The Count of Monte Cristo: Seni Membalas Dendam

Januari 16, 2025


Ena Moriyama menghidupkan kembali karya agung Alexandre Dumas ke dalam bahasa visual yang tajam, menangkap setiap percik amarah dan kesabaran Edmond Dantès yang perlahan menanggalkan nuraninya demi menjadi tangan kanan takdir untuk membalas dendam.

•••

Identitas buku:

Judul: The Count of Monte Cristo

Cerita asli: Alexandre Dumas

Alihwahana: Ena Moriyama

Penerbit: Akasha (m&c!)

Tahun: 2024

Jumlah: 280 halaman 

ISBN: 9786230312069

Kategori: komik, one shoot, klasik, balas dendam, petualangan, aksi.

Status: tamat


•••


Blurbnya:

Marseille, Prancis 1815.


Edmond Dantès, seorang pemuda yang memiliki masa depan menjanjikan; ditunjuk sebagai kapten kapal di usia muda dan baru saja akan melangsungkan pernikahan dengan tunangannya, tiba-tiba dijebloskan ke penjara "Château d'If" atas kejahatan yang tidak dilakukannya.


Selama masa hukumannya yang panjang, dia menemukan fakta tentang pengkhianatan yang tak termaafkan.


Dengan mempertaruhkan sisa hidupnya, kisah balas dendamnya demi menebus hari-hari yang terbuang sia-sia tanpa keadilan, kini dimulai.


•••

Resensinya:

Barangkali teman-teman pernah mendengar atau melihat atau membaca karya klasik penulis asal Prancis, Alexandre Dumas yang salah dua karyanya populer yakni Three Musketeer dan The Count of Monte Cristo. Nah, untuk buku keduanya ini, Ena Moriyama sensei mengadaptasi novel tersebut dan mengalihwahanakannya menjadi komik dan m&c! (melalui lini Akasha) menerbitkannya di Indonesia.


Terus terang saya senang sewaktu membaca komik ini. Secara produk, komik ini bagus sekali. Menggunakan latar abad 19 di Prancis gambar yang disuguhkan, baik dari pakaian, tempat, pernak-pernik rumah, perhiasan, dll. sangat detail sekali dan memanjakan mata. Cakep dan indah. 


Lanjut ke resensinya. Saya disclaimer terlebih dahulu bahwa saya belum pernah membaca novelnya. Jadi The Count of Monte Cristo ini merupakan karya pertama Dumas yang saya baca melalui media komik.


The Count Monte Cristo merupakan komik yang berkutat pada pembalasan dendam akibat kebebasan yang terenggut karena pengkhianatan. 


Menggunakan latar abad ke-19, tepatnya tatkala akhir zaman Napoleon dibuang ke Pulau Elba, pembaca akan mendapati serunya aksi petualangan Edmond Dantès/Monte Cristo dalam menggilas mereka-mereka yang menjebloskannya ke penjara. Dumas mengisahkan bagaimana Dantès dengan sabar menunggu sambil mematangkan rencana-rencananya hingga berhasil membalaskan sakit hati meski itu sampai puluhan tahun lamanya.


Dalam komik ini, pembaca bakal mengetahui bagaimana Dantès, yang telah berganti nama menjadi Count of Monte Cristo, dengan cepat menanamkan pengaruhnya ke pergaulan bangsawan Paris, termasuk ke musuh-musuhnya. Alih-alih curiga, dengan kecerdikan, keramahan, dan sejumlah tipu muslihat membuat Monte Cristo kian dikagumi oleh orang-orang.


Dalam komik ini, Ena Moriyama mampu menggambarkan tragedi yang dialami para tokoh-tokohnya sekaligus kesuksesan Monte Cristo saat beraksi menuntut balas dengan baik. Pergulatan batin yang dialami sejumlah tokoh pun terekam apik melalui ekspresi karakternya, sampai-sampai saya ikutan gemas lagi geregetan dengan adegan-adegannya. Rasanya ikut senang ketika Monte Cristo sukses menumbangkan musuh-musuhnya dengan cara menjatuhkan kehormatan sang lawan. Jangan lupa latar buku ini masih abad-19 dan dalam pergaulan sosial Eropa, kala itu, kehormatan jauh lebih penting ketimbang apa pun. Makanya tatkala skandal terungkap, malunya setengah mati. Dan hal tersebutlah yang digunakan Monte Cristo: mencari dosa masa lalu mereka yang mengkhianatinya, meramunya, menata alurnya, menggulirkan skandal, dan … sukses. Hebatnya lagi, Monte Cristo lebih banyak berperan sebagai pemimpin orkestra balas dendam, sementara pemainnya adalah mereka-mereka yang terlibat dalam dosa yang dilakukan para pengkhianat.


Melalui The Count of Monte Cristo, pastinya Dumas tidak mengajarkan para pembaca untuk ikut-ikutan balas dendam walaupun memiliki sumber daya yang memadai, melainkan ingin menyampaikan jika kita bakalan memetik apa yang telah kita tanam. Kebaikan berbalas kebaikan, kejahatan dibalas kejahatan. Rumus kehidupan lainnya yakni perihal tekad atau kemauan dalam menjalani hidup meski pahit sekalipun. Di mana ada tekad, di situ ada jalan.


Meski balas dendam Dantès menjadi penggerak utama cerita, Dumas tidak ketinggalan untuk memberikan sentuhan kebaikan dalam diri Monte Cristo melalui beragam cara, terutama untuk mereka yang pernah berbuat baik kepadanya.


Nah, seperti yang saya kemukakan di awal jika saya belum pernah membaca novelnya, maka ketika saya menamatkan komik ini saya memang menikmatinya, benar, tetapi ada hal-hal yang menjadi catatan saya yakni tokohnya yang sangat banyak-banyak-banyak-nyak. Belum lagi nama-namanya yang sangat Prancis sekali jadi ada kemungkinan rawan lupa antara satu nama dengan wajah yang lain. Selanjutnya ceritanya sangat bergerak cepat. Benar-benar tanpa ba-bi-bu alias sat-set sehingga ada kemungkinan pembaca di tengah-tengan bakal bertanya kok tiba-tiba begini, kok tahu-tahu begitu, kok ujug-ujug ceritanya … ya, karena novel dialihwanahanakan menjadi komik, maka jelas berbeda. Ini komik, dan komik pasti memiliki keterbatasan jumlah halaman dan penuh dengan ilustrasi sehingga banyak halaman yang terpangkas untuk mendesain gambarnya. Toh, garis besar kisah Dantès dari awal kemudian masuk ke penjara lalu berubah nama jadi Monte Cristo dan menjalankan balas dendam masih utuh dan tetap tersampaikan.


Mengesampingkan apa yang menjadi kekurangan buku ini (tokoh yang banyak dan cerita yang terkesan buru-buru serta tiba-tiba), komik ini tetap menjadi cara yang asyik untuk membaca kisah klasik dalam dimensi yang berbeda dan menjadi pilihan bagus untuk sekilas mengetahui cerita aslinya yang dalam novel hingga ratusan halaman (terjemahan Indonesia) atau ribuan halaman (asli cetakan luar negeri). Menyingkat waktu, bukan?


Buat pencinta sastra klasik, komik ini sayang untuk dilewatkan sebab selain membaca dengan sarana yang berbeda, visualnya sangat-sangat menarik dan memanjakan mata. Nah, kalau untuk penggemar komik saya rasa tidak perlu saya katakan, wajib koleksi pastinya. Namun, cocok untuk dewasa sebab ada sejumlah adegan kekerasan bahkan kematian.


Tertarik baca?


•••


Kutipannya:

Aku hanya berpegang pada kepercayaan bahwa orang yang tak bersalah patut mendapatkan kebebasan. Namun, Tuhan … sepertinya tidak menghendakinya seperti itu. (Pastor Faria)


Kau pasti tumbuh besar di lingkungan yang baik dan bahagia sehingga tak terbiasa mencurigai orang. Namun, tak semua yang terlihat baik, mencerminkan jati diri mereka yang asli. Pasti ada orang yang iri dengki pada orang lain. Apalagi jika orang yang beruntung itu seperti merenggut sesuatu yang mereka damba-dambakan. (Pastor Faria)


Latihlah fisik dan pikiranmu. Namun, jangan terburu-buru, lakukan pelan-pelan. Tunggu kesempatanmu. Jika kesempatan itu tiba, gunakan sebaik mungkin. … yang terpenting adalah menunggu dengan sabar dan jangan pernah putus harapan. (Pastor Faria)


Anak-anak tak seharusnya bertanggung jawab atas dosa orangtuanya. (Edmond Dantès/Count Monte Cristo)


Ada kalanya kebahagiaan itu bisa diraih ketika kita mampu sabar dan bertahan di tengah kesulitan dan penderitaan. Jadi jangan berhenti berharap. (Edmond Dantès/Count Monte Cristo)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts