Ikhtiar yang Tak Benar-Benar: Tentang Penundaan dan Alasan-Alasan yang Dipelihara
Februari 16, 2026
•••
Identitas buku:
Judul: Ikhtiar yang Tak Benar-Benar
Penulis: Nukila Amal
Penerbit: KPG
Tahun: 2025
Jumlah: 232 halaman
ISBN: 978-623-134-434-2
Kategori: Novel, fiksi, Buku Pilihan Tempo 2025 Kategori Prosa
•••
Blurbnya:
Di dalam sana, ruang mengambangkan nafas sang maharaja yang bertelekan dan geraklakunya lamban: Juna, rajadiraja segala rajatunda. Dialah sang raja kelembaman, raja perfeksionis pesimistis, raja pelindung kukang Jawa dan segala fauna lamban, juga fauna dalam inersia dan hibernasi. Sedangkan singa, macan tutul, burung alap-alap, dan segala elang—segenap hewan yang bergerak gesit dan penuh laga—niscaya mati dan punah tanpa ampun di sana. Tidak ada tempat lain yang lebih terjanjikan dengan banyak kemungkinan dan capaian. Tetapi di ruang itu semua gerak-gerik, tindakan, dan kejadian berlangsung lama seperti adegan slow-motion di film-film. Niatan tebersit tibatiba secara impulsif, gagasan berlimpah-ruah seperti letus kembang api warna-warni di langit malam benaknya. Segala sesuatu selalu dilatari pemikiran pelik, rencana rumit.
•••
Garis besarnya:
Mengisahkan Juna, sosok perfeksionis lagi pesimistis, yang memiliki gagasan/ide melimpah dalam kepalanya, tetapi tidak pernah berikhtiar benar-benar dalam upayanya melahirkan karya (novel) hingga dijuluki “Rajadiraja Segala Rajatunda”. Kebiasaannya menunda dengan berbagai alasan membuat Kinan (Kin–istrinya) kesal bukan main. Kin memutuskan pulang ke rumah orangtuanya dan mengajukan cerai ketika Juna menyusulnya.
Kisah keduanya bergulir serupa fragmen yang melibatkan pihak lain di keluarga Kin, tidak hanya perkara menulis, melainkan hingga persoalan anak, kerapuhan komunikasi, hingga cara berbahasa.
•••
Resensinya:
Kali pertama saya membaca karya Nukila Amal. Buku ini saya peroleh dari seorang kawan bincang BISTIK, Kak Sepri. Saya mendapatkan Ikhtiar yang Tak Benar-Benar (selanjutnya ditulis Ikhtiar) meraih predikat Buku Pilihan Tempo 2025 untuk Kategori Prosa.
Ikhtiar menyuguhkan satire tajam atas kebiasaan menunda, sesuatu yang dilakukan hampir banyak orang dalam konteks apa pun, termasuk kepenulisan. Melalui Juna, pembaca bakal menemukan bagaimana creative block tidaklah menjadi hambatan teknis bagi seorang pekerja seni semata, melainkan ragam pembenaran yang dibuat sedemikian rupa demi menghindari eksekusi.
Selain itu, novel ini turut membawa isu domestik yang konfliknya dialami "sejuta umat" dalam sebuah institusi pernikahan: kecemasan akan peran, ekspektasi yang belum atau tidak bertemu, hingga kebiasaan menilai pasangan berdasarkan standar kebenaran subjektif masing-masing. Komunikasi yang dilakukan pasangan suami-istri di dalamnya hanya mengandalkan asumsi tanpa konfirmasi; sebuah kondisi yang menjauhkan mereka dari upaya saling memahami.
Lebih jauh, novel ini menghadirkan pengalaman berbahasa yang beragam serta benturan-benturannya melalui teknik polifonik. Nukila mencoba menangkap gaya bahasa tiap tokohnya: ada Oma yang gemar menyelipkan kosakata kolonial, Kin si Milenial, Juna yang sangat patuh pada koridor KBBI dan PUEBI, hingga Alia yang mewakili kegemaran Gen-Z mencampurkan bahasa Inggris sebagai bahasa teknologi dalam percakapan sehari-hari.
Namun, upaya polifonik ini justru berpotensi merepotkan karena nada bicara keempat tokoh pada awal transisi POV cenderung serupa. Pembaca perlu "bekerja keras" dan menggunakan waktu ekstra hanya untuk menebak serta mengidentifikasi siapa yang tengah bersuara.
Kekurangan yang paling terasa terletak pada struktur penceritaan yang tidak solid. Untuk sebuah novel dengan narasi lincah, diksi lugas lagi kaya, dan isu yang cukup menarik, plotnya justru terasa fragmentaris layaknya kumpulan cerpen yang tidak benar-benar utuh menjalin satu narasi besar. Makin ke belakang, cerita seolah kehilangan fokus hingga berakhir dengan resolusi hambar.
Pada akhirnya, buku ini memang indah secara tutur dan rima, tetapi secara penceritaan terasa biasa saja. Persis seperti judulnya sendiri: sebuah ikhtiar yang (memang) tidak benar-benar; sebuah eksperimental.
Bagi pembaca yang ingin melepas rindu dengan karya Nukila Amal, ingin memperkaya khazanah kosakata, atau sekadar mencari bacaan menghibur tanpa konflik yang rumit, Ikhtiar sayang untuk dilewatkan.
Melihat sosok Juna, muncul rasa penasaran: apa alasan paling masuk akal yang pernah kamu gunakan untuk menunda sebuah pekerjaan?
Dan bicara soal selera, mana yang lebih dipilih: buku dengan plot yang solid, tetapi bahasanya biasa saja; atau buku dengan diksi yang sangat indah, tetapi ceritanya terasa tidak utuh?
•••
Kutipannya:
Amarah, cara tibanya mungkin seperti langit sore berawan warna-warna yang menjelma awan kelabu berat, tanpa isyarat berubah cepat jadi langit berhujan geledek berdentam, kilat menyambar-nyambar…. (Hal. 10)
Pengetahuan baru, remeh atau tidak, bukankah selalu menyenangkan bagi orang-orang yang penuh rasa ingin tahu? (Hal. 18)
Sering kurenungkan, kenapa banyak sekali urusan hidup di dunia ini yang diada-adakan untuk menyita pikiran, energi, dan waktu seorang manusia. Maka termaafkan jika aku serba defisit energi untuk dapat memikirkan hal-hal di sekitarku…. (Hal. 30)
Di balik kemarahan sesungguhnya ada ketakutan, kecemasan. Semua orang begitu. Telusuri, cari tahu apa kecemasannya. Kamu akan tahu harus berbuat apa. (Hal. 38)
Jangan pernah tidur dengan rasa marah, dengan ketidakbaikan. Kita mesti berhati–hati, berbaik hati satu sama lain, saling menjaga hati. (Hal. 63)
Nasihat bukanlah sesuatu untuk dijawab. (Hal. 63)
Dalam hidup kita menambahkan tujuan-tujuan baru, cita-cita, mimpi, keinginan baru, begitu seterusnya. Sampai sebanyak apa? Sampai kapan, sampai kehabisan? Mau sampai sebahagia apa? Sekecewa apa? Mau sampai sesukses, segagal bagaimana? Bukankah hidup sungguh melelahkan jika terus bikin tujuan-tujuan tanpa henti? Kekecewaan, kebahagiaan, berulang bertubi-tubi, apa bedanya? Jangan-jangan kita hanya sedang sok sibuk saja menghabiskan waktu, membuang waktu menunggu maut. (Hal. 102)
Sepi yang masih ada, akan selalu ada. Sepi yang tidak apa-apa. Aku semakin terbiasa. (Hal. 112)
Kenapa, bagaimana, benda-benda dapat mengingatkan, membawa masa lalu. Tidakkan masa kini cukup? Apakah karena masa depan terlalu sedikit untuk dibayangkan? Masa depan akan terlalu pendek, terlalu cepat, tidak berambah panjang seperti masa lalu. (Hal. 112)
Dan yang lebih tidak logis lagi, kupikir aku punya waktu. Banyak waktu. Padahal waktuku tak menentu. (Hal. 162)
Bagaimana seseorang bisa meneruskan hidup beraksi ini-itu, melewati satu hari, sembari tahu setiap hari kian mendekatkannya pada maut? Pada ujung yang telak itu? Betapa tidak mudah. (Hal. 162)
Arloji manusia berbeda dengan arloji Tuhan. Manusia menyetel arloji, Tuhan tertawa menyetel waktu. (Hal. 164)
Menunda adalah salah satu cara untuk tidak mengkonfrontasi berbagai keterbatasan dirimu dan kecewa olehnya. Sebab kau tahu itulah saat keterbatasan dirimu berhadap-hadapan dengan ketidakterbatasan/ketidakberhinggaan benakmu. (Hal. 196)
.png)
0 Comments