Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring: Bertumbuh Bersama Duka

Januari 20, 2025


Bagaimana kita merangkul duka, kecemasan, dan ketidakberdayaan layaknya kegiatan sesederhana membasuh piring kotor di wastafel.
•••

Identitas buku:

Judul: Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp. KJ

Penerbit: GPU

Tahun: Cetakan ke-6: 2024

Jumlah: 192 halaman

ISBN: 9786020674674

Kategori: nonfiksi, penggalan hidup, tutorial, memoar, pengembangan diri


•••


Blurbnya:

Ketika menyambut pasien yang sedang berduka, seorang psikiater akan menggali keilmuan yang dimiliki. Dia akan mengulik semua teori duka yang pernah dipelajari di masa kuliah dulu dan mengingat pengalaman dari pasien-pasien sebelumnya. Kemudian, dia menyintesis itu untuk membantu pasien yang sedang berduka di hadapannya.


Tapi, ketika Andreas—seorang psikiater—kehilangan anaknya, dia melakukan hal yang berbeda. Dia melemparkan semua teori tersebut ke luar jendela dan memutuskan untuk mencari makna tentang mengapa ini semua terjadi. Dalam pengalamannya, dia menemukan bahwa duka bisa dilalui dengan mencuci piring kotor yang menumpuk di dapur.


Buku ini adalah proses Andreas memaknai kehilangan besar dalam hidupnya. Diceritakan santai dengan tambahan sedikit bumbu humor gelap, buku ini memuat panduan bermanfaat yang langsung bisa diaplikasikan dalam hidup, seperti: “Tutorial Mencuci Piring”, “Tutorial Menyusun Puzzle”, dan tentunya “Tutorial Menerima Kematian Seorang Anak”.


“Hampir semua orang mempertanyakan: apa hubungannya antara duka dan mencuci piring? Jawaban saya adalah duka itu seperti mencuci piring, tidak ada orang yang mau melakukannya, tapi pada akhirnya seseorang perlu melakukannya.”


•••


Resensinya:

Terus terang saya membeli buku ini karena faktor: warna kover (oranye) dan ada gambar kucingnya, wkwkwk. Saat membaca judul maupun blurb, saya malah tidak mempertanyakan mengapa harus cuci piring, sebab perkara duka (atau kesedihan atau kehilangan atau perasaan yang serupa) setiap orang itu pasti berbeda-beda menyikapinya. Dan Dokter Andreas memilih mencuci piring. Kalau saya? Ya lain lagi. Namun, setelah menamatkannya, saya baru menyadari bahwa konteks mencuci piring alih-alih aktivitas yang beliau lakukan untuk menyikapi duka, melainkan cara beliau menganalogikan duka itu sendiri. 


Saya salut dengan cara Pak Dokter yang mengisahkan dan membagi pengalaman dukanya. Bagi saya yang jarang membaca nonfiksi, buku ini menginspiratif dan … sticky notes-nya banyak banget.


Bagi sebagian orang, berduka kerap menjadi hal terberat yang mungkin dialami dan harus dijalani. Bahkan tiap-tiap dari manusia cepat atau lambat pasti akan mengalami momen berdukanya masing-masing. Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring (selanjutnya saya tulis SPYMDDMP) merupakan buku yang memberikan pandangan sekaligus menggugah perasaan tentang cara menjalani duka, entah karena kehilangan orang terkasih; karena binatang kesayangan meninggal; patah hati; dikecewakan; dll. 


SPYMDDMP mengajak pembacanya untuk berkenalan dengan duka, bagaimana duka itu hadir, disembuhkan, dinikmati, hingga dirawat. Buku ini mengajarkan untuk menjalani duka, berdamai dengan duka, menerima duka, menyikapi duka. Tentunya cara penerimaan dan menyikapi duka antara satu orang dan orang lainnya belum tentu sama. Yang terpenting kita tidak perlu membanding-bandingkan duka yang dialami dan dirasakan.


Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman kehilangan (ayah dan anak terkasih) yang dialami sendiri oleh dr. Andreas, seorang dokter spesialis kejiwaan atau psikiater, bisa jadi memiliki “rasa” yang sama dengan pembacanya. Beliau membagikan pengalaman berdukanya, masa-masa terpuruknya, hingga kemudian perlahan-lahan bangkit melalui konsep mindfulness: mencuci piring.


Menggunakan pendekatan mencuci piring, berduka diibaratkan piring kotor yang jika dibiarkan terlalu lama bakal terus menumpuk dan akan terasa berat untuk membereskannya. Dokter Andreas memberikan gambaran urutan mencuci piring sebagai langkah-langkah dirinya menyadari duka, menerima duka tersebut, dan menempatkannya di tempat yang tepat.


Buku ini terbagi ke dalam enam belas bab pendek yang menghangatkan hati. Meskipun penulisnya seorang psikiater, tetapi tulisan-tulisannya jauh dari istilah-istilah kedokteran. Cenderung menceritakan pengalamannya saat kehilangan orang terkasih sampai bisa melewati masa-masa sulit dan beraktivitas kembali. Tidak ada tip dan trik jitu atau khusus, melainkan mampu memotivasi pembaca agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan sebab kita pun berhak bahagia dan masih memiliki kegiatan yang harus dijalani di dunia.


Setidaknya melalui buku ini pembaca tidak sekadar menyelami perasaan dr. Andreas kala kehilangan ayah dan putranya, melainkan juga mengajak pembaca untuk merefleksi jauh ke dalam diri perihal kedukaan itu sendiri: haruskah kita menangis? Berapa lama menyimpan duka? Perlukah melupakan mereka yang telah tiada? 

 

Ditulis dengan bahasa yang ringan sehingga buku ini mudah dipahami. Seperti sedang mendengarkan teman curhat, sungguh. Buku ini penuh dengan pesan-pesan yang menyentuh serta referensi-referensi yang mendukung. Sudah tentu buku ini bisa menjadi “teman baik” bagi mereka yang tengah berduka maupun mereka yang ingin memahami duka orang lain.


Tertarik baca?


•••


Kutipannya:

Duka bisa terjadi ketika kita meletakkan sesuatu dalam hati kita dan semesta mencabut paksa hal itu, meninggalkan kehampaan dalam hati kita. (Hal. xv)


Apakah ada yang disebut “saat yang tepat untuk pergi?” Bukankah sampai kapan pun, tidak akan pernah ada saat yang kita anggap tepat? (Hal. 3)


Ada dua aturan yang akan kami tekankan: Pertama, jangan membandingkan duka satu orang dengan orang lain. Kedua, jangan ajari orang cara berduka. (Hal. 4)


Jadi, sebenarnya rasa sedih dan senang itu sama-sama normal dan wajar, sayangnya rasa sedih kurang populer saja. Kita sebagai manusia lebih mengidolakan rasa senang dibandingkan saudaranya, rasa sedih. (Hal. 20)


Ketika menghadapi duka, kita perlu mengalirkan pikiran melewati hati kita yang terluka. (Hal. 39)


Apa yang menjadi “sabun” dalam hidup kita? Bisa jadi ini adalah doa, penerimaan, rasa syukur, penghiburan teman, atau hal lain yang membuat hatimu terasa hangat. (Hal. 44)


Duka adalah perasaan manusia yang ngotot ingin tetap menjaga cinta tersebut, jauh setelah orang yang dicintai sudah tidak lagi di muka bumi. (Hal. 57)


Menerima kesedihan sebagai bagian yang wajar dalam hidup adalah cara kita untuk melangkah maju. (Hal. 77)


Duka tetap adalah sesuatu yang normal. Duka adalah sisi lain dari cinta, dan mereka berada dalam satu koin. (Hal. 123)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts