Girls’ Last Tour
Maret 31, 2025Sepenggal kehidupan pasca-apokaliptik
•••
Identitas buku:
Judul: Girls’ Last Tour
Penulis: Tsukumizu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2024
Jumlah: 160 halaman
ISBN: 9786230061097
Kategori: Fiksi, komik, apokaliptik
•••
Blurbnya:
Chito dan Yuri terselamatkan dari kehancuran dunia yang telah terjadi. Dengan menaiki kendaraan kesayangan mereka, Kettenkrad atau SdKfz 2 mereka mengelilingi dunia yang telah hancur tanpa ada tujuan yang pasti. ‘Keseharian’ seperti apakah yang menanti mereka? Ini adalah ranah baru dari kisah keseharian yang dilahirkan oleh pengarang baru yang spesial.
•••
Garis besarnya:
Berlatar dunia pasca-apokaliptik, Chito dan Yuri mengembara menjelajahi reruntuhan dunia menggunakan Kettenkrad tanpa tujuan. Keduanya mencari makan, bahan bakar, dan tempat berlindung untuk perjalanan mereka.
•••
Resensinya:
Ngomong-ngomong, bagaimana caramu memandang masa depan jika kamu sendirian berada pada akhir dunia. Optimis atau pesimis?
Tatkala dunia kita berakhir–bukan musnah, ya–perjalanan mereka baru dimulai. Begitulah kisah Girls’ Last Tour bergulir, mengikuti dua gadis bepergian (atau berkeliaran?) , mengendarai kendaraan tua: setengah truk mini–setengah roda rantai yang pernah diproduksi di Jerman tahun 1939, menyaksikan dunia yang terbengkalai, dunia tanpa ada harapan, dan sejauh mereka pergi meninggalkan satu lokasi ke lokasi berikutnya, tetap saja yang terhampar reruntuhan peradaban.
Sedari awal, Tsukumizu tidak memberikan banyak informasi perihal apa yang terjadi pada dunia, ke mana para manusia lainnya, dari mana gadis-gadis ini berasal, siapa mereka, bagaimana bisa mereka menjadi penyintas, hanya berdua pula.
Nampaknya, Tsukumizu enggan menjabarkan sebab musababnya, tetapi lebih mengisahkan perjalanan tanpa banyak tujuan dan bagaimana kedua tokoh utama ini terus bertahan hidup, tetap gigih, bersemangat untuk terus bergerak maju dalam petualangannya berada pada dunia yang seluruhnya monoton, sunyi, dan nampak tidak berarti.
Sepanjang halaman, pembaca bakal mendapati sekalipun kehidupan nampak suram dan mengerikan, alih-alih merasa cemas apalagi stres, keduanya mampu menemukan cara untuk bersenang-senang dan membuat suasananya riang: merasakan kehangatan matahari, menghabiskan sup, berburu suku cadang, “memperebutkan” ransum, mandi air panas, mencuci baju, makan ikan, dll.
Dua hal bertentangan itulah yang membuat cerita komik ini menarik. Tsukumizu mampu menghadirkan garis-garis kasar bangunan-bangunan terbengkalai dan ruang-ruang industri besar yang berkebalikan dengan keimutan tokoh-tokohnya–meski sebenarnya keduanya pun memiliki karakter bertolak belakang, tetapi saling melengkapi. Menyedihkan dan menggemaskan pada saat bersamaan. Di satu sisi sangat berbenturan, tetapi di sisi lain tidak terasa janggal atau aneh.
Tsukumizu seolah ingin menyampaikan bahwa meski dunia menawarkan ketiadaan lagi kehampaan, masih ada sesuatu yang bisa dijalani. Buku ini juga mampu mengajak pembaca agar menghargai hal-hal kecil yang kerap kita remehkan atau abaikan atau kita anggap biasa saja dalam hidup.
Chito dan Yuri pun kerap memunculkan pertanyaan dan pernyataan filosofis sederhana di sepanjang perjalanan dan percakapan mereka. Pada volume pertama ini, keduanya menjelajahi daerah yang banyak senjata perang berserakan, kota-kota ditimpa kehancuran. Memberikan refleksi tidak sekadar keputusasaan, melainkan juga ancaman kerusakan kehidupan di masa depan jika peperangan terus berkelanjutan. Menyedihkan, lho.
Plot cerita pada buku pertama sejauh ini masih sederhana, sangat santai. Tsukumizu lebih banyak membawa pembaca untuk berkenalan dengan dua karakter utamanya menjelajahi kota dengan semangat menggelegak pada wajah mereka, meminta pembaca mengikuti keduanya, dan memancing harapan siapa tahu akan bertemu dengan seseorang lainnya. Sudah itu saja. Pokoknya ikuti saja perjalanan mereka dan jangan berharap akan ada adegan yang gimana-gimana. Jadi bagi penggemar cerita aksi maupun bertempo cepat, mungkin cenderung bosan atau tidak sabar sewaktu membacanya.
Komik ini bisa habis dalam sekali duduk dan dinikmati mulai usia remaja.
Tertarik baca?
•••
Kutipannya:
Di sini bagaikan kuburan senjata, ya. Artinya orang-orang dulu juga kekurangan makanan, ya. Tapi, kenapa mereka malah terus menerus membuat senjata, sih? Kalau saja mereka membuat banyak makanan kalengan bukan senjata, kita pasti bisa lebih enak sekarang. (Yuri) (Hal. 29)
Perang itu pasti saling bunuh membunuh, kan? Mengapa mereka melakukan itu, ya. (Yuri)
Mana aku tahu … mungkin saja karena untung rugi kedua belah pihak tidak setara. (Chito) (Hal. 31-32)
Catatan justru sangat dibutuhkan oleh orang pelupa sepertimu. Karena ingatan kita mudah memudar, kita menuliskan semuanya. (Chito) (Hal. 64)
Kau tahu kenapa manusia itu hidup? Kita itu terus berkeliling dunia untuk mencari makanan seperti ini, kan? Saat menemukannya kita tambahkan pada bahan makanan kita. Lalu, kembali berkeliling. Makanya aku jadi penasaran, apa yang menanti kita di ujung perjalanan nanti. (Chito) (Hal. 97-98)
Kalian sendiri juga punya, kan? Hal yang berharga untuk kalian. (Kanazawa) (Hal. 127)

0 Comments