyanyi menitikberatkan pada konsep penerimaan takdir. 


  1. Presiden Jebule. Kisah seorang bocah kampung, Jebule, yang bisa menjadi presiden. Budi Darma menulis cerita tersebut seperti biografi singkat seorang pemimpin, sejak bagaimana dia dilahirkan sampai bagaimana harus lengser dari jabatannya. Dalam pandangan saya cerpen Presiden Jebule ini selain satire dengan salah satu pemimpin yang pernah berkuasa di Indonesia, juga menelanjangi habis-habisan cara-cara meraih kekuasaan dan melanggengkannya melalui tindakan tercela: menipu, bermain kata, menyiksa, diktator, dll.


  1. Darojat dan Istrinya. Kisah Darojat dan Driani, pasangan sukses yang tidak mengetahui alasan mereka menikah hingga memiliki anak bernama Triman. Budi Darma hendak mempertontonkan perilaku tidak yakin dengan keputusan yang telah dipilih pada akhirnya benar-benar tidak akan bersungguh-sungguh dalam perbuatannya. Berawal dari tidak memiliki alasan untuk menikah sampai tidak memiliki alasan memiliki anak dan berubah memiliki anak untuk main-main. Sepanjang cerita, sikap Darojat dan Driani sudah tidak memedulikan Triman juga begitu kejam dan keji terhadap anaknya, serta keduanya memiliki imajinasi liar dan brutal terhadap anak-anak. 


  1. Tukang Cukur. Berlatar konflik sosial politik di Kudus tahun 1948-1949 (dari serangan PKI, serbuan Pasukan Siliwangi, Agresi Belanda, penarikan tentara Belanda hasil KMB, sampai pemberontakan NII), Tukang Cukur menjadi cerpen fiksi sejarah tentang manusia yang mengamankan diri sendiri mengikuti siapa yang berkuasa/pemenang saat itu dan berakhir mati terbunuh sebagai pemberontak. Ketegangan demi ketegangan mendominasi kisah ini dan Budi Darma detail menuturkan kejadian, kondisi, dan tekanan para tokoh. Tema kemiskinan menguar pula dalam kisah ini.


  1. Tarom. Kisah perjalanan tokoh Saya yang bernama Tarom, ke Frankfurt, Jerman dan bersua dengan dua orang yang memiliki rahasia dalam keluarganya masing-masing. Saya memiliki dua pandangan perihal cerpen ini. Pertama, dalam setiap kejadian yang dilalui, tokoh Tarom menghubungkannya dengan lamunan atau ingatannya akan masa lalu. Campur aduk. Yang kedua, mengulik alasan psikologi seseorang memiliki karakter tertentu untuk menyembunyikan masa lalunya. 


  1. Lorong Gelap. Kisah kakak-beradik yang memiliki karakter berlawanan. Den Hardo, adik laki-laki yang penyayang keluarga; Delilah, kakak perempuan yang memiliki kebiasaan aneh, suka menindas dan menyiksa Den Hardo. Ketimpangan perilaku orang tua pun ditunjukkan dalam cerpen ini yang cenderung memprioritaskan Delilah ketimbang Den Hardo. Akhir ceritanya muram, sebab Den Hardo dituduh mata-mata oleh kakaknya sendiri—padahal Delilah yang tergabung dalam pemberontakan mahasiswa—dan harus dihukum mati. Yah, begitulah hidup, saya rasa di belahan bumi mana pun ada saja orang terdekat/terkasih/keluarga sendiri yang menjerumuskan kita, bukan?


  1. Tamu. Seperti judulnya, Tamu ini berkisah tentang seorang tamu yang usil lagi menyebalkan. Budi Darma tidak melewatkan manusia yang gemar mengolok-olok dan membenci menantu dan orang-orang yang tidak menyediakan kopi untuknya tatkala bertamu. Budi Darma memotret kebudayaan di masyarakat pada umumnya yaitu memperlakukan tamu seperti seorang raja dan melayani dengan senang hati.


Selain delapan cerpen tersebut, masih ada sembilan judul lainnya, yakni Bukan Mahasiswa Saya; Sang Pemahat; Suara di Bandara; Dujail; Atavisme; Sebuah Kisah di Candipuro; Prokol Budi Martoyo; Kita Gendong Bergantian; dan Kematian Seorang Pelukis.


Dua Penyanyi, Darojat dan Istrinya, serta Kita Gendong Bergantian membekas di hati saya. Ketiganya merupakan favorit saya dalam kumcer ini.


Dari kedelapan judul tersebuy, bagaimana, sudah mendapatkan gambaran atavismenya belum? 


Begitulah Budi Darma, dunia dalam cerpen-cerpennya aneh, tidak mementingkan logika, dan tidak berperasaan, tetapi di masyarakat jamak terjadi. Budi Darma enteng mengisahkan hasrat manusia yang berkelindan: kekerasan, kekejaman penguasa, penyiksaan, rivalitas, kehaluan, dst. yang sesungguhnya naluri atau sifat asli diri manusia (dan juga alam sekitar).

 

Barangkali kalau hendak menyisiri dengan mata terbuka bakal sulit, karena karakter satu manusia itu sendiri beragam, sedangkan Budi Darma hanya memotret salah satu sifat manusia yang campur-campur itu kemudian mengabadikan dan menonjolkannya lewat tulisan-tulisan. 


Buat yang senang menjelajahi dan memaknai kehidupan, buku ini cocok agar bisa wawas diri. Teruntuk penggemar Budi Darma, saya yakin sayang untuk dilewatkan. Yang ingin berkenalan pun bisa, tetapi kalau bingung dengan maksudnya apa, ya … baca saja dulu, lalu lain kali baca ulang dengan perlahan.


Tertarik baca?


•••


Kutipannya:

Bangsa Inlander ini akan sangat berbahaya apabila dibiarkan di luar kendali Belanda. Karena biadab dan malas, kalau dibiarkan, maka bangsa inlander akan menjadi bangsa yang korup, dan apabila dibiarkan terus, akan menjadi bangsa anarkis, yang kalau dibiarkan terus-menerus justru akan menghancurkan bangsa ini sendiri. (Pohon Jejawi, hal. 7)


Tidak seperti kebanyakan orang, memberi dengan harapan mendapat pahala setelah nyawanya dicabut oleh Malaikat maut, Jiglong memberi karena adalah kewajiban, (Sang Pemahat, hal. 19)


Dua orang yang berbeda bisa menjadi saudara bukan karena darah, tapi karena takdir. (Dua Penyanyi, hal. 30)


Dalam bertualang dia selalu memperhatkan satu hal: membaca. Membaca huruf, membaca perilaku manusia, binatang, dan juga, gejala-gejala alam. (Presiden Jebule, hal. 36)


… dia jomblo tanpa menyalahkan siapa pun. Kalau jomblo dianggap sebagai kesalahan, maka kesalahan itu terletak pada dirinya sendiri. (Bukan Mahasiswa Saya, hal. 83)





You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts